MasukLastri mengangguk, lalu berjalan di belakang Mbok Jiah menaiki tangga. Langkah mereka melambat saat tiba di depan pintu kamar paling ujung. Mbok Jiah mengetuk pelan sebelum masuk.
“Nyonya… ini sarapannya Mbok bawa,” ucapnya sambil membuka pintu. Di dalam kamar, Nyonya Ratih terbaring di ranjang besar dengan sandaran ditinggikan. Tubuhnya tampak kurus, wajahnya pucat namun masih menyisakan garis kecantikan yang lembut. Tangan kirinya terkulai lemah di sisi tubuh, sementara matanya menoleh saat Mbok Jiah mendekat. Mbok Jiah meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang, lalu menoleh pada Lastri. “Nyonya, ini Lastri. Anak baru yang bantu-bantu di rumah. Mulai hari ini, Mbok mau dia belajar ngurus Nyonya juga.” Pandangan Nyonya Ratih beralih ke Lastri. Bibirnya bergerak pelan, suaranya lirih dan sedikit pelo. “Las… tri…” Lastri refleks menunduk sopan. “Iya, Nyonya. Saya Lastri.” Mbok Jiah meraih mangkuk bubur dan sendok, lalu mendekat ke sisi ranjang. “Nduk, perhatiin ya. Nyupain Nyonya harus pelan, sedikit-sedikit. Jangan kepenuhan sendoknya,” ujarnya sambil mencontohkan. Ia menyuapkan sesendok kecil bubur, menunggu sampai Nyonya Ratih menelan dengan baik. Lastri memperhatikan, mulai dari setiap suapan, kunyahan, bahkan ekspresi Nyonya Ratih saat makan. Ada perasaan iba dan kasihan. Hingga dalam hati ia mulai berjanji pada dirinya sendiri akan merawat majikan perempuannya itu dengan baik, sampai kondisinya bisa pulih. Dan ia meyakinkan diri bahwa ia bisa melakukan pekerjaannya dengan mudah. Setelah beberapa suap, Mbok Jiah menyerahkan mangkuk dan sendok itu pada Lastri. “Sekarang kamu coba. Biar Mbok lihat.” Lastri mengangguk. Tangannya sedikit gemetar saat menerima mangkuk itu. Ia duduk di kursi kecil di samping ranjang, menatap Nyonya Ratih dengan gugup. “Pelan-pelan ya, Nyonya,” ucapnya lirih. Nyonya Ratih mengedip pelan, seperti mengangguk. Lastri menyuapkan bubur sedikit demi sedikit, menunggu dengan sabar setiap kali Nyonya Ratih menelan. Sesekali Mbok Jiah mengangguk puas, sesekali membenarkan posisi sendok. “Nah, begitu. Mbok percaya kamu bisa,” bisik Mbok Jiah. “Yang penting sabar. Nyonya nggak bisa tergesa.” Lastri mengangguk lagi, dadanya terasa hangat sekaligus perih. Di hadapannya bukan sekadar majikan, melainkan seorang perempuan rapuh yang hidupnya kini bergantung pada tangan orang lain—termasuk tangannya sendiri mulai hari ini. Cklek! Pintu kamar terbuka. Lastri dan Mbok Jiah refleks menoleh. Tuan Ardan berdiri sejenak di ambang pintu saat melihat Mbok Jiah dan Lastri berada di dalam. Tatapannya tertahan pada pemandangan itu—Lastri duduk canggung di sisi ranjang, menyuapi istrinya dengan penuh kehati-hatian. Tanpa berkata apa pun, ia menutup pintu itu pelan. Lalu terdengar langkah kakinya menuruni tangga. "Kamu lanjutkan dulu menyuapi Nyonya, biar Mbok yang menyusul Tuan Ardan." Lastri mengangguk dan membiarkan Mbok Jiah meninggalkannya sendirian. Meski gugup masih terasa, tapi Lastri berusaha tidak membuat kesalahan di hari pertamanya bekerja. ~~~ Tuan Ardan duduk tenang di meja makan. Tatapannya fokus pada tablet di tangan. Tak berapa lama, Mbok Jiah sudah menyusul dan berdiri tak jauh darinya. “Tuan sarapan di meja?” tanyanya sambil menyeka tangan di celemek. “Iya,” jawab Tuan Ardan singkat. “Baik, saya akan siapkan—” “Tidak usah,” potong Tuan Ardan, nada suaranya tenang namun tegas. “Biar pembantu baru itu saja.” Mbok Jiah tertegun. “Lastri, Tuan?” “Iya. Saya ingin lihat cara kerjanya.” Ia menoleh sekilas ke arah tangga. “Tapi tunggu sampai dia selesai menyuapi istri saya.” Mbok Jiah mengangguk, meski raut wajahnya menyiratkan ragu. Ia pun kembali ke dapur, mengerjakan beberapa hal lain sampai Lastri kembali. Tak lama kemudian, Lastri turun dengan membawa nampan berisi mangkuk yang sudah kosong. Ia meletakkan di wastafel dan hendak mencucinya langsung. Namun, Mbok Jiah segera menahannya dan mengatakan jika Lastri harus menemui Tuan Ardan. “Tuan memanggil saya?” tanya Lastri sopan begitu tiba di dekat meja makan, tak jauh dari tempat duduk Tuan Ardan. “Kamu siapkan sarapan untuk saya,” ujar Tuan Ardan tanpa menatap lama. “Seperti biasa. Mbok Jiah sudah jelaskan?” “Sudah, Tuan,” jawab Lastri cepat, lalu undur diri dan masuk ke dapur dengan perasaan tegang. Ia menyiapkan telur setengah matang, roti panggang, dan sepiring kecil lauk. Semua dilakukan persis seperti arahan Mbok Jiah. Tak butuh waktu lama, Lastri sudah siap menghidangkannya. Saat nampan diletakkan di meja makan, Tuan Ardan langsung mengambil sendok, mengetuk telur, lalu mencicipinya. Alisnya sedikit berkerut. “Kurang pas.” Lastri tercekat. “Maaf, Tuan. Apa… apa yang kurang?” “Putihnya terlalu matang.” Lastri mengangguk mengerti, buru-buru kembali ke dapur, membuat ulang. Kali ini ia lebih berhati-hati, menghitung waktu seperti yang diajarkan Mbok Jiah. Begitu selesai, telur kedua ia sajikan dengan napas tertahan. Tuan Ardan kembali mencicipi. Hening beberapa detik. “Masih belum,” katanya singkat. Wajah Lastri memucat. “Maaf, Tuan. Saya akan—” “Sekarang kopi,” potongnya. Lastri terkesiap, tapi buru-buru mengangguk. Ia kembali ke dapur, membuat kopi pahit dengan sedikit gula, takaran air dan bubuknya sama persis seperti petunjuk Mbok Jiah. Begitu selesai mengaduk, ia berdoa agar Tuan Ardan langsung menyukai kopi buatannya. Lastri melangkah dengan jantung berdebar. Cangkir itu ia letakkan perlahan di hadapan Tuan Ardan. Tuan Ardan langsung mengangkat gelas, menyeruputnya. Sekali. Dua kali. Kemudian meletakkan cangkir itu kembali. “Ini bukan kopi saya.” Kesal dan takut bercampur menjadi satu. Tapi yang bisa Lastri lakukan hanyalah menunduk dalam-dalam. “Maaf, Tuan. Saya sudah mengikuti arahan Mbok Jiah.” Tuan Ardan akhirnya mengangkat wajah, menatapnya lebih lama. Tatapannya tajam, menimbang, bukan marah. “Saya tahu,” katanya datar. “Tapi selera orang tidak selalu bisa dipelajari dari resep.” Ia berdiri, mendorong kursinya perlahan. “Saya tahu kamu masih baru. Tapi saya lebih suka jika kamu cepat belajar. Jadi, jangan biarkan saya berubah pikiran.” Lastri mengangguk meski dadanya terasa sesak. Kalimat itu bagai momok yang menakutkan, sekaligus bahan bakar yang memacu dirinya untuk terus belajar dan belajar. Di balik ketenangan Tuan Ardan, ia menangkap satu hal dengan jelas—mulai hari itu, setiap geraknya akan selalu berada dalam pengamatan. ~~~ Lastri menghampiri Mbok Jiah yang sedang membereskan dapur. Wajahnya pucat, kedua tangannya saling meremas ujung celemek. “Mbok…” suaranya lirih, nyaris bergetar. “Tuan Ardan… apa beliau marah? Saya takut… takut nggak cocok kerja di sini.” Mbok Jiah berhenti, lalu menoleh. Melihat raut Lastri, ia segera menepuk pelan lengan gadis itu. “Hus… jangan kebanyakan mikir, Nduk.” “Tapi kopi sama telurnya dua kali nggak sesuai. Takut Tuan kecewa. Takut… disuruh pergi,” Lastri menunduk, menahan sesak di dada. Ketakutan lain berdesakan di kepalanya—takut gagal, takut kehilangan tempat ini, takut kembali ke keadaan semula. Mbok Jiah tersenyum tipis, penuh pengertian. “Tuan Ardan itu memang begitu. Perfeksionis. Kalau nggak pas, ya dibilang nggak pas. Tapi bukan berarti dia marah atau nggak suka sama kamu.” Ia meraih lap dapur, tangannya tetap bekerja sambil bicara. “Kalau Tuan benar-benar nggak suka, kamu nggak bakal dikasih kesempatan ulang dari awal.” Lastri mengangkat wajahnya sedikit. “Sekarang dengar baik-baik ya,” lanjut Mbok Jiah, nadanya berubah lebih serius. “Habis sarapan, biasanya Tuan Ardan nge-gym di lantai atas. Tepat jam delapan. Nggak pernah molor.” “Gym… di rumah?” tanya Lastri pelan. “Iya. Ruangan paling ujung lantai atas. Nah, pas jam delapan lewat lima belas menit, kamu harus antar minuman.” Mbok Jiah menatap Lastri lurus. “Air hangat dicampur lemon. Nggak boleh terlalu asam, nggak boleh terlalu encer. Gelasnya yang bening, jangan pakai sedotan.” Lastri mengangguk cepat, mencatat dalam kepalanya. “Waktunya juga penting,” Mbok Jiah menambahkan. “Terlalu cepat, Tuan belum mau minum. Terlalu lambat, beliau bisa langsung turun sendiri.” Lastri menelan ludah. “Kalau… kalau rasanya salah lagi?” Mbok Jiah tersenyum, kali ini lebih hangat. “Belajar, Nduk. Mbok juga dulu salah berkali-kali. Tapi Tuan Ardan itu orangnya adil. Selama kamu mau kerja sungguh-sungguh, dia bakal lihat itu.” Ia menepuk pundak Lastri pelan. “Tenang. Kamu sudah melakukan yang terbaik hari ini.” Lastri menghembuskan napas perlahan. Meski rasa takut itu belum sepenuhnya pergi, kata-kata Mbok Jiah memberi pijakan—cukup untuk membuatnya bertahan dan mencoba sekali lagi.Lastri hampir menabrak tubuh Tuan Ardan jika kakinya tidak melangkah mundur dengan cepat. Namun, posisinya yang berada di tepi teras membuatnya hilang keseimbangan dan hampir jatuh ke belakang jika tidak ada tangan kekar yang menopang tubuhnya.Tuan Ardan dengan gerakan gesit menarik tubuh Lastri menggunakan lengannya. Seketika itu juga tubuh Lastri hampir menabrak dada bidangnya jika Lastri tak menahannya dengan tangan. Namun tetap saja, posisi itu terasa sangat intim—Tuan Ardan seperti sedang memeluk Lastri, dan jarak mereka hanya terpisah satu tarikan napas.Lastri membelalak. Jantungnya berdebar cepat--bukan karena sesuatu yang aneh, tapi rasa terkejut yang jadi dua kali lipat. Ditambah tatapan Tuan Ardan yang tajam dan dingin kini tepat berada di depan wajahnya. Ia pun buru-buru melepaskan diri bahkan sebelum otaknya sempat mencerna kejadian yang sedang terjadi."Maaf... maafkan saya, Tuan," ucap Lastri cepat sambil menunduk takut. Jemarinya yang masih menggenggam ponsel saling b
