เข้าสู่ระบบJam delapan lebih lima menit, Lastri kembali sibuk di dapur. Dengan arahan Mbok Jiah, ia membuat air lemon hangat seperti yang biasa diminum Tuan Ardan. Dan sebelum meletakkan di atas nampan, ia memastikan sekali lagi kekentalannya pas, tidak kurang atau kelebihan.
Lastri menarik napas panjang saat tangannya mulai mengangkat nampan. Di sampingnya, Mbok Jiah tersenyum geli melihat sikap Lastri. Lalu dengan lembut ia menepuk pelan bahu Lastri sebagai bentuk dukungan. "Tidak apa-apa, Nduk. Tuan hanya sedang mengujimu saja. Mbok yakin kamu pasti lulus," ujarnya ringan. Lastri mengangguk, tak ingin menyangkal ucapan itu. Lagi pula wajar jika seorang majikan ingin menilai kinerja pembantunya. Dan dalam hati, Lastri meyakinkan diri bahwa ia pasti bisa bekerja dengan baik seperti yang diharapkan oleh majikannya. Lastri melangkah mantap saat memijak satu per satu anak tangga. Meski tak dipungkiri bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari langkahnya. Tangannya yang sedikit gemetar, menggenggam nampan dengan cukup erat, seolah itulah yang bisa ia jadikan pegangan. Dan begitu tiba di depan ruangan yang ada di ujung, langkahnya otomatis melambat dan berhenti tepat di depan pintu kaca hitam. Lastri memperhatikan pintu kaca itu, tapi tetap tak bisa melihat ke dalam. Kemudian ia menarik napas pelan, memastikan jam di dinding--tepat seperti yang Mbok Jiah katakan. Tak boleh terlambat terlalu lama. Tok tok tok “Permisi, Tuan. Saya bawa minumannya,” ucapnya setelah mengetuk pintu sekali. Tak ada jawaban. Lastri mengira Tuan Ardan sedang fokus dengan alat gym-nya, hingga ia tak mengulangi mengetuk pintu. Kemudian dengan gerakan hati-hati, ia membuka pintu sedikit. Dan saat itulah ia terpaku. Punggung Tuan Ardan membelakanginya. Tangan pria itu sedang menarik celana panjangnya turun, gerakannya tenang, tanpa tergesa. Otot bahunya tampak tegang oleh latihan. Sekejap—cukup untuk membuat Lastri membeku. “Ma—maaf!” serunya panik. Ia buru-buru membalikkan badan, jantungnya berdegup keras, wajahnya memanas. Nampan di tangannya hampir tergelincir. Ia sama sekali tak menyadari—atau terlalu gugup untuk menyadari—bahwa Tuan Ardan masih mengenakan celana pendek olahraga di baliknya. “Lastri.” Suara itu terdengar dari belakang. Dingin. Tenang. Lastri menelan ludah. “Maaf, Tuan. Saya... saya tidak tahu Tuan sedang mengganti pakaian. Saya tunggu di luar saja.” Langkah kaki mendekat. Tidak terburu. Tidak keras. Justru membuatnya makin tegang. “Kamu disuruh Mbok Jiah mengantar minuman tepat waktu, bukan?” Nada suaranya datar, nyaris tak beremosi. “Iya, Tuan,” jawab Lastri cepat, masih membelakangi. “Kalau begitu, kenapa mau buru-buru pergi?” Ada jeda singkat. Cukup lama untuk membuat Lastri merasa diperhatikan—dinilai. Lastri membeku, menahan diri untuk tidak pergi dari ruangan itu. Perlahan dan masih ragu, ia menoleh setengah, tetap menunduk. Baru saat itu ia menyadari Tuan Ardan sudah rapi dengan celana pendek olahraga dan kaus tanpa lengan, seolah tak pernah terjadi apa-apa. Wajahnya semakin memerah. Tuan Ardan mengambil gelas dari nampan, jarinya menyentuh tepi kaca. “Lain kali,” katanya pelan, “ketuk dua kali. Atau tunggu saya jawab.” Ia menyesap minuman itu sekali, lalu menatap Lastri—tatapan yang dingin, tajam, namun