"Halo, Jagoan. Sudah merasa lebih baik?"“Lumayan, Om sepatu kaca juga baik kah? Kata Mama, Om juga sakit!”“Sepertinya mama kamu salah, Om baik baik saja. Kamu lihat sendiri. Om sehat kan? Bahkan Om bawa hadiah buat kamu.”Mata Arlan membelalak melihat mainan itu. "Wah! Ini untuk Arlan, Om?""Tentu. Kamu senang?”“Senang, makasih, Om.”“Sama sama. Dan mulai besok, panggil Om Papa. Ya?”“Papa?” Arlan tampak bingung, bahkan dia sampai menengok ke arah Sasha. “Emang boleh, Ma, panggil Om sepatu kaca dengan Papa?”Sasha hanya membuang muka, menolak permintaan Willliam sama saja mencari mati.“Kenapa gak boeh? Kamu memang anakku.”“Iyakah? Tapi kata mama, aku gak punya ayah.”“Mulai sekarang, Om akan jadi ayahku.”Arlan tampak takut tapi William memeluknya. “Mamamu sudah memintamu ikut dengan Om. Nanti kamu tidak akan tinggal di kamar sempit lagi. Kamu akan punya kamar yang besarnya seperti lapangan bola, lengkap dengan kolam renang di luar jendelamu. Kau mau?"Arlan menoleh ke arah ibuny
続きを読む