Tekanan Qi brutal yang menyapu alun-alun perlahan mereda, namun suasana justru semakin mencekam. Tanah batu yang retak masih menghembuskan debu tipis, sementara tubuh-tubuh peserta yang tumbang tergeletak tanpa daya. Beberapa merintih kesakitan, yang lain pingsan dengan wajah pucat keabu-abuan. Pria bertubuh besar di atas panggung menurunkan kakinya perlahan. Sorot matanya menyapu mereka yang masih berdiri—jumlahnya kini tak sampai separuh dari semula. “Bagus,” ucapnya dingin, seolah apa yang terjadi barusan hanyalah pemanasan. “Setidaknya kalian belum sepenuhnya rapuh.” Beberapa peserta yang masih bertahan menggertakkan gigi. Keringat bercampur debu mengalir di wajah mereka. Tubuh gemetar, napas tersengal, namun tak seorang pun berani mundur. Tian Hei berdiri tenang di antara mereka. Napasnya telah kembali stabil, seolah tekanan barusan tak lebih dari angin kencang yang lewat. Di balik ketenangan itu, Pelahap Semesta bekerja dengan sangat halus, melahap sisa tekanan Qi yang
Last Updated : 2026-01-08 Read more