Dalton berdiri mematung di tengah padang rumput, handuk yang melilit pinggangnya kontras dengan senapan laras panjang yang ia genggam dengan jemari kokoh. Matanya yang sedetik lalu penuh gairah untuk Ana, kini berubah menjadi sepasang mata elang yang dingin dan mematikan. Joy berhenti menyalak, tapi bulu kuduk anjing itu masih berdiri. Dari balik rimbun pepohonan di perbatasan lahan, muncul sesosok pria dengan setelan jas rapi yang tampak sangat tidak selaras dengan lingkungan peternakan yang berlumpur. "Luar biasa, Tuan Besar Obsidian, bermain petani di tanah antah berantah?" suara itu melengking, penuh nada mengejek. Itu bukan Silas, tapi salah satu tangan kanannya, Oliver. Di belakangnya, muncul tiga orang pria bertubuh kekar dengan senjata tersampir di balik jas mereka. Rahang Dalton mengeras. "Kau salah alamat, Oliver. Tanah ini hanya menerima tamu manusia, bukan anjing peliharaan pengkhianat." Oliver tertawa, matanya menyapu rumah tenda dan kandang ternak dengan tatapan
Read more