تسجيل الدخولSelama lima tahun menikah, aku terus disalahkan karena tak kunjung hamil, tanpa tahu bahwa rahasia sebenarnya justru disembunyikan oleh suamiku sendiri. Suatu hari, aku mengetahui ia sampai menyewa seorang pria asing untuk menghamiliku demi menjaga nama keluarganya. Tapi yang tak pernah kami bayangkan, pria yang datang menjalankan rencana itu ternyata adalah…
عرض المزيد“Apa?! Kamu mau dia menghamiliku?!”
Suara Elara memecah ruangan seperti petir yang jatuh tepat di tengah rumah. Napasnya tercekat, dadanya naik-turun, matanya terbelalak dengan kemarahan dan keterkejutan yang sama besarnya. Wanita itu berdiri dengan tangan gemetar, gaun rumahannya yang sederhana tampak kusut karena genggamannya yang terlalu kuat. Lucien memejamkan mata sejenak, seolah berusaha menahan marah, lalu membuka kembali dengan wajah datar. Di belakangnya, Raven berdiri bersandar pada dinding, diam, menyaksikan drama itu seperti seseorang yang tidak seharusnya berada di sana tetapi terpaksa. Elara menoleh ke Raven, suaranya pecah, “Pria ini? Lucien, kamu benar-benar sudah gila!” Elara maju selangkah dengan mata melotot. "Lima tahun aku dipandang rendah sebagai wanita mandul oleh keluargamu, dan sekarang kamu malah melempar tubuhku pada pria asing?! Demi Tuhan, ini penghinaan paling rendah, Lucien!" Matanya memerah. Suaranya hampir pecah. “Cukup! Aku tidak akan melakukan kegilaan ini!” Lucien mengusap wajahnya, frustrasi. “Dengar, posisi CEO akan diputuskan kakek tahun ini. Cassian sudah memiliki pewaris, sementara aku tidak punya apa-apa untuk ditunjukkan! Jika aku gagal, kita akan hancur!” “Kita?” Elara memukul dadanya dengan tangan gemetar. “Atau hanya ambisimu?! Aku yang disiksa di sini, aku yang dikorbankan! Seharusnya kamu melindungiku, bukan membuangku pada orang asing!” Kalimat itu menusuk, tapi Lucien hanya menggertakkan gigi. “Jangan egois,” Lucien menekan suaranya. “Hanya satu malam. Lakukan ini demi aku, demi masa depan kita.” Elara terdiam sesaat. Pertanyaan itu menusuk relung hatinya. "Aku sudah memberikan segalanya untukmu, Elara. Semua kebutuhanmu, gaya hidupmu. Sekarang aku hanya meminta satu hal ini sebagai balasan.” “Balasan?” Elara menatap sang suami, suaranya pecah. “Balasan karena membiarkanmu mengabaikanku selama bertahun-tahun? Balasan karena aku harus menunduk di depan ibumu setiap hari? Itu pengorbanan yang kamu maksud?!” Lucien menggebrak meja, keras. “Jangan dramatis!” Elara terlonjak. Raven mengalihkan pandangan, tidak nyaman menyaksikan itu. “Aku tidak akan melakukannya,” tutur Elara lebih pelan, namun lebih tegas. “Detik ini juga, aku menolak. Cari saja wanita lain yang mau kamu jual!” Lucien tertawa sinis. “Kamu pikir kamu punya pilihan? Kakek tidak akan membiarkanku memimpin jika aku tidak punya keturunan kandung secepatnya.” “Itu bukan masalahku!” sentak Elara tajam. “Tapi ini akan menjadi masalahmu jika kamu menolak!” Elara menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku tidak peduli. Aku mencintaimu, tapi aku masih punya harga diri. Aku tidak akan membiarkan pria mana pun menyentuhku kecuali suamiku!” “Mencintaiku? Lalu buktikan!” sembur Lucien dengan suara meninggi. Ekspresi Lucien berubah selama beberapa saat. Pria itu berdeham pelan. “Dengar, aku tidak memintamu menikah lagi. Aku hanya butuh benih pria ini untuk mengamankan posisiku. Ini satu-satunya jalan agar kita tetap di puncak.” Lucien melangkah mendekati Elara. “Dengar, aku tidak punya waktu. Minggu depan rapat keluarga dimulai. Jika kamu tidak hamil dalam bulan ini, semuanya berakhir.” “Maka biarkan berakhir!” gumam