Share

GTM 3

Author: RIANNA ZELINE
last update publish date: 2026-01-22 21:46:28

Jam delapan lebih lima menit, Lastri kembali sibuk di dapur. Dengan arahan Mbok Jiah, ia membuat air lemon hangat seperti yang biasa diminum Tuan Ardan. Dan sebelum meletakkan di atas nampan, ia memastikan sekali lagi kekentalannya pas, tidak kurang atau kelebihan.

Lastri menarik napas panjang saat tangannya mulai mengangkat nampan. Di sampingnya, Mbok Jiah tersenyum geli melihat sikap Lastri. Lalu dengan lembut ia menepuk pelan bahu Lastri sebagai bentuk dukungan.

"Tidak apa-apa, Nduk. Tuan hanya sedang mengujimu saja. Mbok yakin kamu pasti lulus," ujarnya ringan.

Lastri mengangguk, tak ingin menyangkal ucapan itu. Lagi pula wajar jika seorang majikan ingin menilai kinerja pembantunya. Dan dalam hati, Lastri meyakinkan diri bahwa ia pasti bisa bekerja dengan baik seperti yang diharapkan oleh majikannya.

Lastri melangkah mantap saat memijak satu per satu anak tangga. Meski tak dipungkiri bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari langkahnya. Tangannya yang sedikit gemetar, menggenggam nampan dengan cukup erat, seolah itulah yang bisa ia jadikan pegangan. Dan begitu tiba di depan ruangan yang ada di ujung, langkahnya otomatis melambat dan berhenti tepat di depan pintu kaca hitam. 

Lastri memperhatikan pintu kaca itu, tapi tetap tak bisa melihat ke dalam. Kemudian ia menarik napas pelan, memastikan jam di dinding--tepat seperti yang Mbok Jiah katakan. Tak boleh terlambat terlalu lama.

Tok tok tok

“Permisi, Tuan. Saya bawa minumannya,” ucapnya setelah mengetuk pintu sekali.

Tak ada jawaban. Lastri mengira Tuan Ardan sedang fokus dengan alat gym-nya, hingga ia tak mengulangi mengetuk pintu. Kemudian dengan gerakan hati-hati, ia membuka pintu sedikit.

Dan saat itulah ia terpaku.

Punggung Tuan Ardan membelakanginya. Tangan pria itu sedang menarik celana panjangnya turun, gerakannya tenang, tanpa tergesa. Otot bahunya tampak tegang oleh latihan. Sekejap—cukup untuk membuat Lastri membeku.

“Ma—maaf!” serunya panik.

Ia buru-buru membalikkan badan, jantungnya berdegup keras, wajahnya memanas. Nampan di tangannya hampir tergelincir. Ia sama sekali tak menyadari—atau terlalu gugup untuk menyadari—bahwa Tuan Ardan masih mengenakan celana pendek olahraga di baliknya.

“Lastri.”

Suara itu terdengar dari belakang. Dingin. Tenang.

Lastri menelan ludah. “Maaf, Tuan. Saya... saya tidak tahu Tuan sedang mengganti pakaian. Saya tunggu di luar saja.”

Langkah kaki mendekat. Tidak terburu. Tidak keras. Justru membuatnya makin tegang.

“Kamu disuruh Mbok Jiah mengantar minuman tepat waktu, bukan?”

Nada suaranya datar, nyaris tak beremosi.

“Iya, Tuan,” jawab Lastri cepat, masih membelakangi.

“Kalau begitu, kenapa mau buru-buru pergi?”

Ada jeda singkat. Cukup lama untuk membuat Lastri merasa diperhatikan—dinilai.

Lastri membeku, menahan diri untuk tidak pergi dari ruangan itu. Perlahan dan masih ragu, ia menoleh setengah, tetap menunduk. Baru saat itu ia menyadari Tuan Ardan sudah rapi dengan celana pendek olahraga dan kaus tanpa lengan, seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Wajahnya semakin memerah.

Tuan Ardan mengambil gelas dari nampan, jarinya menyentuh tepi kaca.

“Lain kali,” katanya pelan, “ketuk dua kali. Atau tunggu saya jawab.”

Ia menyesap minuman itu sekali, lalu menatap Lastri—tatapan yang dingin, tajam, namun jelas sengaja dibiarkan menggantung terlalu lama.

“Dan jangan panik berlebihan,” lanjutnya. “Karena yang sering buru-buru, biasanya yang paling sering melakukan kesalahan.”

Lastri mengangguk kaku. “Baik, Tuan. Saya mengerti.”

Tuan Ardan mengembalikan gelas ke atas nampan. Menatap Lastri sekali lagi dengan tatapan penuh makna. “Mau tetap di sini?"