Jam delapan lebih lima menit, Lastri kembali sibuk di dapur. Dengan arahan Mbok Jiah, ia membuat air lemon hangat seperti yang biasa diminum Tuan Ardan. Dan sebelum meletakkan di atas nampan, ia memastikan sekali lagi kekentalannya pas, tidak kurang atau kelebihan.Lastri menarik napas panjang saat tangannya mulai mengangkat nampan. Di sampingnya, Mbok Jiah tersenyum geli melihat sikap Lastri. Lalu dengan lembut ia menepuk pelan bahu Lastri sebagai bentuk dukungan."Tidak apa-apa, Nduk. Tuan hanya sedang mengujimu saja. Mbok yakin kamu pasti lulus," ujarnya ringan.Lastri mengangguk, tak ingin menyangkal ucapan itu. Lagi pula wajar jika seorang majikan ingin menilai kinerja pembantunya. Dan dalam hati, Lastri meyakinkan diri bahwa ia pasti bisa bekerja dengan baik seperti yang diharapkan oleh majikannya.Lastri melangkah mantap saat memijak satu per satu anak tangga. Meski tak dipungkiri bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari langkahnya. Tangannya yang sedikit gemetar, menggenggam
Lastri mengangguk, lalu berjalan di belakang Mbok Jiah menaiki tangga. Langkah mereka melambat saat tiba di depan pintu kamar paling ujung. Mbok Jiah mengetuk pelan sebelum masuk.“Nyonya… ini sarapannya Mbok bawa,” ucapnya sambil membuka pintu.Di dalam kamar, Nyonya Ratih terbaring di ranjang besar dengan sandaran ditinggikan. Tubuhnya tampak kurus, wajahnya pucat namun masih menyisakan garis kecantikan yang lembut. Tangan kirinya terkulai lemah di sisi tubuh, sementara matanya menoleh saat Mbok Jiah mendekat.Mbok Jiah meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang, lalu menoleh pada Lastri.“Nyonya, ini Lastri. Anak baru yang bantu-bantu di rumah. Mulai hari ini, Mbok mau dia belajar ngurus Nyonya juga.”Pandangan Nyonya Ratih beralih ke Lastri. Bibirnya bergerak pelan, suaranya lirih dan sedikit pelo.“Las… tri…”Lastri refleks menunduk sopan. “Iya, Nyonya. Saya Lastri.”Mbok Jiah meraih mangkuk bubur dan sendok, lalu mendekat ke sisi ranjang.“Nduk, perhatiin ya. Nyupain Nyo
Motor ojek yang dinaiki Lastri berhenti di depan gerbang tinggi berwarna hitam doff. Rumah di balik pagar itu tampak megah, berpilar putih dengan taman rapi dan suara gemericik air dari kolam kecil di samping teras. Lastri menarik napas panjang sebelum menurunkan tas jinjing berisi pakaian dan beberapa barang pribadi."Ya Allah, gede banget rumahnya...," gumam Lastri pelan, menatap kagum sekaligus gugup.Gerbang terbuka otomatis setelah satpam memberi izin. Tak lupa Lastri mengucapkan terima kasih setelah satpam itu mengantarnya sampai depan pintu utama. Dari dalam, seorang wanita paruh baya berjalan cepat menyambutnya. Wajahnya ramah, keriput halus di sekitar matanya memberi kesan keibuan."Nduk Lastri," sapanya hangat. "Lama ya tidak bertemu. Ayo masuk, Nduk. Dari tadi saya sudah nunggu."Lastri cepat mengangguk sopan. "Iya, Mbok Jiah. Mbok apa kabar?""Alhamdulillah, beginilah keadaan Mbok, sehat-sehat," jawabnya sambil membimbing Lastri mengikutinya ke dalam.Langkah Lastri mulai