Elara getir. “Aku lebih baik miskin daripada kehilangan harga diriku!” Lucien tidak menyangkal. Namun, pria itu tak akan menyerah. Lucien mulai menggunakan kartu yang paling kotor. "Bagaimana dengan adikmu, Elara?" bisik Lucien dingin. "Kamu tahu biaya cuci darah dan perawatan intensifnya tidak murah. Satu tanda tanganku, dan semua bantuan medis itu akan berhenti detik ini juga." Tubuh Elara menegang. Elara menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. “Jangan bawa Dira…” “Tapi ini fakta,” potong Lucien keras. “Tanpa aku, keluargamu tidak akan bertahan satu bulan.” Elara memejamkan mata kuat-kuat, air mata turun tanpa bisa ia tahan. Lucien memperhatikan layar ponsel Elara yang menyala. Sebuah notifikasi muncul dari pihak rumah sakit: [Pembayaran dihentikan sementara.] Elara membeku. Ponsel itu nyaris terlepas dari jemarinya yang mendadak mati rasa. Lucien benar-benar sudah menarik saklar kehidupan adiknya hanya untuk sebuah jabatan. Elara mundur satu langkah. Lalu ia menatap Raven— orang pria asing yang tiba-tiba harus menjadi bagian dari hidupnya dalam cara yang paling hina. Helaan napas berat lolos dari bibir Elara. Ia mengangkat kepala, menatap suaminya dengan sorot pedih. Matanya semakin memerah dan berkaca-kaca. “Baik, aku setuju.” Sudut bibir Lucien perlahan terangkat. Ia menarik Elara ke dalam pelukannya—sebuah dekapan posesif yang terasa seperti lilitan ular bagi Elara. Lucien mengecup keningnya, lama dan penuh kemenangan. “Istri pintar,” bisik Lucien tepat di telinganya. “Kamu tidak tahu betapa berharganya 'investasi' ini untuk masa depanku.” Tanpa memberi Elara kesempatan mundur, Lucien langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan hangat yang justru membuat Elara merasa membeku. Tangannya melingkari pinggang Elara, mengecup puncak kepalanya berkali-kali. Seolah semuanya baik-baik saja. Seolah ia baru saja mendapatkan kabar kelahiran seorang anak, bukan persetujuan Elara untuk melibatkan pria lain. Elara tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku, kedua tangannya menggantung di sisi tubuh. Mata kosongnya menatap dinding, tidak fokus. Setiap kecupan Lucien terasa seperti beban tambahan yang menekan dadanya. Elara merasa dirinya tidak sedang dipeluk suaminya—tapi sedang dipasung oleh kenyataan yang semakin sempit. Raven berdiri tidak jauh dari mereka, wajahnya datar namun matanya sempat melirik Elara. Wanita itu jelas sedang hancur, namun tetap memilih bergeming dalam pelukan pria yang barusan menjual harga dirinya. Tapi Raven tetap diam. Tawaran itu sudah diterima—dan ia punya alasan lain untuk tidak menolak lagi. Lucien akhirnya melepaskan pelukannya, menangkup kedua pipi istrinya. “Kita sarapan dulu sebelum berangkat.” Nada suaranya manis, terlalu manis, bagai gula yang menutupi racun. Elara berkedip sekali. “Tidak perlu… aku ingin sendiri.” Lucien tersenyum tipis namun tampak memaksa. “Sayang—” “Aku ingin sendiri, Lucien.” Kali ini lebih tegas, meski suaranya tetap pelan. Lucien hanya tersenyum tipis, tapi itu tipe senyum yang tidak menerima bantahan. Ia mengusap kepala Elara sekali lagi sebelum naik ke lantai atas untuk bersiap ke kantor. “Oke. Tapi jangan larut dalam pikiran buruk, ya? Ingat, semua ini demi masa depan kita.” Masa depan kita? Elara memalingkan wajah. Ia tidak sanggup mendengarnya. Setelah Lucien naik ke lantai atas untuk bersiap ke kantor, Elara melangkah keluar rumah, berjalan menuju mobil. Napasnya terasa berat—seakan setiap langkah menarik beban yang tak terlihat. Dingin pagi menusuk kulitnya meski matahari sudah bersinar. Atau mungkin