LOGINCindy adalah sekretaris andalan CEO Pradana Group yang memiliki kebanggan dan harga diri tinggi. Nama baiknya hancur setelah Kresna, seorang Hacker mencantumkan namanya sebagai pelaku penggelapan dana perusahaan. Cindy merasa benci kepada Kresna karena kejadian itu. Namun demi memperbaiki nama baiknya, dia terpaksa harus bekerjasama dengan Kresna untuk mengungkap pelaku sebenarnya. Bahkan dia harus tingal bersama dengan pria misterius itu.
View MoreCindy menggerakkan jemarinya yang lentik di atas meja kerja berbahan kayu mahoni mengilap, untuk memastikan tidak ada kotoran, bahkan sebutir debu pun yang berani hinggap di sana. Bagi Cindy, meja itu adalah dunia dan tempatnya menjujukkan eksistensi diri.
Sebagai sekretaris andalan dari Ardi Pradana, sang pemimpin tertinggi Pradana Group, Cindy bukan sekadar pengolah data. Ia adalah gerbang, benteng, sekaligus otak di balik efisiensi sang CEO yang melegenda. Ardi Pradana memang dikenal sebagai seorang pengusaha muda yang sukses. Dan di balik segala kesuksesan Ardi, ada Cindy yang bertindak di balik layar untuk mengatur segalanya. Bagi Cindy kebanggaan adalah integritas dan kepercayaan diri adalah perisai. Jam di salah satu sisi dinding sudah menunjuk pukul 07.00 pagi. Cindy berdiri tegak dengan rok pensil abu-abu dan kemeja putih yang disetrika kaku hingga sudut kerah. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan jadwal Ardi yang padat untuk hari ini hingga detik terakhir. Ia mencatat segala sesuatu dengan rinci, mulai dari suhu kopi yang harus tepat 180°F hingga durasi jabat tangan dengan para investor. "Pagi, Mbak Cindy yang paling cantik sejagat raya!" terdengar sapaan bernada dramatis. Cindy tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru menyapa, sambil tersandung kabel di pintu masuk ruang tunggu eksekutif. Bambang, asisten pribadi Ardi yang lebih sering membawa masalah daripada solusi, yang kali ini masuk dengan wajah pucat dan napas tersengal. "Bambang, kamu terlambat lima menit," ujar Cindy tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet. "Dan dasimu miring. Pak Ardi ada rapat dengan investor Jepang jam delapan. Jangan sampai dia melihatmu seperti baru bangun dari mimpi buruk. Itu akan mencoreng citra perusahaan Pradana." "Aduh! Jus-justru itu, Mbak..." Bambang mendekat sambil berbisik gagap, tangannya gemetar hebat. "File proposal konsolidasi yang kemarin Mbak kasih... sepertinya saya salah simpan di folder publik. Saya panik, lalu saya klik delete, tapi kok malah muncul peringatan error merah-merah gitu di komputer saya? Terus, komputernya tiba-tiba mati sendiri." Cindy memejamkan mata sejenak, menghirup aroma kopi aromatik di ruangannya untuk menenangkan saraf yang mulai menegang. "Berapa kali harus kubilang, Mbang? Kalau tidak tahu, tanya. Jangan asal klik. Integritas data kita adalah nyawa perusahaan ini. Biar aku yang urus nanti setelah Pak Ardi masuk. Sekarang, siapkan kopi hitam tanpa gula untuk beliau. Pastikan nampannya bersih!" Bambang mengangguk patuh seperti anak sekolah yang baru saja dimarahi kepala sekolah, lalu segera menghilang ke arah pantri. Cindy menghela napas panjang. Menyelamatkan Bambang dari kebodohannya sendiri sudah menjadi agenda harian yang tidak tertulis di kontrak kerjanya. Bagi Cindy, Bambang adalah variabel pengganggu dalam persamaannya yang sempurna. Namun loyalitas pria itu pada Ardi Pradana membuatnya tak tersentuh. Tak lama kemudian, lift khusus eksekutif berdenting. Ardi Pradana keluar dengan langkah lebar yang memancarkan otoritas. Di belakangnya, mengekor Gery, pengacara utama perusahaan Pradana yang selalu tampak cerah dan tersenyum menebarkan pesona . Penampilan khas seorang metroseksual yang gemar berganti pacar setiap beberapa minggu sekali. Sebagai pegawai lama, Cindy dapat merasakan ada yang berbeda pagi ini. Wajah Ardi Pradana yang biasanya sedingin es batu kini tampak keruh, seperti badai yang siap pecah. "Cindy, ke ruangan saya sekarang. Kresna sudah ada di sana kan?" suara Ardi berat, mengandung nada urgensi yang membuat bulu kuduk Cindy meremang. "Kresna? Staf khusus IT itu? Belum ada laporan dia masuk ke area eksekutif, Pak. Protokol keamanan mengharuskan setiap tamu..." "Dia tidak butuh protokol," potong Ardi cepat sambil terus berjalan. "Kamu masuk sekarang! Dan kunci pintunya." Di dalam ruangan kantor yang luas dan beraroma kayu cendana itu, seorang pria muda berjaket hoodie hitam dengan rambut berantakan tak tersisir sudah duduk dengan santai di kursi tamu kulit yang mahal. Ia tampak sangat tidak selaras dengan kemewahan ruangan tersebut. Di pangkuannya terdapat sebuah laptop yang dipenuhi stiker-stiker grup band underground dan simbol-simbol aneh. Pria itu adalah Kresna. Bagi Cindy, Kresna adalah kebalikan dari segala sesuatu yang ia wakili. Cindy membenci caranya berpakaian yang serampangan, caranya memandang rendah formalitas. Dan yang paling utama, caranya masuk ke ruang pribadi CEO tanpa melalui meja sekretaris. "Aku masuk lewat jalur evakuasi khusus, Mbak Sekretaris." Ujar Kresna seolah dapat membaca isi kepala Cindy. Kresna kembali menatap laptop, jemarinya menari lincah di atas keyboard. Menghasilkan bunyi ketikan yang ritmis dan menjengkelkan bagi telinga Cindy yang terbiasa pada kesunyian. "Kresna, sampaikan hasilnya," perintah Ardi sambil duduk di kursi kebesarannya. Gery berdiri di sampingnya, melipat tangan di dada seperti eksekutor yang menunggu perintah. Kresna memutar laptopnya ke arah Ardi, namun layarnya cukup besar untuk dapat dilihat oleh mata tajam Cindy. "Ada kebocoran sistematis selama enam bulan terakhir. Dana dialirkan dalam unit-unit kecil namun konstan ke sebuah rekening cangkang di Kepulauan Cayman." "Berapa? tanya Ardi tidak sabar. "Totalnya? Lima puluh miliar rupiah." "Ck, kenapa bisa kecolongan... " "Karena semua dilakukan dengan bersih, rapi, dan nyaris tak terdeteksi oleh audit standar." Cindy mengerutkan kening, rasa tidak senang mulai muncul di dadanya. Karena audit keuangan perusahaan adalah salah satu pekerjaanya. Dan juga dia tidak bisa terima jika seorang dari bagian IT yang tidak mengerti akuntansi seperti Kresna yang memberikan laporan. "Itu tidak mungkin, Pak. Saya sudah memeriksa setiap laporan transaksi setiap minggu sebelum sampai ke meja Pak Ardi. Tidak ada angka yang meleset satu rupiah pun di neraca." "Memang," Kresna menyeringai, sebuah senyum miring di bibirnya. Senyuman yang semakin menyebalkan bagi Cindy. "Masalahnya, setiap instruksi transfer itu keluar dari ID pengguna dan tanda tangan digital yang terverifikasi atas nama Cindy Clarissa. Ternyata kamu sangat dermawan pada orang-orang di Cayman, Mbak." Darah seolah tersedot keluar dari wajah Cindy yang pucat seketika. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Karena tuduhan dari perbuatan yang sama sekali tidak dia lakukan. 'Bagaimana hal ini bisa terjadi?' 