jelas sengaja dibiarkan menggantung terlalu lama. “Dan jangan panik berlebihan,” lanjutnya. “Karena yang sering buru-buru, biasanya yang paling sering melakukan kesalahan.” Lastri mengangguk kaku. “Baik, Tuan. Saya mengerti.” Tuan Ardan mengembalikan gelas ke atas nampan. Menatap Lastri sekali lagi dengan tatapan penuh makna. “Mau tetap di sini?" Lastri sontak mengangkat wajah, menatap bingung sekaligus terkejut dengan pertanyaan majikannya. Tapi tiba-tiba Tuan Ardan tersenyum tipis. Menambah kebingungan di benak Lastri. "Kamu boleh pergi,” katanya kemudian, sebelum Lastri benar-benar mencerna pertanyaan sebelumnya. Lastri mengangguk tanpa benar-benar sadar, lalu berbalik, melangkah cepat menuju pintu. Dadanya masih naik turun saat pintu tertutup di belakangnya. Ia tak tahu mana yang lebih membuatnya gugup—kesalahan barusan, atau cara Tuan Ardan sengaja bersikap seolah semua itu tak berarti… padahal jelas ia tak melewatkan apa pun. ~~~ Hari pertama yang cukup melelahkan, menegangkan, dan juga mendebarkan akhirnya berakhir. Setelah memastikan pintu rumah sudah terkunci dengan aman, mematikan lampu-lampu ruangan yang tak digunakan, Lastri segera masuk ke dalam kamar. Ia mulai bisa bernapas lega saat tubuhnya akhirnya berbaring di ranjang. Menatap langit-langit kamar yang berwarna putih bersih. Mengingat setiap detail kecil pekerjaannya hari ini—hal-hal yang harus dilakukan setiap hari, jadwal kontrol Nyonya Ratih, sampai tatapan dan sikap Tuan Ardan yang masih belum sepenuhnya ia mengerti. Lastri mengalihkan tatapannya pada nakas kecil di samping ranjang. Ia meraih ponsel dan melihat jam di layar, masih jam setengah sembilan malam. Pada waktu seperti itu, ia biasanya mulai menidurkan Yudha di kamar. Hal itu membuatnya mulai rindu pada keluarganya. Tanpa pikir lama, Lastri langsung mencari kontak suaminya. Namun belum sampai jarinya menekan tombol panggil di layar, ponselnya lebih dulu berdering dan itu dari Arman. "Assalamu'alaikum, Mas," sapa Lastri cepat."Wa'alaikumsalam, Lastri. Kamu masih sibuk?" tanya Arman dengan nada lembut. "Enggak kok, Mas. Aku baru aja masuk kamar buat istirahat. Kebetulan aku juga mau menghubungi Mas tadi.""Syukurlah, Mas lega mendengarnya. Takut tadi kamu masih kerja dan Mas malah ganggu kamu." "Enggak, Mas. Di sini pekerjaannya nggak terlalu banyak. Normal aja kayak pekerjaanku sehari-hari di rumah. Cuma sesekali ngecek keadaan Nyonya Ratih di kamarnya," terang Lastri apa adanya. Arman mendengarkan dengan baik cerita Lastri. Ia juga mendoakan untuk kesembuhan majikan perempuan istrinya itu. Sampai akhirnya Arman menanyakan tentang majikan laki-lakinya. Lastri terdiam beberapa saat. Ia kembali teringat sikap Tuan Ardan yang masih penuh misteri baginya. Kadang datar dan dingin, kadang terasa mengintimidasi, dan kadang ada godaan samar yang ia rasakan. Tapi Lastri segera menepis pikirannya. Ia tak mau menilai terlalu jauh padahal ia baru bekerja sehari saja. "Tuan Ardan orangnya juga baik, Mas. Dia tidak banyak memerintah ini itu asal aku tahu apa saja tugas-tugasku," jawab Lastri. Berusaha tak membuat suaminya khawatir. "Bagaimana dengan Yudha, Mas? Apa dia sudah tidur?" Terdengar helaan napas pelan dari Arman sebelum akhirnya menjawab, "Yudha baru saja tidur dengan