itu bukan udara, tapi perasaannya sendiri. Elara membuka pintu mobil, hendak masuk dan menyetir sendiri. Ia butuh ruang. Ia butuh diam. Ia butuh menangis tanpa dilihat siapa pun. Namun baru saja ia meletakkan tas di kursi penumpang, suara berat seseorang terdengar dari belakang. “Biar aku yang mengantar, Nyonya.” Elara menoleh cepat, refleks. Di sana berdiri Raven, bersandar ringan pada kap mobil dengan tangan di saku jeansnya. Wajahnya datar seperti biasa, tapi ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan—tatapan iba yang terbungkus dingin. Itu saja sudah cukup untuk membuat Elara semakin ingin menangis. “Tidak. Pergi. Aku bisa berangkat sendiri.” Nada Elara tajam, jauh lebih tajam dibanding sebelumnya. Raven tidak tersinggung, ia tahu alasan di balik ketus itu. Raven justru membuka pintu depan, hendak masuk ke kursi pengemudi. “Keluar dari mobilku!” suara Elara meninggi. Raven berhenti, menoleh pelan. “Aku tidak di sini untuk menyenangkanmu. Aku hanya menjalankan apa yang diperintahkan.” “Elara?” Suara lain terdengar dari pintu rumah. Lucien kini berdiri di ambang pintu dengan dasi yang belum terikat rapi. Pria itu berjalan cepat ke arah mereka. “Ada apa ini?” “Lucien, suruh dia pergi! Aku tidak mau dia mengikutiku!” Lucien menangkup kedua pipi Elara, tapi cengkeramannya terasa terlalu kuat. “Sayang, Raven hanya menjalankan tugasnya. Kamu harus bersama Raven di mana pun berada, karena kamu harus tetap aman sampai tujuan kita tercapai.” Tubuh Elara bergetar hebat. Kata ‘aman’ dari mulut Lucien lebih terasa seperti ancaman. “Masuklah,” perintah Lucien lembut namun dingin. Ia membukakan pintu untuk istrinya. “Nikmati perjalananmu dengan Raven. Dia pria yang sangat efisien dalam menyelesaikan... segala urusan.” Lucien mengecup pipi Elara sebagai tanda perpisahan, lalu menatap Raven dengan tatapan meremehkan seolah Raven hanyalah alat.Pagi di Maldives kembali menyambut dengan langit yang biru tanpa cela. Elara terbangun lebih dulu. Hal pertama yang ia lihat adalah cincin yang kini melingkar indah di jari manisnya.Ia masih sulit mempercayai semua yang terjadi semalam. Lamaran Raven terasa begitu sederhana, tetapi juga begitu tulus. Tanpa paksaan. Tanpa sandiwara. Tanpa syarat apa pun. Hanya ada seorang pria yang mencintainya dengan sepenuh hati. Elara tersenyum kecil sambil mengusap cincin itu perlahan.Suara pintu balkon terbuka membuatnya menoleh. Raven baru saja masuk setelah menikmati udara pagi.Pria itu membawa dua cangkir kopi hangat. "Sudah bangun?"Elara mengangguk. "Kupikir hari ini kita langsung pulang."Raven justru tersenyum misterius. "Siapa bilang?"Elara mengernyit. "Bukannya semua urusan sudah selesai?""Belum.""Apa lagi?"Raven meletakkan cangkir di meja. "Lima jam lagi kita punya acara.""Acara apa?""Rahasia."Elara langsung mengembuskan napas panjang. "Kamu selalu seperti ini.""Kalau aku memb
Kasus keluarga Vale telah menjadi pembicaraan di seluruh negeri. Lucien. Kakeknya. Pamannya. Beberapa eksekutif perusahaan. Serta orang-orang yang selama ini membantu menutupi kejahatan mereka.Satu per satu telah mendekam di balik jeruji besi. Seluruh bukti yang Raven kumpulkan selama bertahun-tahun akhirnya berhasil mengungkap semua kebusukan yang selama ini mereka sembunyikan.Bisnis keluarga Vale runtuh. Perusahaan-perusahaan yang dulu begitu disegani kini bangkrut satu demi satu. Investor menarik seluruh modal. Bank membekukan aset. Mitra bisnis memutus kerja sama. Gedung-gedung megah yang dulu menjadi lambang kejayaan keluarga Vale kini berdiri kosong.Nama besar mereka berubah menjadi simbol pengkhianatan. Banyak orang yang dulu takut kepada keluarga itu kini justru berani bersaksi. Mereka menceritakan bagaimana keluarga Vale memanfaatkan kekuasaan untuk menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalan mereka.Dan yang paling membuat masyarakat murka adalah fakta mengenai Celina
