Share

GTM 2

Author: RIANNA ZELINE
last update publish date: 2026-01-21 22:29:21

Lastri mengangguk, lalu berjalan di belakang Mbok Jiah menaiki tangga. Langkah mereka melambat saat tiba di depan pintu kamar paling ujung. Mbok Jiah mengetuk pelan sebelum masuk.

“Nyonya… ini sarapannya Mbok bawa,” ucapnya sambil membuka pintu.

Di dalam kamar, Nyonya Ratih terbaring di ranjang besar dengan sandaran ditinggikan. Tubuhnya tampak kurus, wajahnya pucat namun masih menyisakan garis kecantikan yang lembut. Tangan kirinya terkulai lemah di sisi tubuh, sementara matanya menoleh saat Mbok Jiah mendekat.

Mbok Jiah meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang, lalu menoleh pada Lastri.

“Nyonya, ini Lastri. Anak baru yang bantu-bantu di rumah. Mulai hari ini, Mbok mau dia belajar ngurus Nyonya juga.”

Pandangan Nyonya Ratih beralih ke Lastri. Bibirnya bergerak pelan, suaranya lirih dan sedikit pelo.

“Las… tri…”

Lastri refleks menunduk sopan. “Iya, Nyonya. Saya Lastri.”

Mbok Jiah meraih mangkuk bubur dan sendok, lalu mendekat ke sisi ranjang.

“Nduk, perhatiin ya. Nyupain Nyonya harus pelan, sedikit-sedikit. Jangan kepenuhan sendoknya,” ujarnya sambil mencontohkan. Ia menyuapkan sesendok kecil bubur, menunggu sampai Nyonya Ratih menelan dengan baik.

Lastri memperhatikan, mulai dari setiap suapan, kunyahan, bahkan ekspresi Nyonya Ratih saat makan. Ada perasaan iba dan kasihan. Hingga dalam hati ia mulai berjanji pada dirinya sendiri akan merawat majikan perempuannya itu dengan baik, sampai kondisinya bisa pulih. Dan ia meyakinkan diri bahwa ia bisa melakukan pekerjaannya dengan mudah.

Setelah beberapa suap, Mbok Jiah menyerahkan mangkuk dan sendok itu pada Lastri.

“Sekarang kamu coba. Biar Mbok lihat.”

Lastri mengangguk. Tangannya sedikit gemetar saat menerima mangkuk itu. Ia duduk di kursi kecil di samping ranjang, menatap Nyonya Ratih dengan gugup.

“Pelan-pelan ya, Nyonya,” ucapnya lirih.

Nyonya Ratih mengedip pelan, seperti mengangguk.

Lastri menyuapkan bubur sedikit demi sedikit, menunggu dengan sabar setiap kali Nyonya Ratih menelan. Sesekali Mbok Jiah mengangguk puas, sesekali membenarkan posisi sendok.

“Nah, begitu. Mbok percaya kamu bisa,” bisik Mbok Jiah. “Yang penting sabar. Nyonya nggak bisa tergesa.”

Lastri mengangguk lagi, dadanya terasa hangat sekaligus perih. Di hadapannya bukan sekadar majikan, melainkan seorang perempuan rapuh yang hidupnya kini bergantung pada tangan orang lain—termasuk tangannya sendiri mulai hari ini.

Cklek!

Pintu kamar terbuka. Lastri dan Mbok Jiah refleks menoleh.

Tuan Ardan berdiri sejenak di ambang pintu saat melihat Mbok Jiah dan Lastri berada di dalam. Tatapannya tertahan pada pemandangan itu—Lastri duduk canggung di sisi ranjang, menyuapi istrinya dengan penuh kehati-hatian. Tanpa berkata apa pun, ia menutup pintu itu pelan. Lalu terdengar langkah kakinya menuruni tangga.

"Kamu lanjutkan dulu menyuapi Nyonya, biar Mbok yang menyusul Tuan Ardan."

