Michael akhirnya merasa benar-benar plong. Beban berat yang selama ini dipikul oleh pundaknya, seolah menguap bersama udara katedral yang dingin. Setelah katedral itu kosong, ia melangkah turun dari altar dengan kepala tegak, menapaki karpet merah panjang yang kini tak lagi terasa seperti jalan menuju eksekusi. Di bawah kakinya, ratusan tangkai mawar putih segar yang tadinya tertata rapi kini berserakan, terinjak-injak menjadi saksi bisu sebuah pemberontakan yang nekat.Begitu ia meloloskan diri dari keriuhan katedral dan masuk ke dalam mobil mewah yang sudah menunggu di lobi, sebuah sindiran keras langsung menyambutnya. Raid, asisten pribadinya yang cerdik, rupanya sudah kembali ke posisinya di balik kemudi. “Anda keren sekali, Bos. Begitu baru namanya CEO yang berkuasa, bukan tunduk saja di dalam sangkar ibunya,” ujar Raid dengan nada jenaka namun menusuk.Michael menyandarkan punggungnya ke jok kulit, napasnya masih menderu ketika i
Last Updated : 2026-02-15 Read more