Langkah Cindy tertahan. Baru saja ia berputar untuk melangkah pergi, sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangannya dengan kekuatan yang menyakitkan. Baskoro tidak lagi tersenyum. Wajah pria tua yang biasanya tampak bijaksana itu kini berubah menjadi topeng monster yang haus kekuasaan."Duduk kembali, Cindy," desis Baskoro. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri.Dua pria bersetelan jas yang tadi menyingkir, kini berdiri menutup jalan keluar Cindy. Ruangan VIP yang remang-remang itu mendadak terasa seperti kotak peti mati yang kedap suara."Lepaskan saya, Pak Baskoro! Atau saya akan berteriak!" ancam Cindy, suaranya bergetar meski ia berusaha tetap tegar.Baskoro tertawa, suara tawa yang kering dan hampa. "Berteriaklah. Tempat ini kedap suara, dan pemilik bar ini berutang budi besar padaku. Kamu pikir kamu bisa masuk ke sini, memancingku bicara, lalu pergi begitu saja?""Aku melihat antingmu, Cin
Dernière mise à jour : 2026-01-31 Read More