Langkah Elara melambat. Awalnya ia tidak yakin dengan apa yang dilihatnya. Rumah sakit cukup ramai—orang berlalu-lalang, suara roda ranjang pasien bergesekan dengan lantai, aroma antiseptik yang menusuk, semua bercampur menjadi satu.Namun, di antara keramaian itu, dua sosok itu terlalu mencolok untuk disalahartikan. Elara berdiri beberapa langkah dari mereka. Jarak itu tidak jauh, tapi cukup untuk membuatnya melihat semuanya dengan jelas—tanpa harus didengar.Lucien duduk di samping Nira. Lebih tepatnya—terlalu dekat untuk sekadar “menemani.” Pria itu sedikit membungkuk, berbicara dengan nada yang tidak bisa Elara dengar, tapi dari ekspresinya… Elara tahu. Dan entah kenapa, itu terasa begitu asing.Nira tertawa kecil, menutup mulutnya. Tangannya sempat menyentuh lengan Lucien—dan Lucien tidak menghindar. Tidak menolak. Seolah itu hal yang wajar. Seolah itu… bukan masalah.Dada Elara terasa sesak. Bukan karena demam. Bukan karena lelah. Tapi karena sesuatu yang jauh lebih dalam dari
Read more