Di atas meja, bertumpuk berkas penyelidikan yang selama bertahun-tahun berhasil ia kumpulkan. Foto-foto. Laporan keuangan. Rekaman percakapan. Dokumen kepemilikan perusahaan. Catatan transaksi. Hingga kesaksian beberapa saksi yang akhirnya berani membuka mulut setelah identitas mereka dijamin aman.Jordan berdiri di samping meja sambil membolak-balik salah satu map. "Semua bukti sudah lengkap," ucapnya pelan.Raven mengangguk tanpa mengalihkan pandangan. "Masih ada?"Jordan menghela napas. "Semakin kita menyelidiki, semakin banyak kebusukan keluarga Vale yang keluar."Jawaban itu membuat rahang Raven mengeras. Selama ini ia memang menduga keluarga Vale tidak bersih. Namun, kenyataan yang ditemukan jauh lebih mengerikan daripada dugaan awalnya.Bukan hanya kebakaran sepuluh tahun lalu. Bukan hanya penculikan Celina yang kemudian hidup sebagai Elara. Melainkan jaringan kejahatan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun.Jordan mengeluarkan beberapa lembar foto. "Lucien ternyata su
Langit di luar jendela mulai menggelap. Hujan turun tipis membasahi pepohonan di halaman. Suara rintiknya membuat suasana rumah terasa lebih tenang. Namun, tidak dengan isi kepala Elara.Wanita itu duduk di ruang kerja Raven dengan beberapa album foto, berkas lama, dan catatan yang memenuhi meja. Di hadapannya terdapat secangkir teh yang sudah dingin. Tak sekali pun disentuh. Tatapannya terus berpindah dari satu foto ke foto lainnya. Setiap lembar seperti memancing potongan kenangan yang masih berserakan di kepalanya.Raven keluar masuk ruangan sejak sore. Teleponnya nyaris tak berhenti berdering. Jordan sesekali datang membawa map baru. Mereka semua sedang mengejar satu tujuan yang sama. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi sepuluh tahun lalu.Elara memejamkan mata. Ia memaksa dirinya mengingat. Perlahan. Setahap demi setahap."Rumah sakit," gumamnya pelan.Raven yang sedang menutup map langsung menoleh. "Ada yang kamu ingat?"Elara mengangguk pelan. "Tidak banyak. Tapi aku ingat
“Kamu mau ke mana?” Suara itu keluar pelan. Masih serak. Masih dibalut sisa-sisa kantuk yang belum sepenuhnya hilang.Elara bahkan belum benar-benar duduk tegak saat pertanyaan itu terucap. Matanya masih setengah terbuka. Pandangan masih sedikit buram. Namun, sosok di dekat pintu itu cukup jelas un
“Kak! Kak, bangun!”Suara Dira pecah pertama kali. Gadis itu berlutut di lantai, kedua tangannya gemetar saat mengguncang bahu Elara. Tubuh sang kakak tidak merespons. Tidak bergerak. Tidak memberi tanda apa pun. Dan itu terlalu menakutkan.“Kak, jangan gini!”Nada suaranya melemah. Hampir pecah. A
Elara menatap piringnya dengan senyum miris. Sendok di tangannya bergerak pelan, mengaduk tanpa benar-benar berniat mengambil apa pun. Ia tidak melanjutkan pembicaraan tersebut. Bukan karena tidak ingin tahu. Justru sebaliknya. Ia terlalu ingin tahu. Namun, cara Raven diam—bukan diam biasa—membuatn
Elara duduk di tepi ranjang, menatap lantai dengan pandangan kosong. Sisi lain tempat tidur itu sudah kosong. Padahal sekarang masih sangat pagi. Matahari juga belum sepenuhnya keluar dari sarang. Lucien hanya mengatakan singkat bahwa ia ada urusan kantor. Nada suaranya datar, tanpa penjelasan. S












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.