LOGIN"Bagaimana keadaannya di dalam, Dok? Suara teriakannya sudah berhenti sejak dua jam yang lalu."Ratih mendongak, menatap Dokter Harsha yang baru saja melangkah mendekat menyusuri lorong bawah tanah yang dingin. Tangan gadis itu masih memeluk lututnya erat-erat, bersandar pada pintu baja berkarat yang mengurung suaminya. Matanya sembab dan kemerahan, menyiratkan siksaan kurang tidur yang harus ia tahan demi menjaga pintu tersebut.Dokter Harsha menghela napas pelan, menyodorkan segelas teh hangat yang baru saja ia bawa dari lantai atas. "Minumlah dulu, Nduk Ratih. Bibirmu sudah pucat pasi begitu. Jangan sampai kau jatuh sakit saat suamimu sedang berjuang mencari kewarasannya di dalam sana.""Aku tidak haus, Dok," tolak Ratih pelan, suaranya bergetar. "Aku cuma takut. Tadi Kukuh menggeram dan membentak-bentak seperti
"Le... panas, Le... Bapak sudah nggak kuat..."Suara parau dan menyayat hati itu memecah keheningan absolut yang telah menyekap Kukuh selama tujuh puluh dua jam terakhir.Kukuh tersentak keras. Matanya yang sudah terbiasa dengan kegelapan gulita langsung terbuka lebar. Napasnya yang semula teratur mengikuti irama semedi, mendadak memburu tak terkendali."Bapak?" bisik Kukuh, suaranya serak karena tenggorokannya mengering. Ia meraba-raba ruang kosong di depannya. "Bapak di mana?""Tolong Bapak, Le... Daging Bapak rasanya seperti dipanggang hidup-hidup dari dalam... Tolong keluarkan apinya, Kuh..."Rintihan itu terdengar begitu dekat, seolah Pak Kasiman sedang merangkak di atas lantai batu yang dingin, tepat di samping kaki Kuk
"Kukuh, Ratih... kalian baru sampai?"Suara lembut Dian Ayu menyambut langkah mereka begitu pintu utama Mansion Cokro terbuka. Wanita paruh baya yang kini telah menerima Kukuh sepenuhnya itu melangkah tergesa menghampiri, wajahnya memancarkan gurat kecemasan yang tulus. Di belakangnya, Adiwangsa menyusul dengan raut wajah penuh empati."Kuh," Adiwangsa menepuk pelan bahu menantunya itu, memberikan sebuah tepukan kebapakan yang menguatkan. "Bapak dan Ibu baru saja mendapat kabar dari Pak Supri. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kami turut berduka cita sedalam-dalamnya atas kepergian Bapak Kasiman."Kukuh sedikit tertegun. Sikap mertuanya benar-benar telah berubah drastis sejak ia membuktikan kesetiaannya pada keluarga ini.
