Share

Percobaan Bunuh Diri

Author: Senjaaaaa
last update Last Updated: 2026-01-01 12:47:18

Ada seseorang yang sedang mencari keberadaan Nona Anya,” lanjut Jhon.

“Dia bahkan berusaha memulihkan rekaman CCTV gedung tempat perlombaan.”

Sorot mata Nares langsung berubah tajam.

“Siapa?”

Jhon menarik napas singkat.

“Juan Julian, Tuan.”

Nama itu membuat rahang Nares mengeras.

“Pemuda yang mengejar Nona Anya di kampus,” tambah Jhon.

“Dia terlihat cukup obsesif. Sudah beberapa hari ini mondar-mandir, bertanya ke banyak pihak. Bahkan mencoba mengakses rekaman yang seharusnya tidak bisa disentuh orang luar.”

Nares terdiam beberapa detik. Tangannya mengepal perlahan.

“Dia terlalu banyak ingin tahu,” ucapnya datar.

“Perlu saya hentikan?” tanya Jhon.

Nares menoleh ke arah pintu ruang perawatan. Di balik pintu itu, Anya sedang berusaha tidur, berusaha melawan mimpi buruknya sendiri.

“Belum,” jawab Nares akhirnya.

“Awasi saja. Jangan sampai dia mendekat ke Anya. Dan jangan sampai rekaman CCTV malam itu bocor. Tidak ada yang boleh tahu mengenai malam mengerikan i
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Mempermainkan Rosa

    Rosa membeku. Anak panah melesat, untungnya meleset… dan menancap di papan tepat di samping kepala Rosa. Jaraknya hanya beberapa senti. Rambut Rosa bergerak tertiup angin dari laju panah itu. Sedikit lagi...kepalanya yang menjadi sasaran. Tubuh Rosa langsung lemas. Lututnya hampir ambruk. Nares menunduk, bibirnya mendekat ke telinga Anya. Berbisik pelan, dingin. “Nyaris saja.” Anya menatap Rosa. Dia tidak terkejut. Tidak merasa bersalah. Hanya tatapan datar… kosong… dan sedikit menakutkan. “Kamu gila, ya?!” suara Rosa bergetar, antara marah dan takut. Namun tatapan Nares menyambar Rosa seketika. Tajam. Mengancam. Rosa teringat ucapan Amanda kata-kata yang memaksanya datang ke sini. Dekati Anya. Minta maaf. Kalau kamu ingin Nares, kamu harus masuk ke hati Anya. Rosa menelan ludah. Ia memaksa bibirnya terangkat. “Hahaha… hampir saja ya,” katanya kaku. “Untung gak kena. Gak apa-apa kok.” Tak ada yang menjawab. Nares sudah kembali berdiri di belakang Anya,

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Mempersiapkan Anya

    Anya sudah kembali ke kamarnya. Pintu tertutup rapat. Di dalam sana, hanya ada napasnya yang pelan dan sisa adrenalin yang belum sepenuhnya turun. Di taman belakang, senja mulai jatuh. Cahaya oranye memantul di anak-anak panah yang masih menancap di sasaran. Leon bersandar di pagar kayu, menyilangkan tangan. Ia menghela napas panjang, seolah masih tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat. “Res…” Leon menoleh ke Nares. “Dia barusan ngeri banget.” Nares berdiri tegak, menatap lurus ke depan. “Bukan ngeri.” Leon mengernyit. “Terus apa?” “Lahir ulang.” Leon terdiam sejenak. Lalu tertawa kecil, kering. “Gila. Baru beberapa minggu lalu dia bahkan gak berani ngelihat bayangan sendiri. Sekarang… jarak segitu, sasaran sekecil itu.” Nares akhirnya menoleh. “Trauma itu pisau bermata dua. Bisa membunuh pemiliknya. Bisa juga mengasahnya.” Leon menyandarkan kepalanya ke tiang. “Dan kamu milih buat mengasahnya.” “Karena dunia gak bakal lembut sama Anya,” jawab Nares dingin.

