Share

bab 22

Penulis: Azzura Rei
last update Tanggal publikasi: 2026-01-05 21:44:54

"Sasha! Ngapain kamu melamun di situ? Tamu penting Papa sebentar lagi datang!"

Suara melengking Ibu Tirinya, Linda, memecah lamunan Sasha. Wanita paruh baya itu turun dari tangga dengan gaun warna emas yang terlalu mencolok dan perhiasan imitasi yang berlebihan di leher dan pergelangan tangannya. Di belakangnya, Clarissa mengekor dengan dress merah ketat yang memamerkan belahan dada, wajahnya dipoles makeup tebal, siap untuk berperang memperebutkan perhatian.

"Iya, Ma. Aku sudah siap," jawab Sa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 224

    Sasha merasakan kenyamanan yang luar biasa berada di ruangan ini. Di sini, di dalam paviliun medis yang terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar, ia merasa seolah menemukan kembali rumah yang sesungguhnya. Tidak ada teror dari Bram, tidak ada tatapan menghakimi dari masyarakat, dan tidak ada ketegangan politik keluarga besar yang melelahkan. Hanya ada mereka bertiga dan bayangan perlindungan William yang terasa sangat nyata mengitari ruangan.Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Arlan mulai kelelahan. Bocah itu akhirnya tertidur di sofa panjang yang terletak di sudut ruangan, berbantalkan jaket tebal milik Sasha. Suasana kamar kembali hening, hanya menyisakan suara detik jam dinding dan desis pendingin ruangan yang lembut.Sasha berjalan mendekati Bu Lastri yang kini sudah bersandar di ranjang rumah sakitnya. Ia membetulkan letak selimut wol tebal hingga sebatas dada wanita tua itu.Saat melihat wajah sepuh yang mulai memejamkan mata dengan damai, sebuah rasa enggan yang teramat

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 223

    Pintu kamar 402 kembali berdesis halus saat Sasha menuntun Arlan masuk. Bocah kecil itu masih tampak setengah mengantuk, matanya yang bulat mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi yang terang benderang menembus jendela paviliun. Namun, begitu manik matanya menangkap sosok wanita tua yang duduk di kursi roda, seluruh sisa kantuknya lenyap seketika."Nenek Lastri!"Pekikan riang Arlan memecah keheningan ruangan yang semula terasa begitu tegang. Bocah itu melepaskan genggaman tangan Sasha dan berlari kecil, langsung menghambur ke pelukan Bu Lastri. Dengan hati-hati namun penuh kerinduan, ia menyandarkan kepalanya di pangkuan wanita tua itu.Bu Lastri tertawa lirih sebuah suara renyah yang sudah sangat dirindukan Sasha selama beberapa hari terakhir ini. Tangan Bu Lastri yang gemetar dan seputih perak itu mengusap rambut Arlan dengan penuh kasih sayang."Cucu Nenek yang tampan... sudah besar ya sekarang," bisik Bu Lastri, suaranya bergetar menahan haru. Air m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   222

    Bu Lastri mengangguk pelan, menatap William dengan rasa sayang yang dalam, meski ada sedikit ketakutan di sana. "Nak William sebenarnya senang melihat ibu ada bersamamu, dia sempat khawatir saat kamu dibawa Bram. Ibu sengaja menghilangkan jejak demi keamanan mu dan tugas ibu selesai saat ibu membawamu kembali padanya. Namun, nasib ibu kurang beruntung. Ibu sakit dan harus menjalani perawatan. Dia membawaku ke rumah sakit terbaik, membiayai semuanya, tapi dia memintaku untuk tetap berada di dekatmu dan Arlan tanpa pernah menyebut namanya."Sasha berdiri, langkahnya terasa berat saat mendekati William. "Will? Kenapa? Kenapa kau menyembunyikan ini dariku? Kau membiarkanku menganggap Ibu sebagai malaikat penolong yang datang dari langit, sementara kau... kau berpura-pura membencinya?"William menarik napas panjang, merapikan lengan kemeja linennya yang sebenarnya sudah sempurna, sebuah gestur mekanis untuk menjaga kewibawaannya yang mulai retak. Suaranya terdengar stabil, dingin, namun m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 221

