## Bab 50: Ancaman Fisik PertamaPagi di kediaman Tanaka biasanya dimulai dengan kesunyian yang dingin, namun hari ini, udara terasa lebih berat dari biasanya. Sisa-sisa konfrontasi semalam masih menggantung di udara lobi yang luas, seperti kabut tebal yang enggan beranjak. Aiko menuruni tangga dengan langkah yang sengaja dibuat keras, sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer dengan irama yang menuntut. Ia mengenakan setelan bisnis berwarna merah darah, seolah-olah warna itu adalah baju zirah yang ia pilih untuk menghadapi dunia yang kini sedang menghujatnya.Di bawah, Hiroshi sudah berdiri menunggu. Ia tidak lagi mengenakan celemek. Ia mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung hingga siku, menampilkan guratan otot yang selama ini tersembunyi di balik tugas-tugas dapur. Wajahnya tampak pucat, dengan bayangan gelap di bawah mata yang menandakan ia tidak tidur semenit pun semalam."Sarapan sudah siap, Nyonya," ucap Hiroshi. Suaranya datar, namun matanya terus meminda
Magbasa pa