MasukWilliam memejamkan matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan kasar untuk meredakan gejolak di dadanya yang masih naik-turun. Ia menatap Sasha dengan pandangan menusuk yang seolah mengatakan hal yang justru membuat Sasha semakin asyik menikmati pemandangan langka tersebut."Tunggu di situ," perintah William dengan suara yang ditekan serendah mungkin, terdengar serak dan berbahaya.William berbalik memunggungi Sasha, membenarkan posisi pakaiannya, mengancingkan kembali celananya, dan merapikan kemejanya yang sedikit kusut dengan gerakan gusar yang kentara. Setelah memastikan penampilannya kembali prima dan profesional meski telinganya masih memerah menahan hasrat William melangkah menuju pintu.Ia membuka pintu hanya selebar celah yang cukup untuk tubuhnya, menghalangi pandangan Karina agar tidak bisa melihat ke dalam ruangan tempat Sasha duduk di atas meja."Manajemen waktu kamu sangat buruk, Karina," ucap William dingin, suaranya terdengar seperti es yang m
Sentuhan jari William di rahangnya terasa seperti aliran listrik yang langsung melumpuhkan sisa-sisa argumen di kepala Sasha. Keberanian yang sempat ciut saat melewati lobi kantor tadi mendadak berganti menjadi debaran adrenalin yang pekat. Tatapan William yang menggelap, tanpa jarak, dan menuntut, membuat Sasha tidak bisa berpikir jernih lagi.Tanpa menjawab, Sasha justru memajukan wajahnya, memangkas sisa jarak yang ada untuk menyatukan bibir mereka. Tindakan impulsif itu seperti menyulut sumbu dinamit. William mengerang rendah, langsung memperdalam ciuman mereka dengan dominasi yang mutlak. Tubuh Sasha terdorong hingga punggungnya merapat pada dinding marmer yang dingin, namun rasa dingin itu segera menguap oleh kehangatan tubuh William yang menghimpitnya.Tangan William bergerak cepat, menuntun pinggang Sasha agar semakin merapat padanya. Setelan kemeja kerja William yang rapi mulai kusut oleh cengkraman tangan Sasha yang mencari pegangan. Di antara deru napas yang memburu dan k
Sasha menahan napas sejenak, merasakan embusan napas William yang hangat menerpa kulit pelipisnya hingga mengirimkan gelenyar halus ke seluruh tubuh. Pertanyaan retoris yang berbisik begitu dekat itu membuat pertahanannya semakin terkikis.Ia melirik ke arah kaca spion depan dengan panik. Meskipun sekat kaca tipis dan profesionalitas supir pribadi William menjamin privasi mereka, posisi tubuh William yang teramat dekat ini tetap saja membuat Sasha merasa sedang melakukan sesuatu yang terlarang di tempat umum."P-Pak William, tolong mundur sedikit," cicit Sasha, mencoba mendorong dada bidang pria itu dengan tangan kirinya yang bebas. Namun, alih-alih bergeser, otot dada William yang keras di balik setelan jas mahalnya justru terasa seperti dinding kokoh yang mustahil dipindahkan.William terkekeh rendah, sebuah suara berat yang menggetarkan rongga dadanya dan terdengar begitu intim di telinga Sasha. Bukannya mundur, tautan jemari mereka di atas armest justru semakin dipererat, mengunci
"Salah kirim?" “Hehehe, pis…” Sasha memasang wajah lugunya.Jantung Sasha seolah melompat keluar saat melihat ponselnya kini berada di genggaman tangan besar William. Pria itu membuka layarnya tanpa kesulitan—karena ia tahu kata sandinya dan menatap ruang obrolan mereka."Kalimat ranjang' itu... kamu tujukan untuk siapa lagi kalau bukan untuk aku, hm?" William membaca kembali pesan itu dengan nada datar, namun penuh intimidasi yang sensual.Wajah Sasha seketika memanas, merah padam hingga ke ujung telinga. Ia mencoba merebut ponselnya, namun William dengan mudah mengangkat benda itu tinggi-tinggi, menjauhkannya dari jangkauan Sasha."Pak William, ini di kampus! Kalau ada dosen atau mahasiswa lain yang lewat bagaimana?" bisik Sasha panik, suaranya parau karena menahan malu."Maka dari itu, ikut saya sekarang," ujar William tegas. Ia memasukkan ponsel Sasha ke dalam saku jasnya sendiri, lalu berbalik arah menuju koridor samping yang terhubung langsung dengan area parkir VIP, tempat m
