Bab 101: Sunyi yang BerkaratSepi. Lantai 121 mendadak kehilangan semua suaranya setelah tubuh Arkan berhenti bergerak di ujung pedangku. Bau anyir oli dan sisa gas beracun pelan-pelan turun, digantikan dingin yang hambar. Aku berdiri tegak. Sembari menatap layar monitor di lengan taktis zirahku, aku melihat deretan angka biner yang bergerak lurus tanpa gelombang.00:00. Folder emosiku sudah dikunci oleh cairan perak Jiran. Lucu, ya. Beberapa menit lalu dadaku rasanya seperti digilas truk kontainer, tapi sekarang, semuanya terasa rata. Dingin. Seperti sepotong es batu yang dilemparkan ke dalam sumur tua yang gelap."Hamin... jangan bercanda. Tolong," suara di depanku terdengar lirih, serak, bergetar kayak dawai gitar yang nyaris putus.Itu Haneul. Rambut putihnya yang tadi menyala terang kini agak redup, jatuh berantakan menutupi pelipisnya yang kotor karena jelaga. Dia melangkah maju. Satu langkah yang ragu. Dua jarinya yang pucat terulur, mencoba menyentuh ujung lengan bajuku yang r
اقرأ المزيد