Lastri mengangguk dan membiarkan Mbok Jiah meninggalkannya sendirian. Meski gugup masih terasa, tapi Lastri berusaha tidak membuat kesalahan di hari pertamanya bekerja.

~~~

Tuan Ardan duduk tenang di meja makan. Tatapannya fokus pada tablet di tangan.

Tak berapa lama, Mbok Jiah sudah menyusul dan berdiri tak jauh darinya.

“Tuan sarapan di meja?” tanyanya sambil menyeka tangan di celemek.

“Iya,” jawab Tuan Ardan singkat.

“Baik, saya akan siapkan—”

“Tidak usah,” potong Tuan Ardan, nada suaranya tenang namun tegas. “Biar pembantu baru itu saja.”

Mbok Jiah tertegun. “Lastri, Tuan?”

“Iya. Saya ingin lihat cara kerjanya.” Ia menoleh sekilas ke arah tangga. “Tapi tunggu sampai dia selesai menyuapi istri saya.”

Mbok Jiah mengangguk, meski raut wajahnya menyiratkan ragu. Ia pun kembali ke dapur, mengerjakan beberapa hal lain sampai Lastri kembali.

Tak lama kemudian, Lastri turun dengan membawa nampan berisi mangkuk yang sudah kosong. Ia meletakkan di wastafel dan hendak mencucinya langsung. Namun, Mbok Jiah segera menahannya dan mengatakan jika Lastri harus menemui Tuan Ardan.

“Tuan memanggil saya?” tanya Lastri sopan begitu tiba di dekat meja makan, tak jauh dari tempat duduk Tuan Ardan.

“Kamu siapkan sarapan untuk saya,” ujar Tuan Ardan tanpa menatap lama. “Seperti biasa. Mbok Jiah sudah jelaskan?”

“Sudah, Tuan,” jawab Lastri cepat, lalu undur diri dan masuk ke dapur dengan perasaan tegang.

Ia menyiapkan telur setengah matang, roti panggang, dan sepiring kecil lauk. Semua dilakukan persis seperti arahan Mbok Jiah.

Tak butuh waktu lama, Lastri sudah siap menghidangkannya. Saat nampan diletakkan di meja makan, Tuan Ardan langsung mengambil sendok, mengetuk telur, lalu mencicipinya.

Alisnya sedikit berkerut.

“Kurang pas.”

Lastri tercekat. “Maaf, Tuan. Apa… apa yang kurang?”

“Putihnya terlalu matang.”

Lastri mengangguk mengerti, buru-buru kembali ke dapur, membuat ulang. Kali ini ia lebih berhati-hati, menghitung waktu seperti yang diajarkan Mbok Jiah. Begitu selesai, telur kedua ia sajikan dengan napas tertahan.

Tuan Ardan kembali mencicipi. Hening beberapa detik.

“Masih belum,” katanya singkat.

Wajah Lastri memucat. “Maaf, Tuan. Saya akan—”

“Sekarang kopi,” potongnya.

Lastri terkesiap, tapi buru-buru mengangguk. Ia kembali ke dapur, membuat kopi pahit dengan sedikit gula, takaran air dan bubuknya sama persis seperti petunjuk Mbok Jiah. Begitu selesai mengaduk, ia berdoa agar Tuan Ardan langsung menyukai kopi buatannya.

Lastri melangkah dengan jantung berdebar. Cangkir itu ia letakkan perlahan di hadapan Tuan Ardan.

Tuan Ardan langsung mengangkat gelas, menyeruputnya. Sekali. Dua kali. Kemudian meletakkan cangkir itu kembali.

“Ini bukan kopi saya.”

Kesal dan takut bercampur menjadi satu. Tapi yang bisa Lastri lakukan hanyalah menunduk dalam-dalam. “Maaf, Tuan. Saya sudah mengikuti arahan Mbok Jiah.”

Tuan Ardan akhirnya mengangkat wajah, menatapnya lebih lama. Tatapannya tajam, menimbang, bukan marah.

“Saya tahu,” katanya datar. “Tapi selera orang tidak selalu bisa dipelajari dari resep.”

Ia berdiri, mendorong kursinya perlahan.

“Saya tahu kamu masih baru. Tapi saya lebih suka jika kamu cepat belajar. Jadi, jangan biarkan saya berubah pikiran.”

Lastri mengangguk meski dadanya terasa sesak. Kalimat itu bagai momok yang menakutkan, sekaligus bahan bakar yang memacu dirinya untuk terus belajar dan belajar.

Di balik ketenangan Tuan Ardan, ia menangkap satu hal dengan jelas—mulai hari itu, setiap geraknya akan selalu berada dalam pengamatan.

~~~

Lastri menghampiri Mbok Jiah yang sedang membereskan dapur. Wajahnya pucat, kedua tangannya saling meremas ujung celemek.

“Mbok…” suaranya lirih, nyaris bergetar. “Tuan Ardan… apa beliau marah? Saya takut… takut nggak cocok kerja di sini.”

Mbok Jiah berhenti, lalu menoleh. Melihat raut Lastri, ia segera menepuk pelan lengan gadis itu. “Hus… jangan kebanyakan mikir, Nduk.”

“Tapi kopi sama telurnya dua kali nggak sesuai. Takut Tuan kecewa. Takut… disuruh pergi,” Lastri menunduk, menahan sesak di dada. Ketakutan lain berdesakan di kepalanya—takut gagal, takut kehilangan tempat ini, takut kembali ke keadaan semula.

Mbok Jiah tersenyum tipis, penuh pengertian.

“Tuan Ardan itu memang begitu. Perfeksionis. Kalau nggak pas, ya dibilang nggak pas. Tapi bukan berarti dia marah atau nggak suka sama kamu.”

Ia meraih lap dapur, tangannya tetap bekerja sambil bicara.

“Kalau Tuan benar-benar nggak suka, kamu nggak bakal dikasih kesempatan ulang dari awal.”

Lastri mengangkat wajahnya sedikit.

“Sekarang dengar baik-baik ya,” lanjut Mbok Jiah, nadanya berubah lebih serius. “Habis sarapan, biasanya Tuan Ardan nge-gym di lantai atas. Tepat jam delapan. Nggak pernah molor.”

“Gym… di rumah?” tanya Lastri pelan.

“Iya. Ruangan paling ujung lantai atas. Nah, pas jam delapan lewat lima belas menit, kamu harus antar minuman.”

Mbok Jiah menatap Lastri lurus. “Air hangat dicampur lemon. Nggak boleh terlalu asam, nggak boleh terlalu encer. Gelasnya yang bening, jangan pakai sedotan.”

Lastri mengangguk cepat, mencatat dalam kepalanya.

“Waktunya juga penting,” Mbok Jiah menambahkan. “Terlalu cepat, Tuan belum mau minum. Terlalu lambat, beliau bisa langsung turun sendiri.”

Lastri menelan ludah. “Kalau… kalau rasanya salah lagi?”

Mbok Jiah tersenyum, kali ini lebih hangat.

“Belajar, Nduk. Mbok juga dulu salah berkali-kali. Tapi Tuan Ardan itu orangnya adil. Selama kamu mau kerja sungguh-sungguh, dia bakal lihat itu.”

Ia menepuk pundak Lastri pelan.

“Tenang. Kamu sudah melakukan yang terbaik hari ini.”

Lastri menghembuskan napas perlahan. Meski rasa takut itu belum sepenuhnya pergi, kata-kata Mbok Jiah memberi pijakan—cukup untuk membuatnya bertahan dan mencoba sekali lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 41

    Jantung Lastri berdegup lebih cepat. Ia sama sekali tidak menyangka Tuan Ardan benar-benar akan masuk ke ruang rawat.Sementara Arman memandang pria itu dengan bingung. Ia belum pernah melihatnya sebelumnya.Ardan melangkah masuk dengan senyum ramah yang langsung membuat kesan pertamanya terlihat baik."Permisi."Arman sedikit menegakkan tubuhnya. "Maaf...?"Lastri buru-buru berdiri."Oh, Mas..." Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ini Tuan Ardan."Arman masih menatap bingung."Majikan tempat Lastri bekerja.""Oh..." Arman langsung mengangguk paham. "Salam, Pak Ardan." Ardan mengangguk hormat membalas sapaan suami Lastri.Lastri buru-buru melanjutkan penjelasannya. "Kebetulan Tuan Ardan ada proyek dan urusan kerja di sekitar sini. Jadi tadi Lastri diberi tumpangan ke rumah sakit."Ardan tersenyum tipis."Betul." Nada suaranya tenang dan meyakinkan. "Kebetulan sekali arah kami sejalan."Lastri diam-diam mengembuskan napas lega. Syukurlah Tuan Ardan langsung memahami maksudnya.P

