Bab 92: Detak yang MenipuBau rumah sakit itu selalu sama. Dingin, anyir obat, dan bau karat yang samar. Aku benci bau ini. Rasanya seperti dikuliti hidup-hidup oleh kenangan buruk.Aku terbaring di dalam tabung regenerasi ini, dikepung cairan hijau kental yang rasanya lebih mirip lendir daripada obat. Napasku pendek-pendek, tersaring masker oksigen yang bergetar setiap kali jantung bionikku berdegup.Deg. Deg. Bunyinya tidak sinkron. Ada jeda yang salah, seolah-olah mesin di dadaku sedang berdebat apakah harus terus berjalan atau meledak saja sekalian."Tahan, Hamin. Sedikit lagi," suara Jiran terdengar diredam oleh dinding kaca. Aku bisa melihat bayangannya yang gelisah, mondar-mandir di depan monitor.Tangannya gemetar. Aku tahu itu. Jiran tidak pernah gemetar kecuali dia sedang menyembunyikan berita kematian. Aku ingin bertanya, di mana Haneul? Tapi mulutku tersumpal selang. Mataku cuma bisa menatap lampu neon di langit-langit yang berkedip-kedip menyebalkan.Tiba-tiba, pintu labo
Read more