Nyonya Terbuang Dalam Dekapan Penguasa Dunia Bawah

Nyonya Terbuang Dalam Dekapan Penguasa Dunia Bawah

last updateآخر تحديث : 2026-07-12
بواسطة:  Young Ladyمكتمل
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
لا يكفي التصنيفات
118فصول
2.2Kوجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Selama lima tahun menikah, aku terus disalahkan karena tak kunjung hamil, tanpa tahu bahwa rahasia sebenarnya justru disembunyikan oleh suamiku sendiri. Suatu hari, aku mengetahui ia sampai menyewa seorang pria asing untuk menghamiliku demi menjaga nama keluarganya. Tapi yang tak pernah kami bayangkan, pria yang datang menjalankan rencana itu ternyata adalah…

عرض المزيد

الفصل الأول

Pria Bayaran Suamiku

“Apa?! Kamu mau dia menghamiliku?!”

Suara Elara memecah ruangan seperti petir yang jatuh tepat di tengah rumah. Napasnya tercekat, dadanya naik-turun, matanya terbelalak dengan kemarahan dan keterkejutan yang sama besarnya. Wanita itu berdiri dengan tangan gemetar, gaun rumahannya yang sederhana tampak kusut karena genggamannya yang terlalu kuat.

Lucien memejamkan mata sejenak, seolah berusaha menahan marah, lalu membuka kembali dengan wajah datar. Di belakangnya, Raven berdiri bersandar pada dinding, diam, menyaksikan drama itu seperti seseorang yang tidak seharusnya berada di sana tetapi terpaksa.

Elara menoleh ke Raven, suaranya pecah, “Pria ini? Lucien, kamu benar-benar sudah gila!”

Elara maju selangkah dengan mata melotot. "Lima tahun aku dipandang rendah sebagai wanita mandul oleh keluargamu, dan sekarang kamu malah melempar tubuhku pada pria asing?! Demi Tuhan, ini penghinaan paling rendah, Lucien!"

Matanya memerah. Suaranya hampir pecah. “Cukup! Aku tidak akan melakukan kegilaan ini!”

Lucien mengusap wajahnya, frustrasi. “Dengar, posisi CEO akan diputuskan kakek tahun ini. Cassian sudah memiliki pewaris, sementara aku tidak punya apa-apa untuk ditunjukkan! Jika aku gagal, kita akan hancur!”

“Kita?” Elara memukul dadanya dengan tangan gemetar. “Atau hanya ambisimu?! Aku yang disiksa di sini, aku yang dikorbankan! Seharusnya kamu melindungiku, bukan membuangku pada orang asing!”

Kalimat itu menusuk, tapi Lucien hanya menggertakkan gigi.

“Jangan egois,” Lucien menekan suaranya. “Hanya satu malam. Lakukan ini demi aku, demi masa depan kita.”

Elara terdiam sesaat. Pertanyaan itu menusuk relung hatinya.

"Aku sudah memberikan segalanya untukmu, Elara. Semua kebutuhanmu, gaya hidupmu. Sekarang aku hanya meminta satu hal ini sebagai balasan.”

“Balasan?” Elara menatap sang suami, suaranya pecah.

“Balasan karena membiarkanmu mengabaikanku selama bertahun-tahun? Balasan karena aku harus menunduk di depan ibumu setiap hari? Itu pengorbanan yang kamu maksud?!”

Lucien menggebrak meja, keras. “Jangan dramatis!”

Elara terlonjak. Raven mengalihkan pandangan, tidak nyaman menyaksikan itu.

“Aku tidak akan melakukannya,” tutur Elara lebih pelan, namun lebih tegas. “Detik ini juga, aku menolak. Cari saja wanita lain yang mau kamu jual!”

Lucien tertawa sinis. “Kamu pikir kamu punya pilihan? Kakek tidak akan membiarkanku memimpin jika aku tidak punya keturunan kandung secepatnya.”

“Itu bukan masalahku!” sentak Elara tajam.

“Tapi ini akan menjadi masalahmu jika kamu menolak!”

Elara menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku tidak peduli. Aku mencintaimu, tapi aku masih punya harga diri. Aku tidak akan membiarkan pria mana pun menyentuhku kecuali suamiku!”

“Mencintaiku? Lalu buktikan!” sembur Lucien dengan suara meninggi.

Ekspresi Lucien berubah selama beberapa saat. Pria itu berdeham pelan. “Dengar, aku tidak memintamu menikah lagi. Aku hanya butuh benih pria ini untuk mengamankan posisiku. Ini satu-satunya jalan agar kita tetap di puncak.”

Lucien melangkah mendekati Elara. “Dengar, aku tidak punya waktu. Minggu depan rapat keluarga dimulai. Jika kamu tidak hamil dalam bulan ini, semuanya berakhir.”

“Maka biarkan berakhir!” gumam Elara getir. “Aku lebih baik miskin daripada kehilangan harga diriku!”

Lucien tidak menyangkal. Namun, pria itu tak akan menyerah. Lucien mulai menggunakan kartu yang paling kotor.

"Bagaimana dengan adikmu, Elara?" bisik Lucien dingin. "Kamu tahu biaya cuci darah dan perawatan intensifnya tidak murah. Satu tanda tanganku, dan semua bantuan medis itu akan berhenti detik ini juga."

Tubuh Elara menegang.

Elara menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. “Jangan bawa Dira…”

“Tapi ini fakta,” potong Lucien keras. “Tanpa aku, keluargamu tidak akan bertahan satu bulan.”

Elara memejamkan mata kuat-kuat, air mata turun tanpa bisa ia tahan.

Lucien memperhatikan layar ponsel Elara yang menyala. Sebuah notifikasi muncul dari pihak rumah sakit: [Pembayaran dihentikan sementara.]

