Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker

Sekretaris Cantik Vs Mr. Hacker

last updateLast Updated : 2025-12-29
By:  Die-dinOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
6Chapters
4views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Cindy adalah sekretaris andalan CEO Pradana Group yang memiliki kebanggan dan harga diri tinggi. Nama baiknya hancur setelah Kresna, seorang Hacker mencantumkan namanya sebagai pelaku penggelapan dana perusahaan. Cindy merasa benci kepada Kresna karena kejadian itu. Namun demi memperbaiki nama baiknya, dia terpaksa harus bekerjasama dengan Kresna untuk mengungkap pelaku sebenarnya. Bahkan dia harus tingal bersama dengan pria misterius itu.

View More

Chapter 1

Awal Kehancuran

Cindy menggerakkan jemarinya yang lentik di atas meja kerja berbahan kayu mahoni mengilap, untuk memastikan tidak ada kotoran, bahkan sebutir debu pun yang berani hinggap di sana. Bagi Cindy, meja itu adalah dunia dan tempatnya menjujukkan eksistensi diri.

Sebagai sekretaris andalan dari Ardi Pradana, sang pemimpin tertinggi Pradana Group, Cindy bukan sekadar pengolah data. Ia adalah gerbang, benteng, sekaligus otak di balik efisiensi sang CEO yang melegenda. Ardi Pradana memang dikenal sebagai seorang pengusaha muda yang sukses.

Dan di balik segala kesuksesan Ardi, ada Cindy yang bertindak di balik layar untuk mengatur segalanya. Bagi Cindy kebanggaan adalah integritas dan kepercayaan diri adalah perisai.

Jam di salah satu sisi dinding sudah menunjuk pukul 07.00 pagi. Cindy berdiri tegak dengan rok pensil abu-abu dan kemeja putih yang disetrika kaku hingga sudut kerah. Di tangannya, sebuah tablet menampilkan jadwal Ardi yang padat untuk hati ini hingga detik terakhir. Ia mencatat segala sesuatu dengan rinci, mulai dari suhu kopi yang harus tepat 180°F hingga durasi jabat tangan dengan para investor.

"Pagi, Mbak Cindy yang paling cantik sejagat raya!" terdengar sapaan bernada dramatis.

Cindy tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru menyapa, sambil tersandung kabel di pintu masuk ruang tunggu eksekutif. Bambang, asisten pribadi Ardi yang lebih sering membawa masalah daripada solusi, masuk dengan wajah pucat dan napas tersengal.

"Bambang, kamu terlambat lima menit," ujar Cindy tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet. "Dan dasimu miring. Pak Ardi ada rapat dengan investor Jepang jam delapan. Jangan sampai dia melihatmu seperti baru bangun dari mimpi buruk. Itu akan mencoreng citra kantor ini."

"Aduh, jus-justru itu, Mbak..." Bambang mendekat sambil berbisik gagap, tangannya gemetar hebat.

"File proposal konsolidasi yang kemarin... sepertinya saya salah simpan di folder publik. Saya panik, lalu saya klik delete, tapi kok malah muncul peringatan error merah-merah gitu di komputer saya? Terus, komputernya tiba-tiba mati sendiri."

Cindy memejamkan mata sejenak, menghirup aroma kopi aromatik di ruangannya untuk menenangkan saraf yang mulai menegang.

"Berapa kali harus kubilang, Mbang? Kalau tidak tahu, tanya. Jangan asal klik. Integritas data kita adalah nyawa perusahaan ini. Biar aku yang urus nanti setelah Pak Ardi masuk. Sekarang, siapkan kopi hitam tanpa gula untuk beliau. Pastikan nampannya bersih!"

Bambang mengangguk patuh seperti anak sekolah yang baru saja dimarahi kepala sekolah, lalu segera menghilang ke arah pantri. Cindy menghela napas panjang. Menyelamatkan Bambang dari kebodohannya sendiri sudah menjadi agenda harian yang tidak tertulis di kontrak kerjanya.

Bagi Cindy, Bambang adalah variabel pengganggu dalam persamaannya yang sempurna, namun loyalitas pria itu pada Ardi Pradana membuatnya tak tersentuh.

