Mag-log inSelama lima tahun menikah, aku terus disalahkan karena tak kunjung hamil, tanpa tahu bahwa rahasia sebenarnya justru disembunyikan oleh suamiku sendiri. Suatu hari, aku mengetahui ia sampai menyewa seorang pria asing untuk menghamiliku demi menjaga nama keluarganya. Tapi yang tak pernah kami bayangkan, pria yang datang menjalankan rencana itu ternyata adalah…
view morePagi di Maldives kembali menyambut dengan langit yang biru tanpa cela. Elara terbangun lebih dulu. Hal pertama yang ia lihat adalah cincin yang kini melingkar indah di jari manisnya.Ia masih sulit mempercayai semua yang terjadi semalam. Lamaran Raven terasa begitu sederhana, tetapi juga begitu tulus. Tanpa paksaan. Tanpa sandiwara. Tanpa syarat apa pun. Hanya ada seorang pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Elara tersenyum kecil sambil mengusap cincin itu perlahan.Suara pintu balkon terbuka membuatnya menoleh. Raven baru saja masuk setelah menikmati udara pagi.Pria itu membawa dua cangkir kopi hangat. "Sudah bangun?"Elara mengangguk. "Kupikir hari ini kita langsung pulang."Raven justru tersenyum misterius. "Siapa bilang?"Elara mengernyit. "Bukannya semua urusan sudah selesai?""Belum.""Apa lagi?"Raven meletakkan cangkir di meja. "Lima jam lagi kita punya acara.""Acara apa?""Rahasia."Elara langsung mengembuskan napas panjang. "Kamu selalu seperti ini.""Kalau aku memb
Kasus keluarga Vale telah menjadi pembicaraan di seluruh negeri. Lucien. Kakeknya. Pamannya. Beberapa eksekutif perusahaan. Serta orang-orang yang selama ini membantu menutupi kejahatan mereka.Satu per satu telah mendekam di balik jeruji besi. Seluruh bukti yang Raven kumpulkan selama bertahun-tahun akhirnya berhasil mengungkap semua kebusukan yang selama ini mereka sembunyikan.Bisnis keluarga Vale runtuh. Perusahaan-perusahaan yang dulu begitu disegani kini bangkrut satu demi satu. Investor menarik seluruh modal. Bank membekukan aset. Mitra bisnis memutus kerja sama. Gedung-gedung megah yang dulu menjadi lambang kejayaan keluarga Vale kini berdiri kosong.Nama besar mereka berubah menjadi simbol pengkhianatan. Banyak orang yang dulu takut kepada keluarga itu kini justru berani bersaksi. Mereka menceritakan bagaimana keluarga Vale memanfaatkan kekuasaan untuk menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalan mereka.Dan yang paling membuat masyarakat murka adalah fakta mengenai Celina
Di atas meja, bertumpuk berkas penyelidikan yang selama bertahun-tahun berhasil ia kumpulkan. Foto-foto. Laporan keuangan. Rekaman percakapan. Dokumen kepemilikan perusahaan. Catatan transaksi. Hingga kesaksian beberapa saksi yang akhirnya berani membuka mulut setelah identitas mereka dijamin aman.Jordan berdiri di samping meja sambil membolak-balik salah satu map. "Semua bukti sudah lengkap," ucapnya pelan.Raven mengangguk tanpa mengalihkan pandangan. "Masih ada?"Jordan menghela napas. "Semakin kita menyelidiki, semakin banyak kebusukan keluarga Vale yang keluar."Jawaban itu membuat rahang Raven mengeras. Selama ini ia memang menduga keluarga Vale tidak bersih. Namun, kenyataan yang ditemukan jauh lebih mengerikan daripada dugaan awalnya.Bukan hanya kebakaran sepuluh tahun lalu. Bukan hanya penculikan Celina yang kemudian hidup sebagai Elara. Melainkan jaringan kejahatan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.Jordan mengeluarkan beberapa lembar foto. "Lucien ternyata su
Langit di luar jendela mulai menggelap. Hujan turun tipis membasahi pepohonan di halaman. Suara rintiknya membuat suasana rumah terasa lebih tenang. Namun, tidak dengan isi kepala Elara.Wanita itu duduk di ruang kerja Raven dengan beberapa album foto, berkas lama, dan catatan yang memenuhi meja. Di hadapannya terdapat secangkir teh yang sudah dingin. Tak sekali pun disentuh. Tatapannya terus berpindah dari satu foto ke foto lainnya. Setiap lembar seperti memancing potongan kenangan yang masih berserakan di kepalanya.Raven keluar masuk ruangan sejak sore. Teleponnya nyaris tak berhenti berdering. Jordan sesekali datang membawa map baru. Mereka semua sedang mengejar satu tujuan yang sama. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu.Elara memejamkan mata. Ia memaksa dirinya mengingat. Perlahan. Setahap demi setahap."Rumah sakit," gumamnya pelan.Raven yang sedang menutup map langsung menoleh. "Ada yang kamu ingat?"Elara mengangguk pelan. "Tidak banyak. Tapi aku ingat
“Kak! Kak, bangun!”Suara Dira pecah pertama kali. Gadis itu berlutut di lantai, kedua tangannya gemetar saat mengguncang bahu Elara. Tubuh sang kakak tidak merespons. Tidak bergerak. Tidak memberi tanda apa pun. Dan itu terlalu menakutkan.“Kak, jangan gini!”Nada suaranya melemah. Hampir pecah. A
Elara menatap piringnya dengan senyum miris. Sendok di tangannya bergerak pelan, mengaduk tanpa benar-benar berniat mengambil apa pun. Ia tidak melanjutkan pembicaraan tersebut. Bukan karena tidak ingin tahu. Justru sebaliknya. Ia terlalu ingin tahu. Namun, cara Raven diam—bukan diam biasa—membuatn
Sudah dua hari Elara, Lucien, dan Raven mereka kembali ke Jakarta.Elara berdiri di dekat balkon kamar, memandangi taman luas di halaman belakang. Rumput hijau terpangkas rapi. Bunga-bunga bermekaran seolah tidak pernah terjadi apa pun. Padahal, di kepalanya, semuanya masih berulang.Detik ketika k
“Atau… jangan-jangan kamu yang bermasalah?”Pertanyaan Elara barusan terasa seperti batu yang dilemparkan ke permukaan air yang tenang. Tidak keras. Namun, cukup untuk membuat riaknya menyebar ke mana-mana.Lucien menegang. Sangat jelas. Walaupun hanya sepersekian detik, perubahan pada ekspresi pri






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.