Ia menunjuk lantai berdebu itu. Di sana, bercak darah kering masih terlihat jelas gelap, melekat, tak terhapus oleh waktu. “Kau ingat darah siapa itu?” Aldo terbelalak. Dadanya terasa sesak. Ingatannya menghantam tanpa ampun—tempat ini, jeritan itu, tubuh yang terkapar tak berdaya. Anya. Ia memejamkan mata, menutup telinga, seolah semua itu hanyalah adegan film murahan yang bisa dihentikan kapan saja. Namun suara Nares memaksanya kembali ke kenyataan. Nares bangkit. Sepatunya menginjak dada Aldo dengan keras. Pria itu mengerang tertahan. Nares lalu menunduk, mencengkeram rambut Aldo dan menariknya ke atas tanpa ampun. “Apa kau lupa?” suara Nares rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan. “Kau sengaja membiarkan seorang gadis disiksa, dianiaya, dipatahkan—di depan matamu sendiri.” Aldo tergagap. “A—apa hubungannya tuan Mahesa dengan perempuan kotor itu—” Kalimat itu tidak pernah selesai. Wajah Nares mengeras. Tatapannya berubah dingin, mematikan. “Kotor?” ula
Last Updated : 2025-12-30 Read more