Elara membeku. Ponsel itu nyaris terlepas dari jemarinya yang mendadak mati rasa. Lucien benar-benar sudah menarik saklar kehidupan adiknya hanya untuk sebuah jabatan.

Elara mundur satu langkah. Lalu ia menatap Raven— orang pria asing yang tiba-tiba harus menjadi bagian dari hidupnya dalam cara yang paling hina.

Helaan napas berat lolos dari bibir Elara. Ia mengangkat kepala, menatap suaminya dengan sorot pedih. Matanya semakin memerah dan berkaca-kaca.

“Baik, aku setuju.”

Sudut bibir Lucien perlahan terangkat. Ia menarik Elara ke dalam pelukannya—sebuah dekapan posesif yang terasa seperti lilitan ular bagi Elara. Lucien mengecup keningnya, lama dan penuh kemenangan.

“Istri pintar,” bisik Lucien tepat di telinganya. “Kamu tidak tahu betapa berharganya 'investasi' ini untuk masa depanku.”

Tanpa memberi Elara kesempatan mundur, Lucien langsung menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan hangat yang justru membuat Elara merasa membeku. Tangannya melingkari pinggang Elara, mengecup puncak kepalanya berkali-kali.

Seolah semuanya baik-baik saja. Seolah ia baru saja mendapatkan kabar kelahiran seorang anak, bukan persetujuan Elara untuk melibatkan pria lain.

Elara tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku, kedua tangannya menggantung di sisi tubuh. Mata kosongnya menatap dinding, tidak fokus. Setiap kecupan Lucien terasa seperti beban tambahan yang menekan dadanya.

Elara merasa dirinya tidak sedang dipeluk suaminya—tapi sedang dipasung oleh kenyataan yang semakin sempit.

Raven berdiri tidak jauh dari mereka, wajahnya datar namun matanya sempat melirik Elara. Wanita itu jelas sedang hancur, namun tetap memilih bergeming dalam pelukan pria yang barusan menjual harga dirinya.

Tapi Raven tetap diam. Tawaran itu sudah diterima—dan ia punya alasan lain untuk tidak menolak lagi.

Lucien akhirnya melepaskan pelukannya, menangkup kedua pipi istrinya. “Kita sarapan dulu sebelum berangkat.” Nada suaranya manis, terlalu manis, bagai gula yang menutupi racun.

Elara berkedip sekali. “Tidak perlu… aku ingin sendiri.”

Lucien tersenyum tipis namun tampak memaksa. “Sayang—”

“Aku ingin sendiri, Lucien.” Kali ini lebih tegas, meski suaranya tetap pelan.

Lucien hanya tersenyum tipis, tapi itu tipe senyum yang tidak menerima bantahan. Ia mengusap kepala Elara sekali lagi sebelum naik ke lantai atas untuk bersiap ke kantor. “Oke. Tapi jangan larut dalam pikiran buruk, ya? Ingat, semua ini demi masa depan kita.”

Masa depan kita?

Elara memalingkan wajah. Ia tidak sanggup mendengarnya.

Setelah Lucien naik ke lantai atas untuk bersiap ke kantor, Elara melangkah keluar rumah, berjalan menuju mobil. Napasnya terasa berat—seakan setiap langkah menarik beban yang tak terlihat.

Dingin pagi menusuk kulitnya meski matahari sudah bersinar. Atau mungkin itu bukan udara, tapi perasaannya sendiri. Elara membuka pintu mobil, hendak masuk dan menyetir sendiri. Ia butuh ruang. Ia butuh diam. Ia butuh menangis tanpa dilihat siapa pun.

Namun baru saja ia meletakkan tas di kursi penumpang, suara berat seseorang terdengar dari belakang.

“Biar aku yang mengantar, Nyonya.”

Elara menoleh cepat, refleks. Di sana berdiri Raven, bersandar ringan pada kap mobil dengan tangan di saku jeansnya. Wajahnya datar seperti biasa, tapi ada sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan—tatapan iba yang terbungkus dingin.

Itu saja sudah cukup untuk membuat Elara semakin ingin menangis.

“Tidak. Pergi. Aku bisa berangkat sendiri.”

Nada Elara tajam, jauh lebih tajam dibanding sebelumnya. Raven tidak tersinggung, ia tahu alasan di balik ketus itu.

Raven justru membuka pintu depan, hendak masuk ke kursi pengemudi.

“Keluar dari mobilku!” suara Elara meninggi.

Raven berhenti, menoleh pelan. “Aku tidak di sini untuk menyenangkanmu. Aku hanya menjalankan apa yang diperintahkan.”

“Elara?” Suara lain terdengar dari pintu rumah. Lucien kini berdiri di ambang pintu dengan dasi yang belum terikat rapi. Pria itu berjalan cepat ke arah mereka.

“Ada apa ini?”

“Lucien, suruh dia pergi! Aku tidak mau dia mengikutiku!”

Lucien menangkup kedua pipi Elara, tapi cengkeramannya terasa terlalu kuat. “Sayang, Raven hanya menjalankan tugasnya. Kamu harus bersama Raven di mana pun berada, karena kamu harus tetap aman sampai tujuan kita tercapai.”

Tubuh Elara bergetar hebat. Kata ‘aman’ dari mulut Lucien lebih terasa seperti ancaman.

“Masuklah,” perintah Lucien lembut namun dingin. Ia membukakan pintu untuk istrinya. “Nikmati perjalananmu dengan Raven. Dia pria yang sangat efisien dalam menyelesaikan... segala urusan.”

Lucien mengecup pipi Elara sebagai tanda perpisahan, lalu menatap Raven dengan tatapan meremehkan seolah Raven hanyalah alat.

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
118 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status