Lantai beton markas bawah tanah ini rasanya dingin merambat sampai ke tulang ekor. Bau apek dari dinding berlumut bercampur menyengat dengan aroma bensin eceran dan amis darah dari perban daruratku. Di sudut ruangan, sebuah lampu pijar kuning yang kotor berayun lambat, melempar bayangan bergoyang yang bikin kepalaku makin pening.Kaki kiriku yang lumpuh disandarkan kaku di atas peti amunisi kayu yang kosong. Tiap kali napas kasarku berembus, ada rasa ngilu membara dari balik zirah dadaku yang sudah jebol. Mesin Anchor di dalam sana sudah jadi rongsokan mati, tapi besi-besi tajam serpihannya masih hobi menusuk paru-paru organikku kalau aku nekat gerak mendadak."Minum ini. Jangan banyak gaya mau nolak," Jiran menyodorkan cangkir kaleng berkarat tepat di depan hidungku.Cairan di dalamnya berwarna hijau pekat, kental, dan baunya mirip daun singkong busuk yang direbus kelamaan. Begitu kuteguk, tenggorokanku langsung serasa dilewati segumpal amplas kasar. Sepat, pahit, sampai bikin aku ke
อ่านเพิ่มเติม