Share

116

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-03-05 11:31:31

"Oalah... jadi begini kelakuanmu kalau aku lengah, Mas?!" teriak Siti. Suaranya melengking, memecah kesunyian sore dan memancing perhatian beberapa warga yang sedang duduk-duduk di pos ronda tak jauh dari sana.

Rianto terlonjak kaget, langsung melepaskan tangan Sasha. Bukannya merasa bersalah pada istrinya, ia justru memasang wajah panik yang licik. "Ti! Ini tidak seperti yang kamu lihat! Dia... dia yang minta minum padaku!"

Sasha terbelalak. "Apa? Mas Rianto yang datang ke sini!"

Siti berlari
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 146

    "Semuanya hancur. Semua gara gara ayah begomu ini, Clarissa!”Clarisa pun dihubungi. Bukan hanya shock, Clarissa pun mendapat imbas dari perbuatan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan besar Aditama, membuat dia dalam masalah besar.“Mama gak lagi bercanda kan? Aku baru saja akan naik jabatan.”“Entahlah! Mama tak tahu harus ke mana. Rumah, mobil sudah disita. Mama mau ke mana coba?”“Ya udah, ke apartemen aku dulu. Aku yakin papa juga akan ke sana.”Linda pun mematikan telepon, dia langsung meminta supir menuju apartemen Clarissa. Di sana, ternyata Bram ternyata sudah menunggu."Dengar, Linda! Aku tidak tahu kalau akan jadi seperti ini.”Clarisa belum sampai di sana, dia masih di jalan dan keduanya tengah menunggu dan berdiri di ambang pintu.“Aku udah gak peduli. Mas harus cari Sasha dan minta anak itu membuat William percaya lagi dengan kita.”“Bagaimana mungkin? Aku saja tidak tahu di mana anak itu sekarang!" Jawab Bram.Clarisa sampai. Wajahnya terlihat marah dan meledak. “Claris

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 145

    Pagi itu, di kediaman mewah Bram yang dibeli dari hasil uang duka William, suasana mendadak berubah mencekam. Linda, sedang menikmati teh paginya ketika tiga unit mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang. Beberapa pria berseragam petugas sita Hb masuk ke properti pribadi. Bahkan teriakan Linda yang histeris saat petugas mulai menempelkan stiker penyitaan pada pilar rumah menyita perhatian bnyak orang."Ibu Linda, rumah ini tercatat sebagai jaminan atas dana talangan yang tidak pernah dikembalikan kepada Aditama Group. Selain itu, ada temuan pencucian uang terkait aliran dana dari PT. Cahaya Bangun. Silakan kosongkan rumah ini dalam dua jam, atau kami akan memanggil pihak berwajib untuk pengosongan paksa," ucap sang pengacara dengan nada sedatar tembok.Linda gemetar. Ia mencoba menghubungi Bram, namun ponsel suaminya tidak aktif. Ia mencoba menghubungi Clarissa putri kesayangannya, namun yang menjawab adalah suara operator ponsel. “Kenapa semua orang mendadak tidak bisa dihubungi.

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    "Banyakk. Termasuk….”William menyesap kopinya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Bramanto yang mulai memucat. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa napas ketenangan Bramanto."Tentang golongan darah.Sasha," ucap William sangat pelan.Bramanto mengernyit, mencoba tertawa kecil yang terdengar sumbang. "Golongan darah? Nak William, kamu tahu sendiri Sasha bergolongan darah O, sama seperti almarhum ibunya. Untuk apa menanyakan itu pada dokter?"William meletakkan cangkirnya ke meja dengan denting yang tajam. Ia menyandarkan punggung, menyilangkan kaki dengan santai namun auranya begitu mengancam. "Itu dia masalahnya, Bram. Semalam aku memeriksa kembali berkas kesehatan lama miliknya saat kami masih bersama. Di sana tertulis jelas bahwa Sasha bergolongan darah AB."William mencondongkan tubuh, tatapannya menghunus. "Jadi, Bram... jika Sasha bergolongan darah AB, bagaimana mungkin hasil autopsi j

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 145

    William tidak lagi menyandarkan kepalanya. Ia duduk tegak, kekakuan di bahunya menandakan badai yang sedang mengumpul di balik dadanya. Jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan kursi mobil dengan irama yang konstan dan mematikan, sebuah tanda bahwa William sedang menyusun strategi penghancuran."Hendri," suara William rendah, hampir berupa bisikan, namun penuh dengan racun. "Besok pagi, cabut semua akses keuangan yang terhubung dengan nama Bramanto. Semua kartu kredit perusahaan, tunjangan kesehatan keluarga, hingga rekening operasional yang saya berikan untuk 'bisnis' sampahnya itu. Bekukan semuanya.""Baik, Pak. Bagaimana dengan posisinya di anak perusahaan?" tanya Hendri sambil melirik spion tengah.William menyeringai tipis, sebuah ekspresi tanpa kehangatan. "Biarkan dia tetap di sana untuk beberapa hari ke depan. Aku ingin dia merasakan kecemasan yang merayap. Aku ingin dia meneleponku dengan suara gemetar, memohon penjelasan mengapa aliran uangnya mati secara tiba-tiba."Pikira

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    “Jika benar Sasha masih hidup, aku akan balas kebohongan ini!”William menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang empuk, namun pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Pantas selama ini dia curiga dengan Bram yang kembali dan meminta belas kasihnya dengan dalih kematian Sasha. Benar benar dia sudah ditipu oleh lelaki yang menjadi ayah Sasha selama ini."Hendri," suara William memecah keheningan kabin mobil. "Kamu tahu rumah anak itu tinggal?”“Tahu, Pak. Kita ke sana atau ke sekolah anaknya?”“Rumahnya. Jam segini pasti tak ada di sekolah.”Hendri mengangguk cepat, tangannya langsung menarik tuas gigi mobil. "Baik, Pak. Lalu apa rencana Bapak?”William menatap keluar jendela, melihat siluet sekolah dasar yang tadi mereka lewati. "Kita akan lihat dulu, kebohongan apa yang sudah ayah dan anaknya lakukan padaku.”William memejamkan mata, membayangkan semua kejadian dalam hidupnya, membuat William merasa perlu bertemu Sasha. Bukan untuk menuntut pelayanan seperti dulu, tapi me

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   143

    Ruangan kerja itu sewangi kayu ek dan aroma kopi arabika yang pekat, namun suasananya sedingin es sama seperti pemiliknya. William duduk di balik meja mahoninya yang luas, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang monoton dan presisi. Di kepalanya terisi banyak hal termasuk wajah Arlan yang dia temui tempo hari.Hendri, asisten setianya selama hampir satu dekade, berdiri dengan sikap sempurna. Ia adalah satu-satunya orang yang diizinkan masuk ke ruang privat ini, namun tetap saja, ia harus menjaga jarak aman."Besok tanggal lima belas, Pak," ucap Hendri pelan.William tidak mendongak. Ia hanya menghentikan ketukan jarinya. "Aku tahu. Siapkan bunganya. Lili putih. Pastikan kelopaknya tidak ada yang cacat sedikit pun.""Sudah saya pesan, Pak. Jam sepuluh pagi, mobil akan siap," jawab Hendri. Ia ragu sejenak, melihat pundak William yang tampak tegang meskipun pria itu duduk dengan tegak. "Pak... ini sudah tahun kelima.”“Lalu?”“Apakah Bapak tidak ingin men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status