'Jumlahnya lima puluh milyar? Bagaimana jika aku harus mengembalikan uang sebanyak itu?'Lantai 40 Menara Pradana seketika berubah menjadi medan magnet dengan kutub yang saling menolak. Di balik pintu kayu jati yang kedap suara, udara terasa statis, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah diionisasi oleh ketegangan yang dibawa oleh dua tamu tak diundang dari Wismail Group. Kresna berjalan menyusuri lorong marmer dengan langkah yang tidak biasanya ragu. Pesan singkat dari Ardi bukan sekadar instruksi; itu adalah perintah siaga satu. Ia merapikan jaket hoodie hitamnya, mencoba menutupi noda kopi kecil di kaosnya—sisa dari kepanikan serangan dua hari lalu. Di sampingnya, Cindy berjalan dengan langkah tegap, tumit sepatu hak tingginya mengetuk lantai dengan irama yang menenangkan sekaligus mengancam. "Kresna," bisik Cindy pelan sebelum mereka mencapai pintu ganda ruang eksekutif. "Pasang firewall di wajahmu. Jangan biarkan mereka membaca emosimu." Kresna hanya mengangguk tipis. Ia tahu siapa yang ada di dalam. Ia telah menelusuri jejak digital "si penyerang" selama
Pagi itu, atmosfer di lobi Menara Pradana tidak lagi membawa sisa-sisa aroma laut Anyer yang santai. Udara seolah terkompresi, menjadi lebih padat, formal, dan dingin. Pendingin ruangan sentral terasa menusuk hingga ke tulang, sejalan dengan ketegangan yang merayap di antara pilar-pilar marmer setinggi sepuluh meter.Dua sosok pria melangkah masuk melalui pintu putar kaca dengan langkah yang membelah keheningan lobi. Kehadiran mereka segera memedot perhatian para resepsionis yang biasanya sibuk dengan gawai masing-masing. Pria pertama, yang berjalan di depan, adalah perwujudan dari otoritas yang dipoles dengan kemewahan: Irza Wismail, seorang priq yang tinggi, muda dan tampan. Ia mengenakan setelan jas custom-made seharga mobil kelas menengah, dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya—sebuah senyum yang dikalkulasi secara matematis.Di belakangnya, mengikuti seperti bayangan yang lebih gelap, adalah seorang pria berusia awal tiga puluhan. Ia mengenakan kacamata berbingka
Dua hari telah berlalu. Empat puluh delapan jam tanpa tidur penuh. CERBERUS akhirnya menunjukkan sesuatu yang selama ini bersembunyi di balik kabut kode yang berubah-ubah.Kresna menyadari adanya pola yang konsisten. Bukan di bentuk malware-nya. Bukan di struktur enkripsinya. Melainkan di gaya penulisan payload. indentasi, urutan fungsi, dan cara menyamarkan loop rekursif.“Itu tanda tangan,” gumam Kresna pelan.Ia membuka arsip lama. Beberapa bulan lalu, timnya pernah menganalisis percobaan penetrasi sistem dari kompetitor lama—perusahaan teknologi bernama Wismail Corporation.Saat itu hanya uji coba agresif. Tidak pernah terbukti. Namun struktur coding-nya… Sama.Kresna memperbesar layer terakhir hasil dekripsi parsial. Di salah satu modul tersembunyi, ada komentar kecil yang nyaris tak terlihat://wm:rev17Wismail. Revision 17.“I got you,” bisiknya dalam senyum kemenangan.Sore itu, Kresna kembali menggunakan ponsel terenkripsi untuk memberikan laporan kepada sang atasan. Pada der
Kresna duduk ke meja kerjanya menghadap tiga layar monitor sekaligus, melancarkan jurus-jurus hacking tingkat tinggi untuk membobol beberapa sistem keamanan perusahaan Pradana. Beberapa jam berlalu dan baru separuhnya saja proses hacking selesai. Terlalu banyak nama dan instansi yang berhubungan dengan server. Terlalu banyak riwayat invasi yang harus dipilah dan disorting sesuai dengan kriteria yang ditetapkan Kresna sebagai kode hacking. Bagi Kresna tak ada satu sistem keamanan pun yang tidak mungkin dia masuki. Meskipun tentu tidak mudah dan memerlukan banyak waktu agar tidak tertangkap dan dianggap sebagai cyber crime. Ponsel di meja Kresna berdering dan nama 'Big boz' yang terpampang disana. Pak Ardi? Ada apa lagi? Buru-buru Kresna mengangkat dan menerima pangilan itu. "Halo Kresna..." sapa Ardi buru-buru. "Ya pak?" "Kres, kamu bisa tahu lokasi seseorang dari sinyal ponselnya kan?" "Bisa." "Aku pengen kamu lacak dan laporkan tentang keberadaan seseorang setiap jam s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews