LOGINCindy adalah sekretaris andalan CEO Pradana Group yang memiliki kebanggan dan harga diri tinggi. Nama baiknya hancur setelah Kresna, seorang Hacker mencantumkan namanya sebagai pelaku penggelapan dana perusahaan. Cindy merasa benci kepada Kresna karena kejadian itu. Namun demi memperbaiki nama baiknya, dia terpaksa harus bekerjasama dengan Kresna untuk mengungkap pelaku sebenarnya. Bahkan dia harus tingal bersama dengan pria misterius itu.
View MoreLampu di ruang rapat eksekutif Menara Pradana masih menyala terang, meski jarum jam sudah melampaui angka dua belas malam. Di luar, Jakarta mulai meredup, namun di dalam ruangan ini, denyut nadi kreativitas baru saja dimulai. Ardi Pradana, sang CEO yang biasanya tak gentar menghadapi fluktuasi pasar saham, kini tampak tak berdaya di depan meja jatinya."Bagaimana? Ada ide?" Ardi menagih dengan nada mendesak kepada keempat staf andalannya. Wajahnya yang biasa kaku kini tampak memelas. Sebagai pria yang terbiasa berpikir logis dan strategis, urusan asmara ternyata menjadi titik buta yang membuatnya mentok total. Ia ingin melamar Ella, namun ia tak ingin acara itu terasa seperti sekadar transaksi bisnis yang kaku.Bambang, Kresna, dan Gery saling bertukar pandangan dalam keheningan yang canggung. Kresna lebih paham cara menjebol firewall daripada menyusun buket bunga. Gery lebih mahir menyusun pasal-pasal hukum daripada skenario romantis. Sementara Bambang? Ia hanya bisa memikirkan mak
Lampu neon di lobi Menara Pradana berpendar dingin saat Kresna dan Cindy melangkah masuk dengan napas yang masih memburu. Keduanya tampil kontras dengan lingkungan korporat yang steril itu. Kresna dengan jaket hoodie yang resletingnya belum tertutup sempurna, dan Cindy dengan riasan tipis sisa makan malam yang mulai memudar. Ponsel Kresna tadi bergetar tepat satu menit setelah Cindy menutup telepon dari Ardi. Suara Ardi di seberang sana terdengar sangat mendesak, memerintahkan Kresna untuk tidak membuang waktu satu detik pun. "Kresna, langsung ke lantai 40." Hanya itu yang dikatakan sang CEO sebelum memutus sambungan. Di depan lift eksekutif, mereka bertemu dengan Gery. Sang pengacara perusahaan itu biasanya tampil dengan setelan jas tiga lapis yang kaku, namun malam ini ia hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, dasinya sudah dilonggarkan. Wajahnya tampak tegang. "Gery? Kamu juga dipanggil?" tanya Cindy sambil menekan tombol lift. Semakin penasar
Lampu neon di lobi Menara Pradana berpendar dingin saat Kresna dan Cindy melangkah masuk dengan napas yang masih memburu. Keduanya tampil kontras dengan lingkungan korporat yang steril itu; Kresna dengan jaket hoodie yang resletingnya belum tertutup sempurna, dan Cindy dengan riasan tipis sisa makan malam yang mulai memudar. Ponsel Kresna tadi bergetar tepat satu menit setelah Cindy menutup telepon dari Ardi. Suara Ardi di seberang sana terdengar sangat mendesak, memerintahkan Kresna untuk tidak membuang waktu satu detik pun. "Kresna, langsung ke lantai 40. Keamanan tertinggi," hanya itu yang dikatakan sang CEO sebelum memutus sambungan. Di depan lift eksekutif, mereka bertemu dengan Gery. Sang pengacara perusahaan itu biasanya tampil dengan setelan jas tiga lapis yang kaku, namun malam ini ia hanya mengenakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, dasinya sudah dilonggarkan. Wajahnya tampak tegang. "Pak Gery? Anda juga dipanggil?" tanya Cindy sambil menekan tombo
Setelah berbulan-bulan terjebak dalam labirin kode, ancaman spionase industri, dan sandiwara profesional di koridor Menara Pradana, hari Sabtu ini terasa seperti sebuah anomali yang indah. Untuk pertama kalinya, ponsel Kresna tidak memuntahkan barisan log peringatan merah, dan agenda Cindy bersih dari jadwal rapat koordinasi Perusahaan Pradana. Apartemen Cindy terletak di lantai dua puluh delapan, sebuah ruang minimalis yang didominasi warna krem dan abu-abu lembut, sangat kontras dengan kepribadiannya yang tajam di kantor. Di sini, tidak ada sekretaris eksekutif yang kaku atau peretas yang waspada. Yang ada hanyalah dua manusia yang mencoba merebut kembali kemanusiaan mereka dari cengkeraman korporat. Siang itu Kresna sengaja berkunjung ke apartemen Cindy sebagai ganti kencan mereka. Mereka menghabiskan hari minggu dengan suasana kesederhanaan yang tenang. Mereka tidak pergi ke mal mewah atau restoran berbintang. Kresna, yang biasanya menghabiskan akhir pekan di depan ti
Jam di salah satu sisi dinding ruang tengah telah menunjukkan pukul tiga pagi, Cindy mulai merasa mata dan kepalanya berat. Kresna melihatnya menguap berkali-kali dan akhirnya menghela napas sebelum berkata. "Cukup dulu untuk malam ini," katanya dengan suara serak. "Masuklah kamar. Kamu butuh isti
Setelah beberapa jam bekerja tanpa istirahat, mata Cindy mulai berat. Dia melihat Kresna yang masih fokus meneliti setiap detail data dengan kedua mata yang sudah mulai menonjol akibat terlalu banyak menatap monitor. Meskipun sudah berhasil menyimpan sebagian bukti, mereka masih belum m
Salah satu perangkat keras di meja tiba-tiba berbunyi bip keras. Layar menunjukkan bahwa mereka berhasil menyeberangi lapisan keamanan si pelaku sebenarnya. "Kita mendapatkan lokasi terakhir dari siapa yang menyebarkan data rahasia!" seru Kresna dengan mata yang bersinar. "Di sebuah ruang kosong d
"Hei," Kresna menyentuh lengan Cindy perlahan—sebuah kontak fisik pertama yang membuat Cindy tersentak kecil. "Aku tidak peduli pada rahasia pribadimu. Aku hanya peduli pada siapa yang sudah berani mengotori kode buatanku dengan namamu. Kita selesaikan ini, lalu kamu bisa kembali jadi sekretaris






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews