"Aria udah siuman, kan?" tanya Revan begitu panggilan mereka tersambung."Iya, dia udah siuman.""Syukur kalau gitu!" Revan mengembuskan napas lega. "Aslinya gue mau nungguin Aria sampai sadar, tapi gue masih harus ngajar. Rencana awalnya gue mau nganter Aria ke tempat lo aja tadi. Malah jadinya kayak gini.""Hmm," gumam Rexan, sama sekali tidak bersemangat."Lo nggak apa-apa?" Revan sepertinya menyadari ada yang berbeda dari kembarannya. "Ada masalah?"Rexan tersenyum masam. "Dikit.""Ada apa?" tanya Revan serius.Rexan langsung teringat ucapan Alicia sebelum pergi meninggalkan ruangannya. "Ini hanya saran saya, tapi jangan mengungkit soal visum dan bully di depan Aria untuk sementara waktu, karena otaknya masih belum mampu menerima beban seberat itu."Rexan mengembuskan napas kasar. "Untuk sementara waktu, jangan dekati Aria dulu.""Hah?""Jangan bahas soal bully, visum, dan lain-lainnya," lanjut Rexan, sekali lagi mengembuskan napas berat."Kenapa? Lo tahu pasti, gue butuh bukti it
Baca selengkapnya