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 40 :

    "Apa, Bu? Mas Arman masuk rumah sakit?"Lastri sangat terkejut mendengar kabar itu. Bahkan tanpa sadar ia langsung menutup bajunya asal dan langsung turun dari atas meja dapur. Membuat Ardan yang sedang menikmati buah melon manis dan segar itu ikut terdorong ke belakang.Ardan menatap Lastri serius. Namun wanita itu masih begitu fokus dengan panggilan telepon. Sementara satu tangannya masih memegang baju bagian atasnya agar tidak terlalu terbuka."Sebenarnya apa yang terjadi, Bu? Kenapa Mas Arman bisa masuk rumah sakit?""Maaf kalau Ibu baru mengabarimu sekarang, Nduk." Nada bicara Bu Ningsih menyiratkan rasa bersalah. Lalu ia menjelaskan, "Sebenarnya sudah beberapa hari ini Arman sering tidak mau makan. Tadi malam badannya demam, dan panasnya cukup tinggi.""Ya ampun Mas Arman...." Lastri menutup mulutnya dengan perasaan sedih. "Lalu keadaan Mas Arman sekarang gimana, Bu?""Ibu langsung membawanya ke rumah sakit malam itu juga. Setelah diperiksa, dokter bilang kalau Arman terkena typ

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 39

    Ardan meraih tengkuk leher Lastri tanpa terduga. Menariknya pelan tapi cukup untuk membuat Lastri tak sempat melawan. Dalam waktu singkat, bibir Ardan sudah mendarat lembut di permukaan bibir Lastri.Dalam keterkejutannya, Lastri tidak melawan. Ia hanya mendorong bahu Ardan untuk sesaat sebelum akhirnya memilih memejamkan mata.Tak butuh waktu lama, napas mereka mulai terasa berat. Baik Ardan maupun Lastri sudah terhanyut pada gairah yang kini tak perlu lagi mereka sembunyikan. Seolah sudah sama-sama tahu apa yang mereka butuhkan.Dapur itu kini tak lagi hening. Suara decapan-decapan halus mengisi udara di sekitar mereka. Bak simphoni mengalun merdu. Menghanyutkan jiwa mereka ke dalam gelombang gairah yang semakin menggelora.Lastri tak hanya diam. Insting tubuh bekerja lebih profesional daripada yang otak katakan. Jemari lentik miliknya bertumpu di kedua bahu Ardan. Kepalanya dimiringkan. Menjaga posisi tetap aman saat tenggelam dalam kenikmatan.Satu tangan Ardan masih menahan tengk

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 38 :

    Matahari sudah merangkak turun saat Ardan baru saja memarkir mobilnya di garasi rumah. Ia membuka pintu mobil dan turun dengan wajah yang tampak sumringah. Seolah tak merasakan lelah setelah seharian bekerja.Dengan langkah yang sangat ringan, ia berjalan masuk ke dalam rumah. Ia melepas jas, lalu menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Tak lupa juga melonggarkan dasinya.Sejak dari ruang tamu hingga ke ruang keluarga, sorot matanya mencari keberadaan seseorang yang beberapa hari ini terus ia rindukan. Lastri. Namun tak ada tanda-tanda keberadaannya sama sekali. Bahkan saat sorot matanya menyusup ke dapur, ia juga tak melihat batang hidung Lastri di sana."Ke mana dia?" gumamnya bertanya-tanya.Ardan berhenti sejenak, meletakkan tas kerja dan jas di sofa ruang keluarga. Ia melihat jam di pergelangan tangannya sebelum akhirnya menebak keberadaan Lastri di halaman belakang.Tanpa membuang waktu lebih lama, Ardan berjalan ke sana. Dan benar saja, sore hari memang jadwalnya Lastr

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 37 :

    Reihan refleks ikut menoleh. Wajahnya datar, tanpa ada ekspresi terkejut sama sekali."Oh, sudah pulang."Ardan hanya mengangguk tipis. Tatapannya sempat singgah pada wajah Lastri yang masih menyisakan senyum."Kalian tertawa. Apa yang lucu?"Lastri dan Reihan saling berpandangan sesaat."Lastri salah paham soal istilah kantor," jawab Reihan santai."Itu bukan salah paham, Mas," protes Lastri."Jelas salah paham.""Mas yang jelasinnya muter-muter."Reihan tertawa lagi. Merasa lucu dengan sikap Lastri.Dan Lastri juga ikut tersenyum. Pipinya sedikit memerah karena sadar bahwa obrolannya dengan Reihan membuat hubungan mereka lebih baik dari sebelumnya.Sementara Ardan berdiri diam memperhatikan keduanya. Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman."Kalian sudah terlihat lebih akrab sekarang.Lastri segera menunduk. Jemarinya saling bertaut di depan tubuh. Sementara Reihan justru tersenyum lebar."Tentu saja," jawab Reihan santai. "Papa dan Mama suka sama dia. Jadi aku pikir tidak buruk ju

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 36 :

    Ardan menuruni anak tangga dengan langkah pelan sambil merapikan kerah kaos polo yang dikenakan. Wajahnya tampak sudah segar setelah mandi. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan. Bukan karena kepulangan Reihan, melainkan karena hubungannya dengan Lastri berjalan sesuai harapan. Namun kali ini, kehadiran Reihan di rumah harus membuatnya menahan diri untuk leluasa berduaan dengan Lastri.Begitu tiba di lantai bawah, aroma masakan langsung menyambut begitu ia mendekati ruang makan. Namun meja makan masih belum sepenuhnya terisi. Baru ada nasi hangat, semangkuk sayur, dan beberapa piring kosong yang tersusun rapi. Sementara dari arah dapur terdengar suara minyak mendesis pelan.Ardan melirik sekilas ke arah tangga dan lantai atas. Sepi.“Reihan belum turun?” tanyanya sambil berjalan mendekati dapur.Lastri yang sedang membalik lauk di atas penggorengan spontan menoleh. Ia memakai celemek sederhana dengan beberapa helai rambut yang terlepas di dekat pipi karena kesibukan memasak.“Belum, T

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 5

    Lastri berusaha tetap tenang meski kini ia menyadari ada sedikit ketegangan di antara dirinya dan Tuan Ardan. Tapi ia meyakinkan diri bahwa ia tidak membuat kesalahan fatal. Bahkan saat ia menghubungi putranya, Tuan Ardan sama sekali tidak marah atau melarang. Yang penting ia bertanggug jawab penuh

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 3

    Jam delapan lebih lima menit, Lastri kembali sibuk di dapur. Dengan arahan Mbok Jiah, ia membuat air lemon hangat seperti yang biasa diminum Tuan Ardan. Dan sebelum meletakkan di atas nampan, ia memastikan sekali lagi kekentalannya pas, tidak kurang atau kelebihan.Lastri menarik napas panjang saat

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 4

    Lastri hampir menabrak tubuh Tuan Ardan jika kakinya tidak melangkah mundur dengan cepat. Namun, posisinya yang berada di tepi teras membuatnya hilang keseimbangan dan hampir jatuh ke belakang jika tidak ada tangan kekar yang menopang tubuhnya.Tuan Ardan dengan gerakan gesit menarik tubuh Lastri m

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 1

    "Ya Allah, gede banget rumahnya...," gumam Lastri pelan, menatap kagum sekaligus gugup pada rumah mewah yang akan menjadi tempatnya bekerja. Gerbang terbuka otomatis setelah satpam memberi izin. Tak lupa Lastri mengucapkan terima kasih setelah satpam itu mengantarnya sampai depan pintu utama. Dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status