Liora terbangun mendadak, kepala berdenyut berat seperti dipukul dari dalam. Ia memicingkan mata, melihat jam masih jauh dari pagi. Lampu kamar mati, hanya cahaya kota dari balik jendela yang masuk menyusup ke ruangan. Liora menyeret kakinya keluar kamar. “Haus …,” gumamnya. Di sana, berdiri Steven. Punggungnya tegap, siluetnya diterpa cahaya. Ia sedang meminum wine sambil menatap ke luar, seolah sedang mengejar sesuatu yang tak bisa dijangkau. Steven menoleh sekilas. “Minum air putih di meja bar.” Tapi alih-alih mengambil air, Liora mendekat dan meraih gelas wine di tangan Steven lalu meneguknya tanpa pikir panjang. “Liora!” Steven kaget dan langsung merebut gelas itu. “Kau bisa. makin mabuk! Pergi tidur!” Namun, Liora makin mendekat. Dengan dua tangan, ia menangkup wajah Steven, memaksanya menatapnya. Pandangannya kabur, tetapi emosinya jelas. “Kenapa kau ada di sini?” Suaranya lirih, tetapi menusuk. “Kenapa tidak tidur saja … di rumah Rachel?” Steven mengembus
اقرأ المزيد