ibu. Tadi dia rewel terus minta tidur ditemani kamu. Dari sore juga sudah nangis minta telepon." "Sayang banget ya, Mas. Sebenarnya aku juga udah kangen sama Yudha.," kata Lastri dengan nada sedih. Di seberang telepon Arman hanya diam, seolah kembali menyalahkan diri atas keadaan mereka saat ini. Tapi Arman tidak berniat mengungkit apapun. Ia justru menghibur Lastri agar tidak terlalu khawatir dengan putra mereka. Ia meyakinkan jika ini hanya masalah waktu. Suatu hari nanti Yudha pasti akan bisa mengerti dan terbiasa. "Begini saja, Mas. Besok pagi aku akan menghubungi Mas lagi saat Yudha sudah bangun," ucap Lastri, nadanya bersemangat dan penuh harap. Setelah percakapan panjang melepas kerinduan, sambungan telepon akhirnya diputus Arman. Ia meminta agar Lastri segera istirahat karena besok harus kembali bekerja. ~~~ Pagi kembali hadir, tapi langit masih keabu-abuan, dan embun belum sepenuhnya menguap. Lastri berdiri di teras belakang rumah, dekat area menjemur pakaian. Tangannya memegangi ponsel yang menempel di telinga. Suaranya diturunkan, setengah berbisik. "Halo... Yudha?" Di seberang sana terdengar suara anak kecil yang masih serak, setengah mengantuk."Ibu...," Lastri tersenyum, matanya menghangat. "Baru bangun, ya? Udah sholat subuh?""Udah, tapi masih ngantuk," jawab Yudha jujur. Lastri terkekeh pelan. "Biar nggak ngantuk lagi, Yudha mandi dulu terus ganti baju seragam. Jangan malas buat sarapan yang udah disiapkan nenek, ya.""Iya, Bu. Ibu kapan pulang?" Nada suara Yudha terdengar sedikit merengek. Membuat dada Lastri terasa mengencang. Lastri menarik napas panjang, kemudian dengan nada lembut ia menjawab, "Ibu harus kerja dulu yang baik. Yudha juga harus jadi anak baik. Dengerin nenek, sekolah yang rajin. Dan jangan lupa doain Ibu, ya.""Iya, Bu. Yudha sayang Ibu. Ibu cepet pulang, ya." Lastri menahan napas, menelan rasa rindu yang tiba-tiba naik ke tenggorokan. "Iya, Sayang. Ibu pasti segera pulang. Yudha jaga diri, ya." Yudha menjawab dengan nada khas kepolosan anak seusianya. Setelah percakapan itu selesai, sambungan telepon pun terputus. Lastri menurunkan ponsel dan menggenggamnya di depan dada. Ia menghembuskan napas panjang, antara lega dan meredakan rindu yang menyesakkan dada. Sejenak Lastri terdiam. Ia teringat akan tugas-tugas yang sudah menunggu untuk diselesaikan. Dalam hatinya berdoa agar selalu diberi kelancaran dalam bekerja. Setelah kata 'aamiin' mengakhiri doanya, ia pun berbalik. "Akhh!" jerit Lastri, terkejut mendapati Tuan Ardan tepat berada di belakangnya.Lastri hampir menabrak tubuh Tuan Ardan jika kakinya tidak melangkah mundur dengan cepat. Namun, posisinya yang berada di tepi teras membuatnya hilang keseimbangan dan hampir jatuh ke belakang jika tidak ada tangan kekar yang menopang tubuhnya.Tuan Ardan dengan gerakan gesit menarik tubuh Lastri menggunakan lengannya. Seketika itu juga tubuh Lastri hampir menabrak dada bidangnya jika Lastri tak menahannya dengan tangan. Namun tetap saja, posisi itu terasa sangat intim—Tuan Ardan seperti sedang memeluk Lastri, dan jarak mereka hanya terpisah satu tarikan napas.Lastri membelalak. Jantungnya berdebar cepat--bukan karena sesuatu yang aneh, tapi rasa terkejut yang jadi dua kali lipat. Ditambah tatapan Tuan Ardan yang tajam dan dingin kini tepat berada di depan wajahnya. Ia pun buru-buru melepaskan diri bahkan sebelum otaknya sempat mencerna kejadian yang sedang terjadi."Maaf... maafkan saya, Tuan," ucap Lastri cepat sambil menunduk takut. Jemarinya yang masih menggenggam ponsel saling b
