Hutan tetap sunyi, kabut tipis merayap di atas tanah, menyelimuti pepohonan raksasa yang menjulang seperti menara gelap yang angkuh. Di tengah keheningan itu, Tian Hei berdiri tegak. Besi hitam di tangannya terasa seperti perpanjangan lengannya sendiri. Mata tajamnya menembus keremangan, menilai setiap gerak samar. Ia tidak terburu-buru; setiap langkah diperhitungkan, setiap napasnya selaras dengan detak jantung alam di sekelilingnya. Hari-hari di hutan ini adalah neraka yang nyata. Tian Hei telah membantai banyak binatang buas—mulai dari serigala hingga beruang ganas. Namun, baginya, pertarungan bukan sekadar adu otot. Ia membaca medan, memanfaatkan kabut sebagai sekutu, dan menjadikan pepohonan sebagai perisai. Sore itu, suasana berubah mencekam. Dari balik semak, muncul seekor Serigala darah Mata Emas, binatang buas tingkat 5. Tubuhnya jauh melampaui ukuran beruang dewasa, dan aura kematian yang terpancar darinya membuat udara terasa berat. Mata emasnya menatap tajam, seolah mamp
Last Updated : 2025-12-23 Read more