Lastri sontak mengangkat wajah, menatap bingung sekaligus terkejut dengan pertanyaan majikannya. Tapi tiba-tiba Tuan Ardan tersenyum tipis. Menambah kebingungan di benak Lastri.

"Kamu boleh pergi,” katanya kemudian, sebelum Lastri benar-benar mencerna pertanyaan sebelumnya.

Lastri mengangguk tanpa benar-benar sadar, lalu berbalik, melangkah cepat menuju pintu. Dadanya masih naik turun saat pintu tertutup di belakangnya. Ia tak tahu mana yang lebih membuatnya gugup—kesalahan barusan, atau cara Tuan Ardan sengaja bersikap seolah semua itu tak berarti… padahal jelas ia tak melewatkan apa pun.

~~~

Hari pertama yang cukup melelahkan, menegangkan, dan juga mendebarkan akhirnya berakhir. Setelah memastikan pintu rumah sudah terkunci dengan aman, mematikan lampu-lampu ruangan yang tak digunakan, Lastri segera masuk ke dalam kamar. Ia mulai bisa bernapas lega saat tubuhnya akhirnya berbaring di ranjang. Menatap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Mengingat setiap detail kecil pekerjaannya hari ini—hal-hal yang harus dilakukan setiap hari, jadwal kontrol Nyonya Ratih, sampai tatapan dan sikap Tuan Ardan yang masih belum sepenuhnya ia mengerti.

Lastri mengalihkan tatapannya pada nakas kecil di samping ranjang. Ia meraih ponsel dan melihat jam di layar, masih jam setengah sembilan malam. Pada waktu seperti itu, ia biasanya mulai menidurkan Yudha di kamar. Hal itu membuatnya mulai rindu pada keluarganya.

Tanpa pikir lama, Lastri langsung mencari kontak suaminya. Namun belum sampai jarinya menekan tombol panggil di layar, ponselnya lebih dulu berdering dan itu dari Arman.

"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Lastri cepat.

"Wa'alaikumsalam, Lastri. Kamu masih sibuk?" tanya Arman dengan nada lembut.

"Enggak kok, Mas. Aku baru aja masuk kamar buat istirahat. Kebetulan aku juga mau menghubungi Mas tadi."

"Syukurlah, Mas lega mendengarnya. Takut tadi kamu masih kerja dan Mas malah ganggu kamu."

"Enggak, Mas. Di sini pekerjaannya nggak terlalu banyak. Normal aja kayak pekerjaanku sehari-hari di rumah. Cuma sesekali ngecek keadaan Nyonya Ratih di kamarnya," terang Lastri apa adanya.

Arman mendengarkan dengan baik cerita Lastri. Ia juga mendoakan untuk kesembuhan majikan perempuan istrinya itu. Sampai akhirnya Arman menanyakan tentang majikan laki-lakinya.

Lastri terdiam beberapa saat. Ia kembali teringat sikap Tuan Ardan yang masih penuh misteri baginya. Kadang datar dan dingin, kadang terasa mengintimidasi, dan kadang ada godaan samar yang ia rasakan. Tapi Lastri segera menepis pikirannya. Ia tak mau menilai terlalu jauh padahal ia baru bekerja sehari saja.

"Tuan Ardan orangnya juga baik, Mas. Dia tidak banyak memerintah ini itu asal aku tahu apa saja tugas-tugasku," jawab Lastri. Berusaha tak membuat suaminya khawatir. "Bagaimana dengan Yudha, Mas? Apa dia sudah tidur?"

Terdengar helaan napas pelan dari Arman sebelum akhirnya menjawab, "Yudha baru saja tidur dengan ibu. Tadi dia rewel terus minta tidur ditemani kamu. Dari sore juga sudah nangis minta telepon."

"Sayang banget ya, Mas. Sebenarnya aku juga udah kangen sama Yudha.," kata Lastri dengan nada sedih.

Di seberang telepon Arman hanya diam, seolah kembali menyalahkan diri atas keadaan mereka saat ini. Tapi Arman tidak berniat mengungkit apapun. Ia justru menghibur Lastri agar tidak terlalu khawatir dengan putra mereka. Ia meyakinkan jika ini hanya masalah waktu. Suatu hari nanti Yudha pasti akan bisa mengerti dan terbiasa.

"Begini saja, Mas. Besok pagi aku akan menghubungi Mas lagi saat Yudha sudah bangun," ucap Lastri, nadanya bersemangat dan penuh harap.

Setelah percakapan panjang melepas kerinduan, sambungan telepon akhirnya diputus Arman. Ia meminta agar Lastri segera istirahat karena besok harus kembali bekerja.

~~~

Pagi kembali hadir, tapi langit masih keabu-abuan, dan embun belum sepenuhnya menguap. Lastri berdiri di teras belakang rumah, dekat area menjemur pakaian. Tangannya memegangi ponsel yang menempel di telinga. Suaranya diturunkan, setengah berbisik.