Jam delapan lebih lima menit, Lastri kembali sibuk di dapur. Dengan arahan Mbok Jiah, ia membuat air lemon hangat seperti yang biasa diminum Tuan Ardan. Dan sebelum meletakkan di atas nampan, ia memastikan sekali lagi kekentalannya pas, tidak kurang atau kelebihan.Lastri menarik napas panjang saat tangannya mulai mengangkat nampan. Di sampingnya, Mbok Jiah tersenyum geli melihat sikap Lastri. Lalu dengan lembut ia menepuk pelan bahu Lastri sebagai bentuk dukungan."Tidak apa-apa, Nduk. Tuan hanya sedang mengujimu saja. Mbok yakin kamu pasti lulus," ujarnya ringan.Lastri mengangguk, tak ingin menyangkal ucapan itu. Lagi pula wajar jika seorang majikan ingin menilai kinerja pembantunya. Dan dalam hati, Lastri meyakinkan diri bahwa ia pasti bisa bekerja dengan baik seperti yang diharapkan oleh majikannya.Lastri melangkah mantap saat memijak satu per satu anak tangga. Meski tak dipungkiri bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari langkahnya. Tangannya yang sedikit gemetar, menggenggam
Lastri mengangguk, lalu berjalan di belakang Mbok Jiah menaiki tangga. Langkah mereka melambat saat tiba di depan pintu kamar paling ujung. Mbok Jiah mengetuk pelan sebelum masuk.“Nyonya… ini sarapannya Mbok bawa,” ucapnya sambil membuka pintu.Di dalam kamar, Nyonya Ratih terbaring di ranjang besar dengan sandaran ditinggikan. Tubuhnya tampak kurus, wajahnya pucat namun masih menyisakan garis kecantikan yang lembut. Tangan kirinya terkulai lemah di sisi tubuh, sementara matanya menoleh saat Mbok Jiah mendekat.Mbok Jiah meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang, lalu menoleh pada Lastri.“Nyonya, ini Lastri. Anak baru yang bantu-bantu di rumah. Mulai hari ini, Mbok mau dia belajar ngurus Nyonya juga.”Pandangan Nyonya Ratih beralih ke Lastri. Bibirnya bergerak pelan, suaranya lirih dan sedikit pelo.“Las… tri…”Lastri refleks menunduk sopan. “Iya, Nyonya. Saya Lastri.”Mbok Jiah meraih mangkuk bubur dan sendok, lalu mendekat ke sisi ranjang.“Nduk, perhatiin ya. Nyupain Nyo
Motor ojek yang dinaiki Lastri berhenti di depan gerbang tinggi berwarna hitam doff. Rumah di balik pagar itu tampak megah, berpilar putih dengan taman rapi dan suara gemericik air dari kolam kecil di samping teras. Lastri menarik napas panjang sebelum menurunkan tas jinjing berisi pakaian dan beberapa barang pribadi."Ya Allah, gede banget rumahnya...," gumam Lastri pelan, menatap kagum sekaligus gugup.Gerbang terbuka otomatis setelah satpam memberi izin. Tak lupa Lastri mengucapkan terima kasih setelah satpam itu mengantarnya sampai depan pintu utama. Dari dalam, seorang wanita paruh baya berjalan cepat menyambutnya. Wajahnya ramah, keriput halus di sekitar matanya memberi kesan keibuan."Nduk Lastri," sapanya hangat. "Lama ya tidak bertemu. Ayo masuk, Nduk. Dari tadi saya sudah nunggu."Lastri cepat mengangguk sopan. "Iya, Mbok Jiah. Mbok apa kabar?""Alhamdulillah, beginilah keadaan Mbok, sehat-sehat," jawabnya sambil membimbing Lastri mengikutinya ke dalam.Langkah Lastri mulai