Tak lama, lift khusus eksekutif berdenting. Ardi Pradana keluar dengan langkah lebar yang memancarkan otoritas. Di belakangnya, mengekor Gery, pengacara utama perusahaan yang selalu tampak cerah dan tersenyum menebarkan pesona .

Namun, ada yang berbeda pagi ini. Wajah Ardi Pradana yang biasanya tenang kini tampak keruh, seperti badai yang siap pecah.

"Cindy, ke ruangan saya sekarang. Kresna sudah ada di sana?" suara Ardi berat, mengandung nada urgensi yang membuat bulu kuduk Cindy meremang.

"Kresna? Staf khusus IT itu? Belum ada laporan dia masuk ke area eksekutif, Pak. Protokol keamanan mengharuskan setiap tamu..."

"Dia tidak butuh protokol," potong Ardi cepat sambil terus berjalan. "Masuk sekarang. Dan kunci pintunya."

Di dalam ruangan kantor yang luas dan beraroma kayu cendana itu, seorang pria muda berjaket hoodie hitam dengan rambut sedikit berantakan sudah duduk dengan santai di kursi tamu kulit yang mahal. Ia tampak sangat tidak selaras dengan kemewahan ruangan tersebut. Di pangkuannya terdapat sebuah laptop yang dipenuhi stiker-stiker grup band underground dan simbol-simbol aneh. Itulah Kresna.

Bagi Cindy, Kresna adalah kebalikan dari segala sesuatu yang ia wakili. Cindy membenci caranya berpakaian yang serampangan, caranya memandang rendah formalitas, dan yang paling utama, caranya masuk ke ruang pribadi CEO tanpa melalui meja sekretaris.

"Aku masuk lewat evakuasi khusus, Mbak Sekretaris." Ujar Kresna seolah dapat membaca isi kepala Cindy.

Kresna kembali menatap laptop, jemarinya menari lincah di atas keyboard. Menghasilkan bunyi ketikan yang ritmis dan menjengkelkan bagi telinga Cindy yang terbiasa pada kesunyian.

"Kresna, sampaikan hasilnya," perintah Ardi sambil duduk di kursi kebesarannya. Gery berdiri di sampingnya, melipat tangan di dada seperti eksekutor yang menunggu perintah.

Kresna memutar laptopnya ke arah Ardi, namun layarnya cukup besar untuk dapat dilihat oleh mata tajam Cindy. "Ada kebocoran sistematis selama enam bulan terakhir. Dana dialirkan dalam unit-unit kecil namun konstan ke sebuah rekening cangkang di Kepulauan Cayman."

"Berapa? tanya Ardi tidak sabar.

"Totalnya? Lima puluh miliar rupiah."

"Ck, kenapa bisa kecolongan... "

"Karena semua dilakukan dengan bersih, rapi, dan nyaris tak terdeteksi oleh audit standar."

Cindy mengerutkan kening, rasa tidak senang mulai muncul di dadanya. Karena audit keuangan perusahaan adalah salah satu pekerjaanya. Dan juga dia tidak bisa terima jika seorang dari bagian IT yang tidak mengerti akuntansi seperti Kresna yang memberikan laporan.

"Itu tidak mungkin. Saya sudah memeriksa setiap laporan transaksi setiap minggu sebelum sampai ke meja Pak Ardi. Tidak ada angka yang meleset satu rupiah pun."

"Memang," Kresna menyeringai, sebuah senyum miring di bibirnya. Senyuman yang semakin menyebalkan bagi Cindy.

"Masalahnya, setiap instruksi transfer itu keluar dari ID pengguna dan tanda tangan digital yang terverifikasi atas nama Cindy Clarissa. Ternyata kamu sangat dermawan pada orang-orang di Cayman, Mbak."

Darah seolah tersedot keluar dari wajah Cindy yang pucat seketika. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Karena tuduhan dari perbuatan yang sama sekali tidak dia lakukan.

'Bagaimana hal ini bisa terjadi?'

'Jumlahnya lima puluh milyar? Bagaimana jika aku harus mengembalikan uang sebanyak itu?'

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Die-din
Die-din
Selamat Membaca, tolong beri dukungan subscribe, rate dan komentar ya ...
2026-01-21 17:55:19
0
0
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status