LOGIN"Kak, jangan kayak gini, ini sakit!" "Pelan-pelan, Aria, nanti bakal enak, kok, tahan dikit, ya!" *** Aku sedih mengetahui ibuku menikah lagi, tapi itu membuatku memiliki empat kakak tiri yang seksi. Awalnya aku takut dengan mereka, karena mereka terlihat membenciku. Lalu entah kenapa, mereka yang awalnya dingin dan nyaris tidak peduli perlahan menjadi kakak yang posesif tingkat tinggi? Mereka jadi siap melindungiku kapanpun dan di manapun aku, mereka siap menjadi malaikatku!
View MoreCup!
Kecupan itu berhasil menggemparkan seisi kafetaria. Pasalnya yang menjadi sasaran ciuman nyasar itu adalah Killian Elgara, seorang mahasiswa populer yang tidak banyak bicara, tapi sangat disegani oleh mahasiswa lainnya. Sedangkan sang tersangka utama, Aria Valencia, mengedipkan kedua matanya berulang kali. Wajah polos dan tatapan tanpa dosanya membuat mahasiswa lain menatap iba. “Mau sampai kapan lo di sana?” desis Killian. “Eh?” Aria masih mencoba mencerna keadaan. Beberapa saat lalu dia sedang berjalan dengan pelan, takut kalau ada yang tiba-tiba saja menjegal kaki atau mungkin menyiramnya dengan kuah bakso sisa atau es teh Mbak Anisa. Walaupun sudah mengantisipasi, tapi Aria yang cukup ceroboh ini didorong dari belakang oleh orang lain yang membuatnya menabrak tubuh seseorang hingga jatuh. Tak hanya menimpa tubuh orang itu, dia juga tidak sengaja mencium pipinya. Aria menelan ludah susah payah. Dilihatnya laki-laki yang memasang ekspresi masam dengan wajah merah padam menahan marah di bawah tubuhnya. “Mau sampai kapan lo di atas badan gue?” geram Killian yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa kekesalan di hatinya lagi. “E-eh? Maaf, maaf, Kak!” Aria tersentak, wajahnya berubah menjadi pucat, kemudian bangun dengan cepat. “Ahh, maafkan aku! Aku nggak sengaja!” “Gue nggak salah lihat, kan?” Samar, Aria bisa mendengar suara di sekelilingnya. “Tuh cewek barusan nyium Killian, kan?” Wajah Aria semakin pucat pasi mendengar nama itu disebutkan. Killian? Jangan bilang dia … Killian Elgara? Kakak tingkatnya yang sangat populer di fakultas ekonomi dan bisnis. Laki-laki pendiam yang tidak suka berdekatan dengan wanita, tapi ia sangat diidolakan oleh kaum hawa karena ketampanannya. Killian menatapnya tajam. Tidak ada suara, tapi tatap mata hitamnya sanggup membuat Aria merinding ketakutan. “M-maaf, Kak! Aku benar-benar nggak sengaja!” Killian hanya mendesis, tanpa meninggalkan kata apa pun, laki-laki itu memunggungi Aria dan melangkah pergi dari kafetaria. Byur! “Ahh!” Aria mengerjap sembari mengusap wajah yang baru saja disiram oleh air es. Dilihatnya orang yang baru saja menyiramnya …. Claudia Arabella dan dua pengikutnya—Fara dan Mona—sedang menatap Aria sinis. “Awas lo!” desis Claudia, lalu pergi dari sana setelah melempar gelas plastik di tangannya tepat ke wajah Aria. Fara menunjuk matanya dan mata Aria dengan jari telunjuknya secara bergantian. “Tunggu aja tanggal mainnya!” Mona memutar-mutar ponsel di tangannya dengan seringai sinis, isyarat dia menyimpan sesuatu yang bisa digunakan untuk bahan ancaman berikutnya. Fakta itu membuat Aria merenung sepanjang sisa mata kuliah hari itu. Bahkan, ketika dosen memintanya menjawab soal karena dia adalah mahasiswi beasiswa, dia