Cindy merasakan tembok pertahanannya runtuh. Ia melihat pria jenius di hadapannya ini tampak begitu rapuh, terjebak dalam rasa tidak aman yang akut. Ia mengulurkan tangannya, ragu sejenak, lalu menyentuh lengan Kresna dengan lembut. "Aku tidak butuh seorang pria yang sempurna, Kresna. Aku hanya butuh kamu ada di sini, di sampingku, tanpa harus meretas dan mengawasi hidupku," ujar Cindy pelan. Kresna menarik napas panjang, lalu tiba-tiba ia menarik Cindy ke dalam pelukannya. Pelukan itu tidak lembut; itu adalah pelukan yang putus asa, seolah-olah ia sedang memegang satu-satunya hal yang nyata dalam hidupnya yang penuh dengan barisan kode maya. Cindy membalas pelukan itu, membenamkan wajahnya di dada Kresna. Aroma kopi dan parfum maskulin pria itu kembali memenuhi indranya, menghapus rasa dingin yang sempat menyiksa mereka selama seminggu terakhir. "Jangan diam padaku lagi," bisik Cindy di balik kemeja
Dernière mise à jour : 2026-02-18 Read More