    Keesokan paginya, langit di atas pegunungan masih berselimut kabut tipis saat mobil SUV hitam milik William membelah jalanan berkelok. Di kursi belakang, Arlan tertidur pulas dengan kepala bersandar pada bantal kecil, sementara di kursi depan, suasana hening menyelimuti. Bukan keheningan yang menyesakkan seperti biasanya, melainkan keheningan yang penuh dengan antisipasi dan beban rahasia yang mulai terkikis.William menyetir dengan rahang yang terkatup rapat, jemarinya terkadang mengetuk kemudi dengan ritme yang tidak beraturan tanda bahwa pria itu sedang berperang dengan kecemasannya sendiri. Sasha, yang duduk di sampingnya, hanya menatap hamparan pohon pinus di luar jendela, tangannya sesekali menyentuh lengan William seolah memberikan jangkar agar pria itu tidak hanyut dalam ketakutannya.Tujuan mereka bukan panti jompo biasa, melainkan sebuah paviliun medis khusus di rumah sakit swasta yang tersembunyi di pinggiran kota. Di sanalah William menyembunyikan masa lalunya, membayarnya

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 220

    “Mana mungkin aku seberani itu,” goda Sasha tapi jemari mengusap pipi William dan memicu hasrat terpendam itu keluar.William tertegun sejenak, napasnya tertahan di tenggorokan saat merasakan sentuhan lembut namun tegas dari jemari Sasha. Sentuhan itu tidak terasa seperti perlawanan, melainkan sebuah undangan yang selama ini ia dambakan namun terlalu gengsi untuk diminta. Ia menangkap tangan Sasha, mengecup telapak tangannya lama, lalu menatap istrinya dengan sorot mata yang tak lagi tajam karena kecurigaan, melainkan redup oleh gairah yang mulai membakar."Keberanianmu adalah hal yang paling berbahaya bagiku, Sasha," bisik William, suaranya kini serak dan rendah. Ia menarik Sasha lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka, aroma tubuh Sasha yang menenangkan bercampur dengan udara dingin pegunungan menciptakan kontras yang memabukkan.Sasha hanya tersenyum tipis, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada bidang William."Siapa juga yang menggoda. Aku tidak ingi

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 219

    Sabtu pagi yang dijanjikan tiba dengan langit yang diselimuti kabut tipis, memberikan kesan misterius pada perjalanan mereka menuju sebuah vila pribadi di lereng pegunungan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. William tampak lebih rileks, meski kewaspadaannya tidak pernah benar-benar padam. Di kursi belakang, Arlan duduk dengan tenang, jemarinya menggenggam sebuah buku gambar, sesekali menatap keluar jendela dengan tatapan yang jauh melampaui usianya."Lihat itu, Arlan," ujar Sasha lembut, menunjuk ke arah hamparan kebun teh yang menghijau. "Nanti di sana kita bisa jalan-jalan sebentar. Kamu mau menggambar pemandangan?"Arlan mengangguk pelan, memberikan senyum tipis yang jarang terlihat. William yang sedang mengemudi melirik melalui spion tengah, sebuah kilatan kepuasan muncul di matanya melihat pemandangan keluarga kecil yang "harmonis" itu. Baginya, ini adalah kesuksesan; sebuah keteraturan yang berhasil ia paksakan.Setibanya di vila, Sasha menjalankan perannya dengan sempurna. Ia tid

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 146

    "Semuanya hancur. Semua gara gara ayah begomu ini, Clarissa!”Clarisa pun dihubungi. Bukan hanya shock, Clarissa pun mendapat imbas dari perbuatan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan besar Aditama, membuat dia dalam masalah besar.“Mama gak lagi bercanda kan? Aku baru saja akan naik jabatan.”“Entah

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    "Banyakk. Termasuk….”William menyesap kopinya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Bramanto yang mulai memucat. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa napas ketenangan Bramanto."Tentang golongan darah.Sasha

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    “Jika benar Sasha masih hidup, aku akan balas kebohongan ini!”William menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang empuk, namun pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Pantas selama ini dia curiga dengan Bram yang kembali dan meminta belas kasihnya dengan dalih kematian Sasha. Benar ben

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   143

    Ruangan kerja itu sewangi kayu ek dan aroma kopi arabika yang pekat, namun suasananya sedingin es sama seperti pemiliknya. William duduk di balik meja mahoninya yang luas, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang monoton dan presisi. Di kepalanya terisi banyak hal ter

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status