Roda kereta kuda berderit konsisten, membelah jalanan setapak menuju Kota Tarutung. Ribak Sinambela duduk tegak sebagai kusir di depan, sementara Pelayan Togar Torop berkuda di posisi paling depan sebagai pemandu jalan. Di dalam kabin yang bergoyang pelan, suasana terasa sunyi, hanya diisi oleh suara kunyahan kecil.Uli terus menatap keluar jendela, pikirannya tertinggal jauh di puncak gunung Parombunan. Kata-kata Raja Doli terus berputar di kepalanya seperti gema yang tak mau hilang. Kalimat itu terasa sangat aneh, menyeleneh, namun ada nada mendesak yang membuatnya penasaran.Uteh Bangko, sang pelayan kecil, menyadari kegelisahan nonanya. Sambil menikmati sepotong kue roti gandum di tangannya, ia akhirnya memecah kebisuan."Nonaku yang cantik, aku benar-benar tidak menyangka si kanibal itu akan membiarkan kita pergi begitu saja. Rasanya nyawaku hampir terbang karena takut," ujarnya dengan mulut yang masih penuh remah-remah roti.Namun, Uli tetap diam tak bergeming, tatapannya kosong
Read more