Lastri membeku untuk beberapa saat. Matanya tertuju pada sesuatu yang tak seharusnya ia lihat.Di sana, di sofa ruang kerjanya, Tuan Ardan menyandarkan punggungnya, kepalanya mendongak dengan mata setengah terpejam. Dan yang paling membuatnya syok adalah senjata pamungkas Tuan Ardan yang sedang digenggam menggunakan tangan. Kelima jarinya melingkar, digerakkan naik turun dengan tempo yang sudah diatur.Seketika Lastri berbalik cepat, berpura-pura seolah ia belum melihat apapun."Ma—maaf, Tuan. Saya tidak tahu Anda sedang... emm... maksud saya... saya pikir sedang terjadi sesuatu pada Anda," ucapnya gugup, masih membelakangi Tuan Ardan.Ardan menatap punggung Lastri yang tampak tegang, sementara tangannya membetulkan celana dengan tenang. Meski ia juga sempat terkejut dengan Lastri yang tiba-tiba masuk, tapi ketidaksengajaan itu justru menumbuhkan suatu rencana besar di kepalanya."Kalau begitu saya keluar dulu, Tuan," ucap Lastri kemudian, buru-buru ingin keluar.Belum juga selesai sa
Last Updated : 2026-02-17 Read more