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Siap Membalas

    Setelah sesi terapi selesai, Anya berdiri di tengah ruangan rehabilitasi dengan napas sedikit berat. Kakinya masih terasa ngilu, tapi kali ini ia tidak goyah. Ia benar-benar berdiri dengan kakinya sendiri. Dirga mengamati dari beberapa langkah jauhnya, lalu mendekat sambil membuka catatan medis. “Secara medis, ini di luar rata-rata,” ucapnya jujur. “Tulang betismu belum sepenuhnya pulih, tapi adaptasi otot dan sarafmu sangat cepat.” Anya menoleh. “Artinya?” “Artinya tubuhmu punya daya tahan tinggi,” jawab Dirga. “Dan yang lebih penting kemauanmu untuk bergerak jauh lebih kuat dari rasa sakit. Itu yang mempercepat pemulihan.” Nares berdiri di samping Anya, tangannya sigap menahan jika sewaktu-waktu gadis itu goyah. “Tapi jangan salah paham,” lanjut Dirga tegas. “Ngilu ini masih akan ada. Jangan dipaksakan. Kamu boleh berjalan, tapi pelan. Dengarkan tubuhmu.” Anya mengangguk. “Aku mengerti.” Dirga menatap Nares. “Dia kuat, tapi bukan kebal. Jaga ritmenya.” Nares mengan

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Kebangkitan

    Udara seakan membeku. “Apa?” suara Nares rendah, berbahaya. “Di sana lebih aman,” lanjut Amanda cepat. “Lebih terkontrol. Mama hanya ingin Anya sembuh.” “Tidak,” potong Nares keras. “Aku tidak akan pernah membawa Anya ke sana.” Rosa menyela dengan suara gemetar, penuh kepura-puraan. “Ares… aku tahu kamu sangat melindunginya. Tapi bagaimana kalau suatu hari Anya benar-benar kehilangan kendali? Aku takut… bukan untuk diriku. Untuk Anya sendiri.” Nares menoleh tajam ke arahnya. “Aku tidak bicara denganmu.” Rosa terdiam, menunduk seolah terluka. Amanda menghela napas panjang. “Baik. Kalau soal Anya kamu tidak mau dengar, kita bicara hal lain.” Nares menyilangkan tangan. “Apa lagi.” “Tentang kamu dan Rosa.” Nares tertawa sinis. “Aku sudah bilang...” “Kalian harus bertunangan,” potong Amanda tegas. Rahang Nares mengeras. “Tidak.” Amanda berdiri. Wajahnya berubah keras, dingin. “Kalau begitu, dengarkan ini baik-baik.” Nares menatapnya. “Jika kamu menolak per

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Anya Harus diPersiapkan

    Dirga berdiri di sisi ranjang, menurunkan stetoskopnya perlahan. Anya masih terbaring dengan infus terpasang, wajahnya pucat namun napasnya sudah lebih teratur. Leon berdiri tak jauh, sementara Nares menatap Dirga dengan sorot tajam menuntut jawaban. “Kondisinya kembali kambuh,” ujar Dirga akhirnya, suaranya serius. “Bukan karena fisik. Secara medis, tubuh Anya membaik. Tapi ini murni dipicu oleh trauma.” Nares mengepalkan tangan. “Kenapa bisa?.” Dirga menarik napas. “Anya mengalami Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD. Gangguan stres pascatrauma. Setiap kali otaknya menangkap rangsangan yang mirip dengan kejadian masa lalu wajah, suara, bahkan sekadar ingatan tubuhnya bereaksi seolah kejadian itu terulang.” Leon mengernyit. “Makanya dia tiba-tiba histeris?” “Ya,” jawab Dirga. “Bagi Anya, itu bukan kenangan. Itu ancaman yang terasa nyata.” Nares menunduk, rahangnya mengeras. “Kalau begitu, bagaimana cara mencegahnya?” Dirga menatap Nares lurus. “Kamu harus menemukan

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Pelajaran Untuk Pelayan Lancang

    Nares dengan hati-hati mengangkat tubuh Anya dan memangkunya. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras. Ia melangkah cepat menuju kamar, berusaha menahan amarah yang bergejolak di dadanya. Namun di tengah langkahnya, telinganya menangkap percakapan yang membuat darahnya mendidih. Pelayan bernama Mila berbisik dengan nada sinis, “Nona Anya benar-benar sudah gila.” “Sst!” Resty menegurnya pelan tapi tegas. “Jaga ucapanmu. Jangan bicara sembarangan.” “Aku cuma bilang yang sebenarnya,” balas Mila ketus. “Kamu lihat sendiri kan? Berani-beraninya dia menampar tuan muda. Dia sudah gila.” “Nona itu sakit,” bantah Resty. “Bukan gila.” Mila mendengus, lalu tertawa kecil. “Sakit jiwa, maksudmu.” Langkah Nares berhenti. Ia menoleh perlahan. Tatapan matanya membuat udara di sekitarnya terasa membeku. Mila dan Resty langsung terdiam. Wajah mereka pucat. Tanpa sepatah kata, Nares kembali melangkah, mengantarkan Anya ke kamar dan membaringkannya dengan hati-hati di ranjang. Tak lama kemudian, D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status