hanya diam saja. Hidupnya selama di kampus sudah cukup berat. Dia selalu menghadapi bully—baik verbal maupun fisik dari mahasiswa lain. Aria tidak begitu tahu apa alasannya. Dia sudah berusaha tampil biasa, bahkan cenderung tak kasat mata agar tidak terlalu menarik perhatian yang ada, tapi masih ada saja masalah yang terus mendatanginya. Aria masih merenung hingga dia pulang dan melihat sosok pria paruh baya berjas rapi dengan rambut klimis sedang duduk di sebelah mamanya. "Aria, kamu sudah pulang, Sayang?" tanya Elvira, mamanya dengan senyum lembut yang sanggup membuat Aria tenang sejenak. Aria mengangguk kemudian menatap pria di samping mamanya. “Dia siapa, Ma?” Elvi menepuk sisi sofa sampingnya yang lain. “Sini, Sayang, duduk dulu!” Aria menurut dan duduk di sebelah mamanya. “Kenalkan Sayang, dia Om Adikara, dia akan menjadi papa kamu mulai hari ini.” Aria mengerjap. “M-maksudnya?” “Mama menikah lagi, Sayang.” “T-tapi, kenapa, Ma? Bukannya Mama pernah bilang, kalau mama tidak akan menikah lagi sampai Aria lulus kuliah?” Elvi tersenyum sendu. “Maafkan Mama, Sayang, tapi Mama rasa, Mama tidak bisa hidup sendiri ….” Omong kosong! Jika memang mamanya tidak bisa hidup sendiri, dia tidak akan menunggu sampai lima tahun untuk menikah lagi! Aria ingin bertanya, tapi dia memilih untuk menelan kembali pertanyaannya. Aria bisa menebak, kenapa Elvi memutuskan untuk mengingkari janjinya pada Aria. Mungkin karena cinta Om Adikara yang sangat besar untuknya atau karena Elvi sudah tidak sanggup membayar hutang piutang yang telah ditinggalkan oleh almarhum papanya. “Aria!” Adikara mengulurkan tangan. “Salam kenal, ya! Om sudah banyak mendengar tentang kamu selama ini. Semoga kita bisa menjadi keluarga yang hangat dan harmonis!” Aria menyambut uluran tangan itu dengan ragu dan langsung melepaskannya dengan cepat. Raut wajahnya terlihat takut, tapi Adikara sama sekali tidak tersinggung. Elvi sudah mengatakan alasannya. “Sekarang kamu berkemas, ya! Kita akan langsung pindah, karena mulai sekarang, kita akan tinggal bersama di rumah Om!” Aria mengerjap pelan. Tiba-tiba sekali. Apa ini tidak ada masa orientasi dulu? Dia langsung pindah rumah, gitu? Aria menatap mamanya. “Biar Mama bantu.” Elvi berdiri, kemudian pergi ke kamar Aria yang mengikuti langkahnya dari belakang. “Ma ….” Aria memilin ujung bajunya dan terlihat ragu sejenak. “Apa Mama yakin menikah dengan Om Adikara?” Aria tahu, mamanya masih menyimpan trauma atas semua kejahatan papa pada mereka dulu. Itu mengapa dia memilih menjanda setelah suaminya meninggal dunia. “Keputusan Mama sudah bulat, Sayang.” Elvi tersenyum, tapi kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya. Aria bisa melihat gelagat anehnya dan dia pun dapat menerka alasan sebenarnya di balik keputusan mamanya. “Apa Om Adikara orang yang baik?” “Dia sangat baik, Sayang. Dia sangat-sangat baik. Dia juga punya empat anak laki-laki. Mereka akan menjadi saudara yang menyayangimu dengan sepenuh hati!” “Benarkah itu, Ma?” “Tentu saja, Sayang!” Elvi menjawab dengan nada positif. “Apa kamu keberatan dengan Om Adikara?” Aria menggeleng. “Tidak.” Selama mamanya bahagia, dia tidak akan menuntut apa pun lagi darinya. Setelah berkemas, mereka pun pindah ke kediaman keluarga Putra di hari itu juga. Sebuah kediaman besar dengan bangunan mewah dan halaman luas yang berhasil membuat Aria terpana begitu tiba di sana. “Ma, apa kita benar-benar akan tinggal di rumah sebesar ini? Rumah ini bahkan jauh lebih besar dan lebih luas dari rumah lama kita dulu, Ma.” Sejenak Elvi merasa wajahnya memanas mendengar ucapan putrinya. Sedangkan Adikara tertawa. “Tentu saja Aria! Mulai hari ini, kamu akan tinggal di sini dan rumah ini akan menjadi rumahmu juga.” “Beneran, Om?” “Tentu saja!” Adikara mengangguk. “Bukan hanya itu saja, kamu akan punya empat kakak laki-laki yang tampan dan sangat bisa diandalkan.” Adikara membelai puncak kepala Aria dengan lembut. “Mereka akan melindungimu dan membuatmu melupakan trauma masa lalumu.” Aria tersentak sejenak. Dia tidak menyangka Elvi sampai mengatakan tentang ketakutannya pada Adikara. Jika Elvi sampai memberi tahu masalah sensitif itu pada papa barunya, pasti hubungan mereka berdua sudah sangat dekat sebelumnya. “Terima kasih, Om!” “Tidak perlu berterima kasih untuk keluarga, Sayang! Ayo, Om akan membawamu mengelilingi rumah ini—” Elvi berdeham. “Mas, bukankah kamu sebelumnya berjanji mau menemaniku belanja kebutuhan Aria selama tinggal di sini?” “Oh, iya!” Adikara terkekeh pelan. “Maaf Elvi, aku terlalu senang karena akhirnya bisa memiliki anak perempuan juga setelah sekian lama.” Adikara menatap Aria. “Maaf ya Aria, kamu berkeliling dengan pelayan rumah ini saja.” Aria mengangguk. “Baik, Om! Aku tidak keberatan.” Adikara memanggil pelayan dan mengutusnya untuk mengantar Aria ke salah satu kamar yang ada di lantai dua. Sedangkan Adikara pergi bersama Elvi untuk belanja barang-barang keperluan putri barunya. Aria memasuki kamar barunya dengan tatapan penuh kekaguman. Walau kata pelayan, kamar ini hanya kamar biasa yang jarang digunakan, tapi kamar ini sangat luas. Kasurnya juga empuk saat Aria menjatuhkan tubuh di atasnya. Lampu yang menggantung pun terlihat indah dan mewah. Warna dindingnya yang putih menambah kesan elegan juga. “Kamar mandinya gimana, ya?” Aria yang penasaran pun berdiri. Dia berjalan menuju arah pintu kamar mandi saat pintu kamar mandi tiba-tiba saja terbuka dan sosok pria matang dengan rambut basah juga handuk yang menutup perut sampai paha muncul di sana. Aria mengerjap. Pria itu pun melakukan hal serupa. Mereka sama-sama terdiam hingga handuk yang dipakai pria itu melorot …. “KYAAA!”Sepulang kuliah, Killian langsung mendatangi perusahaan keluarganya. Dia mencari asisten ayahnya yang ditugaskan untuk mengurus uang bulanan Aria. Walaupun dia harus menunggu cukup lama, dia akan tetap melakukannya."Apa maksudmu dengan menahan uang bulanan adikku?" desis Killian, begitu orang yang ditunggunya datang.Orang itu bernama Ikhsan. Dia menelan ludah susah payah melihat Killian ternyata sudah menunggu dengan tenang di ruangannya.Ikhsan tidak menyangka, orang pertama yang akan datang menemuinya untuk protes masalah uang bulanan itu adalah si bungsu Killian Elgara, orang yang paling sulit dihadapi dari keempat keturunan keluarga Putra."Bukankah papa sudah mempercayakan semuanya padamu, tapi kenapa kamu tak melaksanakan tugasmu sebagaimana mestinya, huh?"Tatapan dingin Killian sanggup merasuk hingga ke sum-sum tulangnya. Dia menelan ludah susah payah, kulit wajahnya pucat, keringat dingin pun mulai meluncur mulus menuruni dahinya."Apa kamu berencana menggunakan uang bulana
