# Suasana restoran mewah itu terlihat tenang dan eksklusif. Di sebuah sudut yang paling tertutup, Gisela duduk dengan anggun, menyesap anggur merahnya sambil sesekali melirik jam tangan. Saat sosok Adhikara muncul dari kejauhan, Gisela segera melambaikan tangan dengan senyum yang tidak bisa ditebak maknanya. "Akhirnya kau datang, kukira kau akan terlambat karena kau bilang kalau kau baru tiba di bandara," ucap Gisela saat Adhikara akhirnya tiba di hadapannya. Adhikara tidak segera duduk. Ia menatap ruangan di sekitar mereka dengan waspada. "Kenapa harus tempat se-private ini?" tanyanya. "Agar kita bisa bicara dengan lebih leluasa tanpa perlu khawatir ada telinga yang tidak diinginkan. Kau tidak memiliki banyak saingan untuk menjadi penerus keluargamu, tapi tidak denganku. Kompetisi di keluargaku cukup ketat, apalagi aku anak perempuan," jawab Gisela enteng. Ia kemudian menyodorkan sebuah amplop cokelat tebal ke atas meja. Adhikara mengerutkan kening, menatap amplop i
Baca selengkapnya