Sasha ingin menjerit. Raka benar-benar tidak peka. Ia tidak tahu bahwa remasan tangan Sasha adalah jeritan minta tolong atau mungkin, jeritan kenikmatan yang tertahan."Wanita memang harus dididik, Raka," ucap William santai, menarik kakinya perlahan turun, meninggalkan jejak panas yang membuat Sasha merasa kosong seketika. "Tapi pastikan kamu yang mendidiknya, bukan orang lain."Makan malam itu akhirnya selesai. Bagi Sasha, rasanya seperti baru saja lari maraton. Tubuhnya lemas, keringat dingin membasahi punggungnya.Mereka semua berjalan mengantar William ke pintu depan."Terima kasih atas jamuannya, Pak Bram, Bu Linda," ucap William sopan, menyalami mereka satu per satu."Sering-sering mampir ya, William!" seru Bram."Pasti, Pak."William beralih ke Raka, mengangguk singkat. Lalu, ia berdiri di hadapan Sasha.Sasha tidak berani menatap mata pria itu. Ia menunduk, menatap sepatu kulit William yang mengkilap sepatu yang membungkus kaki yang baru saja menjajahnya."Sasha," panggil Wil
Terakhir Diperbarui : 2026-01-06 Baca selengkapnya