Sasha membeku. Suara bariton yang berat, dalam, dan sarat akan otoritas itu sama sekali tidak asing di telinganya. Jantungnya yang baru saja berdegup kencang karena aksi kejar-kejaran dengan Nina, kini serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh.Ia mendongak perlahan, menyusuri sepasang sepatu pantofel hitam yang mengilat, celana kain berpotongan sempurna, hingga berakhir pada wajah tegas dengan rahang kokoh yang kini tengah menatapnya datar.William.Pria itu berdiri tegap di koridor kampus dengan setelan jas formalnya, tampak luar biasa mencolok di antara lingkungan para mahasiswa. Di belakangnya, beberapa jajaran dekanat dan rektorat kampus tampak mengekor dengan raut wajah sungkan."P-Pak William?" cicit Nina yang berada beberapa langkah di belakang Sasha. Nyali dosen muda itu seketika menciut. Ia buru-buru menyembunyikan ponsel Sasha di balik punggungnya, wajahnya memucat melihat siapa yang baru saja mereka tabrak.William tidak mengindahkan sapaan Nina. Sepasang mata elang
Sasha segera meletakkan ponselnya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya. Sesaat setelah pesan itu terkirim, ia baru menyadari apa yang baru saja ia ketik. Matanya membelalak, wajahnya seketika memerah padam hingga ke pangkal leher."Apa yang baru saja kulakukan?" bisiknya pada diri sendiri, napasnya tertahan.Ia ingin sekali menarik kembali pesan tersebut, namun tanda centang biru sudah muncul di sana. William telah membacanya.Detik demi detik berlalu terasa seperti jam. Sasha menatap layar ponsel yang sunyi, tangannya gemetar saat memegang sendok. Ia baru saja menggoda pria yang dikenal paling kaku dan otoriter itu dengan kalimat yang... sangat berani. Mungkin terlalu berani.Ting!Ponselnya bergetar di atas meja kayu. Pesan balasan dari William muncul, singkat dan dingin seperti biasanya, namun entah mengapa Sasha merasa bisa membayangkan seringai tipis di wajah pria itu saat mengetiknya.“Hukumanmu sudah menanti di rumah. Jangan berani mencoba menghinda
"Apa aku sudah keterlaluan?" bisik Sasha pada kesunyian.Beberapa hari setelah percakapan itu, ketegangan mulai mencair, namun Sasha menyadari perubahan drastis pada putranya. Arlan tidak lagi bertanya tentang ayahnya, bahkan ia berhenti membicarakan sekolahnya. Ia menjadi bayang-bayang yang patuh
“Karena banyak orang jahat di luar sana yang bisa mencelakaimu, Nak.”"Itukah alasan kenapa kita harus pindah lagi dan lagi, kan Ma?"“Iya, makanya nurut sama mama ya? Mama sayang sama kamu, khawatir kalau kamu kenapa napa.”“Seharusnya kita punya papa, Ma. Biar kita aman dan gak khawatir lagi kan?
Meskipun rasa mual terkadang masih menyentak perutnya, Sasha tetap memaksakan diri untuk memantau pesanan keripik di gawai miliknya. Strategi Sasha untuk memproteksi diri kini bukan hanya sekadar bersembunyi, melainkan membangun ekosistem kehidupan yang mandiri di dalam bangunan tua tersebut."Nduk
Sasha menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong, namun jarinya bergerak cepat. Ia tidak peduli lagi pada harga diri yang sedang diinjak-injak oleh Clara melalui nominal angka. Baginya, uang 500 juta itu bukan sekadar sogokan, melainkan biaya penebusan dosa atas semua hinaan yang ia terima hari







