Sasha menyentuh perutnya. Ada tonjolan kecil yang mulai terasa nyata di balik daster tipisnya. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu."Kita aman, Sayang. Kita aman di sini," bisiknya pelan, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada bayi yang dikandungnya.Ia turun dari ranjang, langkah kakinya yang telanjang bersentuhan dengan lantai kayu yang dingin. Di sudut ruangan, sebuah lilin kecil masih menyala di depan foto Nenek Wati yang tersenyum lembut. Sasha mengusap bingkai foto tersebut, merasakan perih yang kembali menyayat hatinya."Nek, nenek kan bilang, rumah selalu tempat yang paling aman," gumamnya, mata mulai berkaca-kaca. "Kita aman, tapi aku rindu nenek.”Ia menghembuskan napas panjang, mencoba menekan rasa rindu yang meluap. Saat hendak berbalik, suara langkah kaki pelan terdengar dari arah pintu."Masih merindukan nenekmu ya, Nak?"Sasha menoleh, melihat Bu Lastri berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh kepedulian."Bu Lastri... Maaf, a
Última atualização : 2026-03-02 Ler mais