Di luar ruang perawatan, lorong rumah sakit terasa dingin dan sunyi. Bau antiseptik menyengat, kontras dengan amarah yang masih membara. Leon berdiri bersandar di dinding, napasnya masih belum sepenuhnya tenang. Buku-buku jarinya memerah. Di sampingnya, Jhon berdiri tegak dengan tangan terlipat, wajahnya tetap datar seperti biasa meski sorot matanya jelas menyimpan kewaspadaan. Kalau saja Jhon tidak datang tepat waktu, mungkin Rosa sudah tidak bisa berjalan lagi karena Leon. Leon menghela napas kasar, menendang ringan kursi besi di dekatnya. “Aku benar-benar heran,” ucapnya dengan suara tertahan marah. “Kenapa Tante Amanda bersikeras menjodohkan perempuan liar itu dengan Ares.” Jhon melirik sekilas ke arah pintu ruang perawatan, memastikan suara dari dalam tidak terdengar keluar. “Ada hal-hal yang tidak selalu masuk akal, Tuan Leon,” jawabnya singkat. Leon tertawa tanpa humor. “Hutang budi?” Ia menggeleng. “Keluarga Mahesa sudah membiayai hidup Rosa dan keluarganya bel
Last Updated : 2026-01-04 Read more