Bab 82: Kontrak Kehampaan dan Memorabilia BerdarahLantai 121 adalah sebuah paradoks yang menyakitkan. Di luar, Menara Kehampaan bergetar akibat peperangan, namun di sini, waktu seolah berhenti di sebuah sore musim panas tahun 1990-an. Haneul melangkah melewati karpet berbulu yang sudah usang, mengabaikan rasa perih di bahunya yang robek. Ia tetap mendekap tubuh Hamin, memastikan setiap detak jantung pria itu yang kian melemah tetap terasa di dadanya.69 Jam, 58 Menit."Siapa kau?" desis Haneul. Matanya yang ungu berkilat, menatap pria muda yang duduk santai di ayunan tua. Pria itu memakai kemeja flanel longgar, wajahnya adalah cerminan maskulin dari wajah Haneul sendiri.Pria itu tersenyum, senyum yang begitu tulus hingga terasa mengerikan. "Aku adalah memori yang ingin kau lupakan, Haneul. Namaku Ibrahim, atau setidaknya, residu kesadaran ayahmu yang tersisa sebelum Malakai mengambil alih segalanya."Haneul terpaku. Ayahnya? Pria yang wajahnya ada di pemantik api itu? "Jika kau
Read more