Aria menoleh saat pintu ruang rawatnya dibuka dan tanpa sadar dia menghela napas lega begitu melihat Rexan berdiri di sana. Sedangkan Rexan yang awalnya masuk dengan senyum menghias wajahnya langsung meringis canggung begitu melihat Alicia yang juga berada di ruangan itu sekarang. Rexan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf, saya akan keluar kalau pembicaraan di antara kalian masih belum selesai." Aria menggelengkan kepalanya panik. Dia berharap Rexan terus berada di sana, karena dengan kehadirannya, Aria bisa menghindari interogasi yang dilakukan Alicia sejak tadi. Sedangkan Alicia hanya memberinya senyuman tipis. Raut wajahnya terlihat tenang dan stabil, tapi tatapan matanya menajam walau tak ada emosi berlebih yang dia tunjukkan. "Tidak perlu keluar Dokter Rexan, pembicaraan kami sudah selesai." Rexan mengembuskan napas lega seraya mengelus dadanya. "Syukurlah kalau saya tidak mengganggu kalian." Rexan benar-benar takut mengganggu Alicia lagi seperti yang sudah
"Aria udah siuman, kan?" tanya Revan begitu panggilan mereka tersambung."Iya, dia udah siuman.""Syukur kalau gitu!" Revan mengembuskan napas lega. "Aslinya gue mau nungguin Aria sampai sadar, tapi gue masih harus ngajar. Rencana awalnya gue mau nganter Aria ke tempat lo aja tadi. Malah jadinya kayak gini.""Hmm," gumam Rexan, sama sekali tidak bersemangat."Lo nggak apa-apa?" Revan sepertinya menyadari ada yang berbeda dari kembarannya. "Ada masalah?"Rexan tersenyum masam. "Dikit.""Ada apa?" tanya Revan serius.Rexan langsung teringat ucapan Alicia sebelum pergi meninggalkan ruangannya. "Ini hanya saran saya, tapi jangan mengungkit soal visum dan bully di depan Aria untuk sementara waktu, karena otaknya masih belum mampu menerima beban seberat itu."Rexan mengembuskan napas kasar. "Untuk sementara waktu, jangan dekati Aria dulu.""Hah?""Jangan bahas soal bully, visum, dan lain-lainnya," lanjut Rexan, sekali lagi mengembuskan napas berat."Kenapa? Lo tahu pasti, gue butuh bukti it
"Maaf, saya tidak tahu kalau ada dokter di sini."Alicia mendengkus pelan. "Walaupun Anda tidak tahu, tapi harusnya Anda masih mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk ke ruangan ini kan, Dokter Rexan?"Rexan hanya bisa menelan ludahnya susah payah. Dia merasa tidak berkutik di depan dokter yang namanya cukup terkenal di kota ini.Nama Alicia Zeallyn memang dikenal sebagai seorang psikiater muda yang berbakat. Reputasinya berasal dari kecerdasan akademisnya yang dibuktikan oleh kemampuan medis, serta dukungan keluarga yang tidak main-main.Walaupun sifatnya tidak terlalu hangat, tapi Alicia memiliki kepribadian yang kuat, tenang, elegan, juga bermartabat.Rexan awalnya ingin meminta Alicia menjadi psikiater Aria karena reputasinya. Namun, setelah berhadapan langsung dengannya, Rexan harus memikirkannya ulang."Maaf, saya terlalu panik tadi sampai tidak menyadari ada dokter yang sedang menangani.""Saya tidak menyangka, orang seperti Dokter Rexan ternyata bisa mendapat serangan panik ju












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews