Ana. Seketika, aura iblis di mata Dalton padam, tangannya mengangkat memberi isyarat agar Daniel dan anak buahnya diam seribu bahasa. Keheningan mati mendadak menyelimuti gudang berdarah itu. Dalton berdehem, mengatur pita suaranya agar terdengar sejuk dan tenang, seolah dia sedang duduk santai di lobi hotel mewah, bukan di atas genangan darah. "Halo, Sayang? Kamu belum tidur?" suara Dalton berubah drastis—lembut, rendah, dan penuh kasih sayang. Di seberang sana, suara Ana terdengar parau dan sedikit gemetar. "Dalton ... kamu di mana?" "Aku masih di Surabaya, sedang menunggu dokumen notaris selesai diproses. Kenapa, Ana? Suaramu terdengar lemas." Dalton memejamkan mata, tangannya yang bebas mengepal kuat hingga buku jarinya memutih, dia benci mendengar nada rapuh itu. "Tadi perutku mulas sekali, rasanya kaya ada yang narik, bayinya menendang kuat banget, di bergerak terus dari tadi, aku jadi gelisah mikirin kamu." Hening sejenak, Dalton menatap pria di depannya yang seka
Last Updated : 2026-04-06 Read more