"Halo... Yudha?"

Di seberang sana terdengar suara anak kecil yang masih serak, setengah mengantuk.

"Ibu...,"

Lastri tersenyum, matanya menghangat. "Baru bangun, ya? Udah sholat subuh?"

"Udah, tapi masih ngantuk," jawab Yudha jujur.

Lastri terkekeh pelan. "Biar nggak ngantuk lagi, Yudha mandi dulu terus ganti baju seragam. Jangan malas buat sarapan yang udah disiapkan nenek, ya."

"Iya, Bu. Ibu kapan pulang?"

Nada suara Yudha terdengar sedikit merengek. Membuat dada Lastri terasa mengencang.

Lastri menarik napas panjang, kemudian dengan nada lembut ia menjawab, "Ibu harus kerja dulu yang baik. Yudha juga harus jadi anak baik. Dengerin nenek, sekolah yang rajin. Dan jangan lupa doain Ibu, ya."

"Iya, Bu. Yudha sayang Ibu. Ibu cepet pulang, ya."

Lastri menahan napas, menelan rasa rindu yang tiba-tiba naik ke tenggorokan. "Iya, Sayang. Ibu pasti segera pulang. Yudha jaga diri, ya."

Yudha menjawab dengan nada khas kepolosan anak seusianya.

Setelah percakapan itu selesai, sambungan telepon pun terputus. Lastri menurunkan ponsel dan menggenggamnya di depan dada. Ia menghembuskan napas panjang, antara lega dan meredakan rindu yang menyesakkan dada.

Sejenak Lastri terdiam. Ia teringat akan tugas-tugas yang sudah menunggu untuk diselesaikan. Dalam hatinya berdoa agar selalu diberi kelancaran dalam bekerja. Setelah kata 'aamiin' mengakhiri doanya, ia pun berbalik.

"Akhh!" jerit Lastri, terkejut mendapati Tuan Ardan tepat berada di belakangnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 28 :

    Lastri merasa mulai kewalahan menerima ciuman itu. Tapi setiap kali tangannya berusaha lepas, cengkeraman tangan ARdan bertambah kuat. Saat tubuhnya berusaha memberontak, tubuh Ardan semakin mendekat, lalu ciumannya pun semakin panas. Tak jarang ia memberikan gigitan yang membuat bibir Lastri terasa kebas.Napas Lastri terengah, tapi Ardan seolah tak meberikan waktu untuknya mengambil oksigen. Setiap perlawanan kecil yang dilakukan Lastri, maka semakin kasar gerakan Ardan di tubuhnya.Lastri merasakan tubuhnya mulai lemas, seolah tenaganya baru saja dikuras Ardan habis-habisan. Ia akhirnya mendesah lelah, pasrah pada pria yang kini menguasi tubuhnya.Ia memejamkan mata, berusaha merasakan setiap sentuhan di tubuhnya. Merasakan hasrat yang membakar dalam dirinya, dan perlahan... ia menikmatinya."Eemmhh...."Lastri tak lagi melawan. Ia mulai membalas ciuman Ardan dengan gerakan lembut tapi panas. Saat cengkeraman di tangannya dilepas karena tangan Ardan berpindah ke tengkuknya, Lastri

  • Godaan Tuan Majikan   GTM : 27 Awal Malam Panas

    Beberapa menit berlalu dan hujan mulai reda, menyisakan gerimis kecil yang masih terdengar riuh di atap rumah.Lastri mulai menegakkan tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan Tuan Ardan. Dan ia cukup lega karena kali ini Tuan Ardan tidak menahannya."Saya... mau kembali ke kamar. Terima kasih sudah menemani saya, Tuan," ucap Lastri pelan sambil menunduk, tak berani menatap mata Tuan Ardan.Ardan menatap Lastri beberapa detik sebelum akhinya bertanya, "Apa kamu sudah mengantuk? Kalau belum, tolong buatkan kopi."Lastri mengangkat wajahnya, mencoba mencari makna tersembunyi dari kata-kata itu, tapi ia tak bisa menemukan apa-apa. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya buatkan sekarang."Listrik belum menyala, Lastri melangkah hati-hati menuju dapur berbekal senter ponselnya. Dalam gelap itu, ia merasakan sesuatu yang mencekam, yaitu tatapan Tuan Ardan yang ia yakin masih mengamatinya dari belakang.Ardan menatap Lastri yang perlahan menjauh. Dalam kegelapan itu

