"Adrian, hentikan..." Suara Ana parau, bergetar di antara hasrat dan sisa akal sehatnya. Tubuhnya menginginkan, namun jeritan di sudut hatinya mengingatkan, Jangan sekarang, Ana. Kalian belum sah. Adrian, yang meski didera gairah namun tetap menghormati Ana, segera menjauh. Wajahnya tampak kacau, frustrasi yang nyata terpahat di sana. Ia melangkah terburu-buru ke kamar mandi, disusul suara erangan rendah yang penuh tekanan dari balik pintu. "Maaf, Adrian. Sebentar lagi kita menikah, saat itu tiba, seluruh diriku akan menjadi milikmu," ujar Ana saat Adrian keluar dengan wajah yang masih basah. Ana sudah merapikan pakaiannya, menutupi rasa bersalah karena dialah yang memicu api itu tadi. "Pulanglah, Ana. Aku tidak sanggup terus melihatmu jika kamu masih di sini," sahut Adrian sambil menenggak air mineral dengan rakus. Ingatan itu berputar seperti kaset lama di kepala Ana. Bersama Adrian, keintiman adalah hal biasa, namun ia selalu memegang satu komitmen suci, menjaga kesuciannya hing
Last Updated : 2026-02-27 Read more