Nara tidak menyangka kabar itu datang secepat ini.Pagi itu, saat ia sedang bersiap berangkat kelas, ponselnya bergetar dengan nama yang jarang muncul. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat—bukan karena rindu, melainkan karena firasat.Ia mengangkat panggilan itu.“Nara,” suara di seberang terdengar ragu. “Ini aku.”Ia mengenali suara itu. Kerabat jauh yang dulu sering datang ke rumah mereka, orang yang mengenalnya sebagai istri yang baik, bukan sebagai dirinya sendiri.“Iya,” jawab Nara tenang.“Aku dengar kamu nggak tinggal sama suamimu lagi,” lanjut suara itu, kali ini lebih pelan, seolah menjaga rahasia. “Kamu kenapa? Kalian bertengkar?”Pertanyaan itu sederhana. Namun bagi Nara, ia memuat beban lama—ekspektasi, penilaian, dan kewajiban yang dulu selalu ia pikul sendirian.“Kami lagi berproses,” jawab Nara singkat.“Proses apa, Nara?” Nada suara itu berubah. “Namanya rumah tangga, pasti ada masalah. Masa kamu pergi begitu saja?”Nara mem
Zuletzt aktualisiert : 2026-01-14 Mehr lesen