Bab 81: Tujuh Puluh Dua Jam Menuju NerakaHawa dingin Puncak Nordik kini tak lagi terasa di kulit Haneul. Baginya, satu-satunya hal yang lebih dingin dari badai salju di luar sana adalah tubuh Hamin yang tak bergerak di pangkuannya. Di dalam kabin pesawat tempur siluman Unit 7 yang melesat membelah langit malam, suara dengung mesin beradu dengan bunyi bip ritmis dari monitor pendukung hidup Hamin.71 Jam, 42 Menit.Haneul menatap angka merah yang terus berhitung mundur di pergelangan tangannya—sinkronisasi langsung dengan protokol mati suri Hamin. Jantung bionik pria itu kini hanya berdenyut sekali setiap lima menit, sebuah mekanisme ekstrem untuk menjaga sisa-sisa kesadarannya agar tidak menguap sepenuhnya."Haneul, kita akan memasuki zona udara Menara dalam sepuluh menit," Vanya berteriak dari kursi pilot, tangannya sibuk mengendalikan kemudi di tengah guncangan turbulensi yang hebat. "Radar menunjukkan ada lebih dari lima puluh skuadron Sentinel yang sudah menunggu. Mereka tahu kit
Read more