Share

GTM 4

Penulis: RIANNA ZELINE
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-24 03:12:16

Lastri hampir menabrak tubuh Tuan Ardan jika kakinya tidak melangkah mundur dengan cepat. Namun, posisinya yang berada di tepi teras membuatnya hilang keseimbangan dan hampir jatuh ke belakang jika tidak ada tangan kekar yang menopang tubuhnya.

Tuan Ardan dengan gerakan gesit menarik tubuh Lastri menggunakan lengannya. Seketika itu juga tubuh Lastri hampir menabrak dada bidangnya jika Lastri tak menahannya dengan tangan. Namun tetap saja, posisi itu terasa sangat intim—Tuan Ardan seperti sedang memeluk Lastri, dan jarak mereka hanya terpisah satu tarikan napas.

Lastri membelalak. Jantungnya berdebar cepat--bukan karena sesuatu yang aneh, tapi rasa terkejut yang jadi dua kali lipat. Ditambah tatapan Tuan Ardan yang tajam dan dingin kini tepat berada di depan wajahnya. Ia pun buru-buru melepaskan diri bahkan sebelum otaknya sempat mencerna kejadian yang sedang terjadi.

"Maaf... maafkan saya, Tuan," ucap Lastri cepat sambil menunduk takut. Jemarinya yang masih menggenggam ponsel saling bertaut.

"Apa kau baru saja menghubungi putramu?"

Bukannya menjawab permintaan maaf Lastri, Tuan Ardan justru melemparkan pertanyaan itu.

Lastri terkesiap. Ia sempat mengangkat wajahnya sedikit sebelum kembali menunduk lagi.

"Iya, Tuan," jawab Lastri lirih, "semalam dia kesulitan tidur, jadi saya menghubunginya."

"Memangnya hanya dia yang kesulitan tidur? Saya juga," kata Tuan Ardan datar.

"Hah?" Lastri menatap bingung, mulutnya sedikit terbuka.

"Jika sudah selesai, segera lanjutkan pekerjaanmu," kata Tuan Ardan lagi sebelum Lastri mencerna atau merespon kalimat sebelumnya.

"Ba—baik, Tuan," jawab Lastri. Kepalanya kembali menunduk tanpa berani membantah.

Ardan langsung berbalik dan meninggalkan Lastri. Langkahnya tenang seperti biasa. Tapi ia tak menduga bahwa jantungnya berdetak cepat—bukan karena melihat Lastri hampir terjatuh, atau gerakan cepat saat menyelamatkannya. Tapi karena sesuatu di balik celananya kini telah terbangun akibat sentuhan tak sengaja dari paha Lastri, saat ia menariknya tadi. Dan ia berharap Lastri tak benar-benar menyadari.

Lastri menatap punggung Tuan Ardan yang sudah menjauh. Begitu tubuh tegapnya hilang dari pandangan, Lastri akhirnya menghembuskan napas lega. "Untunglah Tuan tidak marah."

Lastri kembali menyimpan ponselnya, lalu berjalan cepat menuju dapur untuk membantu Mbok Jiah di sana. Tapi sebelum langkahnya benar-benar sampai, pikirannya justru teringat akan ucapan Tuan Ardan yang mengatakan jika majikannya itu juga susah tidur.

"Kasihan sekali Tuan Ardan. Pekerjaan dan istrinya yang sakit pasti membuatnya banyak pikiran. Tak heran jika dia jadi susah tidur kalau malam," gumamnya penuh rasa iba, tanpa ada sedikit pun pikiran kotor di kepalanya.

~~~

Alih-alih pergi ke kamarnya, Ardan memilih berbelok ke arah ruang kerja. Langkahnya terjaga rapi, wajahnya tetap dingin—tak ada satu pun yang berubah di permukaan. Namun hatinya gelisah, khawatir Ratih melihatnya.

Ada sesuatu yang tidak pantas ditunjukkan. Sesuatu yang—anehnya—bangun tanpa izin, tanpa aba-aba, atau tanpa alasan yang masuk akal.

Ia menutup pintu ruang kerja lebih pelan dari biasanya. Punggungnya bersandar sesaat, napasnya tertahan sepersekian detik. Dadanya masih berdetak lebih cepat dari semestinya.

Sentuhan itu... singkat.  Tak sengaja. Bahkan tak layak disebut apa-apa.

Hanya paha Lastri yang sempat menabrak miliknya sesaat. Tidak cukup keras, tidak juga sengaja. Hanya gerakan refleks saat tubuh Lastri ditarik ke arahnya untuk menahannya tidak jatuh. Seharusnya selesai di sana.

Namun tubuhnya justru merespon yang tidak seharusnya.

Ardan memejamkan mata sambil membuang napas kasar. Perasaan itu asing sekaligus terlalu familiar. Sesuatu yang lama terkunci, lama ia kira sudah mati. Bukan karena tak mampu, tapi karena terlalu lama menahan diri semenjak Ratih belum pulih.

Bahkan ia yang setiap hari dikelilingi wajah-wajah muda di kantor. Perempuan-perempuan rapi, wangi, percaya diri. Tak satu pun pernah membuat nadinya melenceng dari irama yang ia kenal.

Tapi pagi ini—oleh seorang pembantu dengan tangan kasar dan suara rendah, oleh kesederhanaan yang bahkan tak berusaha menarik perhatian—tubuhnya justru mengkhianatinya.

"Ada apa denganku?" gumamnya gelisah.

Ardan menarik napas panjang, menata ulang dirinya.

Ia melangkah pelan, lalu duduk di kursi kerja, membuka berkas untuk mengalihkan pikirannya, seolah tak ada yang terjadi.

Namun jantungnya tak bisa berkompromi. Detaknya masih cepat, keras dan nyata.

Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, ia sadar bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang belum benar-benar padam.

~~~

Malam itu Ardan masuk ke kamarnya lebih cepat dari malam-malam sebelumnya. Bukan karena pekerjaannya selesai. Bukan pula karena sudah lelah. Tapi ia ingin menepis gangguan di pikirannya yang terus mengusik sejak pagi buta. Sekaligus ia ingin memastikan bahwa sesuatu dalam tubuhnya hanya milik istrinya.

Ia menutup pintu pelan lalu menatap ke ranjang. Ratih sudah tertidur, mungkin efek obat yang beberapa saat lalu diminum. Wajahnya tampak pucat, tubuhnya kian menyusut, seakan sakit itu perlahan menggerogoti sisa cahaya yang dulu ia miliki. Ratih yang dulu ceria, yang selalu menyambutnya dengan tawa kecil dan tingkah manja, kini hanya tinggal bayangan dalam ingatannya.

Ardan melangkah mendekat, mengecup kening Ratih penuh rasa, lalu merebahkan diri di sebelahnya. Ada kebutuhan diam-diam untuk memastikan bahwa perasaannya tak berubah, bahwa cintanya masih utuh, bahwa miliknya masih bereaksi ketika ia menyentuh istrinya di bagian-bagian tertentu. Namun ternyata kali ini tidak terjadi apa-apa. Entah apa yang salah, mungkin dirinya hanya sedang lelah.

Tak ingin memaksakan diri, Ardan memilih memejamkan mata. Namun bayangan pagi tadi justru menyusup tanpa izin—detik ketika tangannya refleks menahan tubuh Lastri agar tidak terjatuh, atau saat tatapan mereka bertemu pada jarak yang begitu dekat. Jantungnya berdegup tak wajar. Tubuhnya bereaksi, mengkhianati niat dan kesadarannya sendiri.

"Bagaimana bisa?" gumamnya lirih.

Ardan menegang, menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gejolak yang muncul tanpa ia kehendaki.

Ia kembali menoleh, menatap Ratih yang masih terlelap, tak sedikit pun tahu akan kegelisahan hati yang ia rasakan. Dan rasa bersalah itu mulai merayap pelan, menekan dadanya. Ia memalingkan wajah, menatap langit-langit kamar, merasa asing pada dirinya sendiri—pada tubuh yang masih hidup, sementara hati dan pikirannya terkunci oleh kesetiaan yang tak ingin ia khianati.

~~~

Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya saat Ardan baru keluar dari kamar mandi. Cahaya hangat menerobos melalui celah-celah tirai jendela, menyorot tubuhnya yang masih basah, sementara handuk putih hanya melilit bagian bawah tubuhnya.

Ia melangkah menuju lemari dan memilih pakaian untuk bekerja. Tangannya cukup cekatan, mulai dari memakai, mengancingkan sampai memasang sabuk celana dan jam tangan sebagai aksesoris pelengkapnya. Setelah semua hampir siap, ia menatap ke ranjang. Di sana, Ratih memperhatikannya dengan seulas senyum tipis yang penuh makna.

Ardan tersenyum, mendekat dan duduk di tepi ranjang.

"Aku harus ke kantor hari ini. Ada meeting penting dengan salah satu investor," katanya dengan nada lembut.

Ratih mengedip pelan, lalu mengangguk sebagai jawaban.

"Maaf...," ucap Ratih lirih, masih dengan suara pelo dan tatapan penuh arti.

Ucapan itu bukan sekadar kata tanpa makna. Itu adalah ungkapan rasa bersalah karena Ratih tak bisa lagi melayani kebutuhan suaminya dengan sempurna.

Ardan mengangguk. Ia sangat paham ucapan dan tatapan itu. Bukan sekali ini Ratih mengatakannya, tapi hampir setiap hari. Untuk itulah ia mencoba memahami perasaan Ratih tanpa ingin menuntut lebih. 

"Sudah kubilang tidak apa-apa," jawab Ardan sambil mengusap lembut pipi Ratih menggunakan ibu jarinya. "Jangan terlalu memikirkannya. Kamu harus fokus dengan kesehatanmu saja," tambahnya.

Ratih hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Tatapannya mengisyaratkan banyak hal yang ingin diungkapkan pada suaminya, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk berbicara.

Setelah dirasa cukup, Ardan menunduk dan mengecup kening Ratih sebagai tanda pamit. Lalu ia berdiri mengambil tas kerjanya di atas meja. Dan sebelum keluar, tak lupa ia berpesan agar Ratih menghabiskan makanannya serta teratur meminum obat.

Ardan berjalan ke pintu. Begitu handle-nya dipegang, ia mengambil napas dalam-dalam. Baginya ini bukan sekadar soal pekerjaan, tapi ini adalah bagian dari caranya mengalihkan hal-hal yang mengganggu pikiran.

Pintu terbuka, Ardan sedikit terkesiap mendapati Lastri sudah berdiri di depan kamarnya sambil membawa nampan.

"Sarapannya, Tuan," kata Lastri pelan, tanpa berani menatap wajah Tuan Ardan.

Tuan Ardan menatap beberapa piring di atas nampan—telur ceplok setengah matang dan menu sehat untuk istrinya sudah disiapkan. Tapi ia tak ingin sarapan, hanya ingin menghindar.

"Saya sarapan di kantor. Pastikan kamu merawat istri saya dengan baik saat saya tidak ada," kata Tuan Ardan, nadanya tegas dan cenderung dingin. Lalu tanpa menunggu jawaban Lastri, ia melangkah pergi.

"Tuan...," panggil Lastri sambil menoleh menatap punggung Tuan Ardan.

Ardan yang sudah ingin menghindar, terpaksa menghentikan langkah. Ia tidak berbalik, hanya berdiri diam menunggu Lastri bicara. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 4

    Lastri hampir menabrak tubuh Tuan Ardan jika kakinya tidak melangkah mundur dengan cepat. Namun, posisinya yang berada di tepi teras membuatnya hilang keseimbangan dan hampir jatuh ke belakang jika tidak ada tangan kekar yang menopang tubuhnya.Tuan Ardan dengan gerakan gesit menarik tubuh Lastri menggunakan lengannya. Seketika itu juga tubuh Lastri hampir menabrak dada bidangnya jika Lastri tak menahannya dengan tangan. Namun tetap saja, posisi itu terasa sangat intim—Tuan Ardan seperti sedang memeluk Lastri, dan jarak mereka hanya terpisah satu tarikan napas.Lastri membelalak. Jantungnya berdebar cepat--bukan karena sesuatu yang aneh, tapi rasa terkejut yang jadi dua kali lipat. Ditambah tatapan Tuan Ardan yang tajam dan dingin kini tepat berada di depan wajahnya. Ia pun buru-buru melepaskan diri bahkan sebelum otaknya sempat mencerna kejadian yang sedang terjadi."Maaf... maafkan saya, Tuan," ucap Lastri cepat sambil menunduk takut. Jemarinya yang masih menggenggam ponsel saling b

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 3

    Jam delapan lebih lima menit, Lastri kembali sibuk di dapur. Dengan arahan Mbok Jiah, ia membuat air lemon hangat seperti yang biasa diminum Tuan Ardan. Dan sebelum meletakkan di atas nampan, ia memastikan sekali lagi kekentalannya pas, tidak kurang atau kelebihan.Lastri menarik napas panjang saat tangannya mulai mengangkat nampan. Di sampingnya, Mbok Jiah tersenyum geli melihat sikap Lastri. Lalu dengan lembut ia menepuk pelan bahu Lastri sebagai bentuk dukungan."Tidak apa-apa, Nduk. Tuan hanya sedang mengujimu saja. Mbok yakin kamu pasti lulus," ujarnya ringan.Lastri mengangguk, tak ingin menyangkal ucapan itu. Lagi pula wajar jika seorang majikan ingin menilai kinerja pembantunya. Dan dalam hati, Lastri meyakinkan diri bahwa ia pasti bisa bekerja dengan baik seperti yang diharapkan oleh majikannya.Lastri melangkah mantap saat memijak satu per satu anak tangga. Meski tak dipungkiri bahwa jantungnya berdetak lebih cepat dari langkahnya. Tangannya yang sedikit gemetar, menggenggam

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 2

    Lastri mengangguk, lalu berjalan di belakang Mbok Jiah menaiki tangga. Langkah mereka melambat saat tiba di depan pintu kamar paling ujung. Mbok Jiah mengetuk pelan sebelum masuk.“Nyonya… ini sarapannya Mbok bawa,” ucapnya sambil membuka pintu.Di dalam kamar, Nyonya Ratih terbaring di ranjang besar dengan sandaran ditinggikan. Tubuhnya tampak kurus, wajahnya pucat namun masih menyisakan garis kecantikan yang lembut. Tangan kirinya terkulai lemah di sisi tubuh, sementara matanya menoleh saat Mbok Jiah mendekat.Mbok Jiah meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang, lalu menoleh pada Lastri.“Nyonya, ini Lastri. Anak baru yang bantu-bantu di rumah. Mulai hari ini, Mbok mau dia belajar ngurus Nyonya juga.”Pandangan Nyonya Ratih beralih ke Lastri. Bibirnya bergerak pelan, suaranya lirih dan sedikit pelo.“Las… tri…”Lastri refleks menunduk sopan. “Iya, Nyonya. Saya Lastri.”Mbok Jiah meraih mangkuk bubur dan sendok, lalu mendekat ke sisi ranjang.“Nduk, perhatiin ya. Nyupain Nyo

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 1

    Motor ojek yang dinaiki Lastri berhenti di depan gerbang tinggi berwarna hitam doff. Rumah di balik pagar itu tampak megah, berpilar putih dengan taman rapi dan suara gemericik air dari kolam kecil di samping teras. Lastri menarik napas panjang sebelum menurunkan tas jinjing berisi pakaian dan beberapa barang pribadi."Ya Allah, gede banget rumahnya...," gumam Lastri pelan, menatap kagum sekaligus gugup.Gerbang terbuka otomatis setelah satpam memberi izin. Tak lupa Lastri mengucapkan terima kasih setelah satpam itu mengantarnya sampai depan pintu utama. Dari dalam, seorang wanita paruh baya berjalan cepat menyambutnya. Wajahnya ramah, keriput halus di sekitar matanya memberi kesan keibuan."Nduk Lastri," sapanya hangat. "Lama ya tidak bertemu. Ayo masuk, Nduk. Dari tadi saya sudah nunggu."Lastri cepat mengangguk sopan. "Iya, Mbok Jiah. Mbok apa kabar?""Alhamdulillah, beginilah keadaan Mbok, sehat-sehat," jawabnya sambil membimbing Lastri mengikutinya ke dalam.Langkah Lastri mulai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status