Beranda / Fantasi / BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR / 46. RENCANA PENAKLUKAN NONA ULI

Share

46. RENCANA PENAKLUKAN NONA ULI

Penulis: Lampard46
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 19:48:16

Aku mulai memetakan prioritas. Tiga tugas, satu otak, dan waktu yang terus berjalan.

Untuk Tugas Ketiga (Perampokan), aku tidak perlu turun tangan sendiri. Bondut Jolma dengan otot besarnya dan Ribak Sinambela dengan kelincahannya adalah duet maut yang bisa kuandalkan untuk "memungut pajak" di jalanan.

Untuk Tugas Kedua (Rekrutmen 100 orang), Togar Torop Sianturi adalah orangnya. Pengalaman manajerialnya dari kota besar akan membuat urusan administrasi dan persuasi penduduk menjadi jauh lebih m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   97. OPERASI "AWAN MENDUNG"

    Fasilitas pemeriksaan kesehatan yang kusebut "klinik" itu sebenarnya hanya sebuah meja kayu reyot di bawah pohon rindang. Di sana, warga Desa Parombunan sudah berbaris rapi, menanti dengan penuh harap. Namun, antrean itu macet total karena sang dokter, Liu Bei, malah asyik tiduran berbantalkan lengan di atas meja kerjanya.Di belakangnya, berkibar sebuah bendera putih lusuh yang diikatkan seadanya pada patahan kayu. Alih-alih terlihat seperti simbol medis yang suci, itu lebih mirip bendera menyerah."Kau sakit..." gumam Liu Bei tanpa membuka mata saat pasien pertama mendekat."Uh... Dokter Liu," pasien itu tampak cemas. "Apa yang salah dengan saya? Apa ini serius?"Liu Bei menggeliat malas, lalu menatap pasiennya dengan tatapan kosong. "Serius atau tidak serius... Ya, hidup dan mati itu sudah ada yang mengatur. Jangan terlalu dipikirkan, itu buang-buang waktu!" sahutnya seenak jidat, seolah nyawa

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   96. KEBANGKITAN SANG NAGA DI TANAH TOBA

    Mereka bertiga saling berpandangan, tampak tertegun sejenak mendengar pertanyaanku yang langsung menembak ke titik paling sensitif: alasan mereka memilih jalan kegelapan sebagai bandit.Guan Yu akhirnya melangkah maju. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, memberikan hormat yang sangat formal sebelum angkat bicara. "Sesampainya kami di sebuah desa tak jauh dari sini, kami melihat preman setempat melakukan kejahatan yang melampaui batas. Tanpa bisa ditahan, saudara kami membunuh mereka. Sekarang, pemerintah sedang memburu kami. Karena mendengar reputasi Tuan Raja yang disegani, kami sepakat untuk datang mengabdi ke sini."Aku mengangguk-angguk. Jujur saja, meski aku tahu mereka tokoh besar, aku tidak tahu detail sejarah mereka di garis waktu ini. Jadi aku sengaja memancing."Lalu, siapa di antara kalian bertiga yang membunuhnya?" tanyaku menyelidik.Liu Bei hanya terdiam seribu bahasa, wajahnya tetap tenang seperti ai

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   95. JENDERAL YANG MENJADI BANDIT

    Waktu seolah membeku. Di tengah sorakan "Horas!" yang membahana, sebuah layar hologram transparan muncul di hadapanku, berkilat-kilat dengan efek api yang dramatis."Mantap juga, ada cutscene-nya segala," gumamku sambil menyilangkan tangan, menanti hadiah kemenangan atas si monster Dumang.[NOTIFIKASI SISTEM: HADIAH KEMENANGAN]Nama: Zhang Fei si Pembuat AnggurUsia: 18 TahunSkill: Pembuat Anggur (Kualitas: Dipertanyakan)Atribut Tersembunyi: Tidak AdaAku melongo menatap layar itu. "Bah! Zhang Fei?" teriakku dalam hati. "Jenderal ganas dari Zaman Tiga Kerajaan itu masuk ke sini jadi pembuat anggur? Bukannya ahli tombak perkasa, malah disuruh bikin minuman!"Lebih parahnya lagi, deskripsi sistem menyebutkan kualitas anggurnya buruk. Ini mah bukan dapet aset, tapi dapet tukang b

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   94. PENAKLUKAN MONSTER GILA

    "SEKARANG!"Teriakan itu adalah lonceng kematian bagi ketenangan markas Dumang. Dalam sekejap, jerami-jerami di sudut markas berhamburan. Para pria yang tadinya tampak lemah, mabuk, dan konyol dengan plester di kening, tiba-tiba berdiri tegak dengan tatapan dingin dan otot yang mengeras. Akting mereka berakhir; yang tersisa hanyalah predator yang siap menerkam."Desa Parombunan di sini! Orang yang tidak berkepentingan, segera menyingkir!" teriakku lantang, memberikan perintah yang menggelegar di tengah kekacauan."Semuanya! Kumpulkan mereka!"Mata Birong hampir keluar dari kelopaknya. Dalam kondisi mabuk berat, ia hanya bisa melongo melihat rekan-rekannya yang pingsan diseret dan diikat menjadi dua titik tumpukan besar. Namun, Sang Harimau tidak semudah itu dijinakkan."MAJU...!"Pasukan Parombunan bergerak serentak, golok di tangan mereka be

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   93. SERANGAN KEJUTAN

    Suasana di dalam markas mendadak riuh saat rombongan itu masuk. Dumang Saruksuk, yang masih bersantai menikmati tuaknya di bawah pohon, mengernyitkan dahi melihat iring-iringan yang dibawa bawahannya."Birong, aku menyuruhmu hanya untuk mengusir mereka, tidak perlu sampai menangkap dan membawa semuanya ke sini...!" seru Dumang dengan nada malas, mengira Birong sedang berlebihan menjalankan tugas."Kakak Tertua, dengar dulu! Pria tua ini adalah penjual anggur," sahut Birong sambil menunjuk Torop. "Ia menjual anggur seharga 100 koin tembaga per mangkuk. Tapi ada tantangannya: jika kau bisa minum sepuluh mangkuk, kau tidak perlu membayar sepeser pun!""Ho... itu agak menarik," gumam Dumang, matanya mulai berkilat rasa tahu. "Anggur macam apa itu sampai ia berani berbisnis dengan cara gila seperti itu?""Birong, melihat penampilanmu, sepertinya kau sudah mencicipinya. Apa kau tidak kuat?" ejek salah satu rekan mereka

  • BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR   92. JEBAKAN ANGGUR

    Uli perlahan membuka cadarnya, menampakkan wajah yang masih pucat karena terkejut sekaligus bingung. "Eh... Kenapa kamu ke sini?" tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar."Nona Sinaga, ada yang harus aku lakukan di sini. Lagipula, mana mungkin aku tenang-tenang saja di gunung sementara kau ada di Kota Tarutung menghadapi masalah ini," sahutku sambil melemparkan senyum tipis dan memberi sedikit penghormatan ala bangsawan gunung."Orang yang masih hidup tidur di dalam peti mati itu akan membawa sial!" ujar Uli dengan ekspresi wajah sangat serius, mencoba memberikan peringatan keras. Namun, aku hanya mengedikkan bahu, pura-pura tidak mendengar ceramahnya soal takhayul."Kau! Cepat bereskan ini," seruku kepada pelayan tua di depan restoran. "Jangan biarkan peti mati ini teronggok di halaman, bisa membuat pelanggan tidak senang. Dan jangan lupa, bawa masuk semua guci anggur yang ada di gerobak itu!""Baik, Tuan!" s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status