Bab 29: Belajar MenghargaiDapur mewah kediaman Tanaka yang biasanya tampak seperti galeri seni dengan jajaran peralatan stainless steel Jerman dan marmer Italia, sore ini berubah menjadi medan tempur yang kacau. Asap tipis mengepul dari salah satu sudut, membawa aroma hangus yang menusuk hidung.Hiroshi berdiri di tengah kekacauan itu dengan napas tersengal. Kaus rumahannya yang murah kini ternoda cipratan saus tomat dan tepung. Tangannya yang masih perih akibat hukuman mencuci seprai kemarin, kini harus berurusan dengan panasnya api kompor."Kau punya waktu dua jam, Hiroshi," suara Aiko menggema dari ambang pintu dapur. Ia berdiri di sana dengan melipat tangan di dada, memandang suaminya seolah-olah sedang melihat eksperimen laboratorium yang menarik. "Aku ingin makan malam formal. Boeuf Bourguignon dan Soufflé cokelat. Jika kau tidak bisa menyajikannya tepat waktu, kau tahu konsekuensinya.""Aiko, aku bahkan tidak tahu cara menyalakan oven ini dengan benar," protes Hiroshi, suarany
Ler mais