"Tirakatan seperti apa yang harus saya jalani, Dok?" tanya Kukuh, suaranya masih terdengar serak namun sepasang mata cokelatnya kini menatap dengan jauh lebih jernih.Dokter Harsha tidak langsung menjawab. Pria sepuh itu berjalan perlahan menuju sebuah kursi kayu jati di sudut ruangan, lalu duduk dan memberi isyarat agar Kukuh dan Ratih ikut beristirahat. Di dekat mereka, Dokter Adhi berdiri bersandar pada meja obsidian, menyimak dengan saksama."Duduklah kalian berdua," ucap Dokter Harsha tenang.Kukuh mengangguk pelan. Ia meraih kemejanya yang sempat dikoyak, mengenakannya seadanya untuk menutupi rajah baru yang masih berdenyut di dadanya, lalu duduk di sebelah Ratih. Gadis bermata abu-abu itu langsung menggenggam erat telapak tangan suaminya, seolah enggan melepaskannya barang sedetik pun."Tinta yang baru saja menyatu dengan dagingmu itu bukanlah benda mati, Nak Kukuh," jelas Dokter Harsha, memecah keheningan Lantai 41. "Campuran darah gagak putih, kobra hijau, kebo bule, genderuw
"Beritahu saya lokasinya, Dokter," desak Kukuh. Langkah kakinya yang panjang dan tegap bergerak lurus menuju pintu baja Lantai 41. Sepasang matanya yang masih menyala merah menatap tanpa keraguan. Hawa panas menguar dari sekujur tubuhnya, mengabaikan suhu steril ruangan yang dingin.Dokter Harsha tidak bergeser satu sentimeter pun. Pria sepuh itu berdiri tepat di depan pintu, melipat kedua tangannya di belakang punggung, menghalangi jalan keluar sang pewaris."Aku tidak akan memberitahumu, Nak Kukuh," jawab Dokter Harsha tenang. Nadanya tidak tinggi, namun bergema dengan otoritas mutlak yang membuat udara di sekeliling mereka terasa berat dan padat."Dokter!" Suara Kukuh meninggi, dadanya naik turun menahan gejolak energi yang meronta minta dilepaskan. "Anda sendiri yang baru saja bilang kalau tenaga saya sudah kembali utuh! Wadah fisik saya sudah diperluas! Kenapa Anda malah menahan saya di sini?! Biarkan saya menghabisi para pembunuh itu sekarang!""Jaga nada bicaramu, Kukuh!" sela
"Dokter... apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa seranganku bisa berbalik menghantam dadaku sendiri dengan kekuatan yang berlipat ganda?"Suara bariton Kukuh memecah keheningan di Lantai 41. Pemuda itu kini duduk tegak di atas altar galih randu alas. Napasnya perlahan mulai teratur, namun sepasang mata cokelatnya menatap tajam ke arah Dokter Harsha, menuntut sebuah jawaban logis atas kekalahan fatalnya malam itu. Tangannya secara refleks meraba dada dan punggungnya yang kini dipenuhi oleh ukiran rajah baru yang terasa menyatu utuh dengan dagingnya.Dokter Harsha yang baru saja selesai membersihkan sisa noda darah dari tangannya menghela napas panjang. Pria sepuh itu berbalik, menatap murid sekaligus pewaris sah keluarganya itu dengan raut wajah tenang namun sarat akan keseriusan."Kau terlalu gegabah, Nak Kukuh. Kau membiarkan amarah buta mengendalikan tenaga murnimu," jawab Dokter Harsha, suaranya menggema pelan di ruang operasi rahasia tersebut. "Ragil Bowo Sasmita bukanlah mus
Jari polisi itu gemetar hebat saat menekan tombol terima di layar ponselnya. Belum sempat ia mengucapkan salam pembuka, sebuah suara bariton yang sangat menggelegar meledak dari seberang panggilan itu adalah suara Kapolda, pimpinan tertingginya di kepolisian provinsi ini."Kamu bosan hidup atau bosa
Di meja sebelahnya, tepat di atas mangkok seorang bapak yang sedang makan dengan sangat lahap, bertengger sebuah sosok yang membuat darah Kukuh berdesir. Sosok itu berbadan sangat kurus hingga tulang rusuknya menonjol, dengan rambut putih yang sangat jarang dan acak-acakan. Matanya merah menyala, m
Kantor pusat Grup Aji Saka menempati lantai empat puluh tujuh. Nama gedungnya saja sudah cukup membuat nyali kaum rendahan ciut sebelum mereka berani melewati pintu putar lobi.Di dalam ruang direktur yang mewah, Adiwangsa berdiri kaku menghadap jendela selebar dinding . Melihat ibu kota Jakarta ya
"Ini kegilaan."Dian mendesis tajam, buku-buku jarinya memutih mencengkeram tepi meja mahoni . Suaranya tidak melengking seperti yang biasa ia gunakan untuk mendominasi rapat keluarga, melainkan serak dan mendidih oleh amarah yang tertahan . "Ayah pasti sudah benar-benar kehilangan akalnya di detik