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 26

    Lastri berdiri beberapa detik di depan pintu kamar Nyonya Ratih sebelum akhirnya mengetuk pelan.Ia sudah mengganti pakaiannya dengan cepat, merapikan rambutnya, bahkan sempat mencuci wajah berkali-kali di wastafel dapur. Namun tetap saja, jantungnya masih berdetak tidak wajar. Seolah tubuhnya belum benar-benar kembali dari kejadian beberapa menit lalu.“Masuk,” terdengar suara Nyonya Ratih dari dalam.Lastri membuka pintu dengan hati-hati sambil membawa nampan sarapan yang sudah ia susun rapi.Ratih setengah duduk di tempat tidur, bersandar pada bantal. Wajahnya masih terlihat pucat seperti beberapa hari terakhir, tetapi matanya tampak lebih segar pagi itu.“Pagi, Nyonya,” ucap Lastri lembut.Ia berjalan mendekat dan meletakkan nampan di meja kecil di samping tempat tidur.Ratih memperhatikan Lastri sebentar. Ada sesuatu yang berbeda.Biasanya Lastri bergerak tenang dan teratur. Pagi ini tangannya terlihat sedikit tergesa saat menata piring, bahkan sendok kecil di tangannya sempat be

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 25 : Tak Ingin Berhenti

    Sinar mentari menyusup di antara lubang ventilasi kamar Lastri. Ia mengerjap pelan, lalu membuka matanya lebar. Tangannya meraih ponsel di atas meja dengan jantung berdebar kencang.Pukul 06.00 pagi."Astaga! Aku kesiangan," serunya panik.Dengan cepat ia bangkit dan keluar kamar tanpa merapikan tempat tidur. Ia melangkah tergesa-gesa menuju dapur sambil menguncir rambutnya asal. Kemudian mengambil bahan-bahan di lemari pendingin dan memotongnya secepat yang ia bisa.Waktu sarapan Nyonya Ratih yang tinggal satu jam lagi, membuatnya harus bekerja ekstra cepat. Tak ada waktu untuk bersantai. Semua harus tepat waktu atau ia bisa saja dipecat karena dianggap teledor.Dari lorong arah kamar tamu, Ardan berjalan pelan sambil mengamati Lastri dari kejauhan. Bibirnya tak henti menyunging senyum mengingat aksi panasnya bersama Lastri semalam.Ditambah lagi ia melihat bahwa saat ini Lastri mengenakan gaun rumahan yang ia belikan. Gaun itu begitu pas di tubuhnya. Panjang gaun yang hanya sebatas

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 24 : Percikan Api Gairah

    Ardan memperdalam ciuman itu, tangannya bergerak naik ke punggung Lastri, merasakan lekuk tubuh yang terbalut gaun hitam tipis itu. Ia tak lagi hanya memastikan perasaan mereka sama. Ia sedang menegaskan bahwa ini nyata.Napas Lastri semakin tak teratur. Tubuhnya terasa semakin panas, bukan hanya karena anggur. Jarak yang dulu selalu ia jaga kini hilang sepenuhnya.Ciuman itu berubah menjadi lebih mendesak. Lebih haus."Emmhhh... "Lenguhan samar itu terdengar. Namun di tengah pusaran panas itu, Lastri tiba-tiba menarik napas tajam dan memalingkan wajahnya.“Kita… tidak boleh…” suaranya gemetar, napasnya masih terputus-putus.Ardan berhenti, meski dahinya masih menempel pada kening Lastri. Napasnya berat. Matanya lebih gelap dari sebelumnya.“Aku tahu,” jawabnya serak.Mereka sama-sama tahu.Ini kesalahan.Ini pengkhianatan.Ini sesuatu yang akan melukai lebih dari satu hati.Namun anehnya, kesadaran itu tidak serta-merta memadamkan api yang sudah terlanjur menyala.Ardan mengusap pip

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 23 : Makan Malam Romantis

    Lastri merasa jantungnya nyaris melonjak keluar saat melihat cara Tuan Ardan menatapnya. Bukan seperti majikan pada pelayan. Tapi seperti... pria pada wanita. Ia hampir menyesal telah mengenakan gaun itu.Namun ketika Tuan Ardan melangkah mendekat, langkah yang tenang namun penuh tujuan, penyesalan itu berubah menjadi getaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya.“Kau terlihat…” Ardan berhenti tepat di depannya, jarak mereka hanya sejengkal. “Sangat cantik.”Suara itu rendah. Hangat. Tidak lagi formal.Lastri menunduk, napasnya tak stabil. “Ini… terlalu berlebihan untuk saya, Tuan.”“Tidak,” Ardan menggeleng pelan. “Justru sangat pantas.”Tangannya terangkat, seolah ingin menyentuh pundak tipis yang terbuka itu. Namun ia berhenti di udara, menahan diri.“Terima kasih sudah kembali malam ini,” lanjutnya lebih pelan.Lastri mengangkat wajahnya perlahan. Hujan masih terdengar di luar, tapi di dalam ruangan itu, suasana terasa jauh lebih panas. Ia tidak tahu apa yang lebih berbahaya: H

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status