LOGINLastri hampir menabrak tubuh Tuan Ardan jika kakinya tidak melangkah mundur dengan cepat. Namun, posisinya yang berada di tepi teras membuatnya hilang keseimbangan dan hampir jatuh ke belakang jika tidak ada tangan kekar yang menopang tubuhnya.
Tuan Ardan dengan gerakan gesit menarik tubuh Lastri menggunakan lengannya. Seketika itu juga tubuh Lastri hampir menabrak dada bidangnya jika Lastri tak menahannya dengan tangan. Namun tetap saja, posisi itu terasa sangat intim—Tuan Ardan seperti sedang memeluk Lastri, dan jarak mereka hanya terpisah satu tarikan napas.Lastri membelalak. Jantungnya berdebar cepat--bukan karena sesuatu yang aneh, tapi rasa terkejut yang jadi dua kali lipat. Ditambah tatapan Tuan Ardan yang tajam dan dingin kini tepat berada di depan wajahnya. Ia pun buru-buru melepaskan diri bahkan sebelum otaknya sempat mencerna kejadian yang sedang terjadi.
"Maaf... maafkan saya, Tuan," ucap Lastri cepat sambil menunduk takut. Jemarinya yang masih menggenggam ponsel saling bertaut. "Apa kau baru saja menghubungi putramu?" Bukannya menjawab permintaan maaf Lastri, Tuan Ardan justru melemparkan pertanyaan itu. Lastri terkesiap. Ia sempat mengangkat wajahnya sedikit sebelum kembali menunduk lagi. "Iya, Tuan," jawab Lastri lirih, "semalam dia kesulitan tidur, jadi saya menghubunginya." "Memangnya hanya dia yang kesulitan tidur? Saya juga," kata Tuan Ardan datar. "Hah?" Lastri menatap bingung, mulutnya sedikit terbuka. "Jika sudah selesai, segera lanjutkan pekerjaanmu," kata Tuan Ardan lagi sebelum Lastri mencerna atau merespon kalimat sebelumnya. "Ba—baik, Tuan," jawab Lastri. Kepalanya kembali menunduk tanpa berani membantah. Ardan langsung berbalik dan meninggalkan Lastri. Langkahnya tenang seperti biasa. Tapi ia tak menduga bahwa jantungnya berdetak cepat—bukan karena melihat Lastri hampir terjatuh, atau gerakan cepat saat menyelamatkannya. Tapi karena sesuatu di balik celananya kini telah terbangun akibat sentuhan tak sengaja dari paha Lastri, saat ia menariknya tadi. Dan ia berharap Lastri tak benar-benar menyadari. Lastri menatap punggung Tuan Ardan yang sudah menjauh. Begitu tubuh tegapnya hilang dari pandangan, Lastri akhirnya menghembuskan napas lega. "Untunglah Tuan tidak marah." Lastri kembali menyimpan ponselnya, lalu berjalan cepat menuju dapur untuk membantu Mbok Jiah di sana. Tapi sebelum langkahnya benar-benar sampai, pikirannya justru teringat akan ucapan Tuan Ardan yang mengatakan jika majikannya itu juga susah tidur. "Kasihan sekali Tuan Ardan. Pekerjaan dan istrinya yang sakit pasti membuatnya banyak pikiran. Tak heran jika dia jadi susah tidur kalau malam," gumamnya penuh rasa iba, tanpa ada sedikit pun pikiran kotor di kepalanya. ~~~ Alih-alih pergi ke kamarnya, Ardan memilih berbelok ke arah ruang kerja. Langkahnya terjaga rapi, wajahnya tetap dingin—tak ada satu pun yang berubah di permukaan. Namun hatinya gelisah, khawatir Ratih melihatnya. Ada sesuatu yang tidak pantas ditunjukkan. Sesuatu yang—anehnya—bangun tanpa izin, tanpa aba-aba, atau tanpa alasan yang masuk akal. Ia menutup pintu ruang kerja lebih pelan dari biasanya. Punggungnya bersandar sesaat, napasnya tertahan sepersekian detik. Dadanya masih berdetak lebih cepat dari semestinya. Sentuhan itu... singkat. Tak sengaja. Bahkan tak layak disebut apa-apa. Hanya paha Lastri yang sempat menabrak miliknya sesaat. Tidak cukup keras, tidak juga sengaja. Hanya gerakan refleks saat tubuh Lastri ditarik ke arahnya untuk menahannya tidak jatuh. Seharusnya selesai di sana. Namun tubuhnya justru merespon yang tidak seharusnya. Ardan memejamkan mata sambil membuang napas kasar. Perasaan itu asing sekaligus terlalu familiar. Sesuatu yang lama terkunci, lama ia kira sudah mati. Bukan karena tak mampu, tapi karena terlalu lama menahan diri semenjak Ratih belum pulih. Bahkan ia yang setiap hari dikelilingi wajah-wajah muda di kantor. Perempuan-perempuan rapi, wangi, percaya diri. Tak satu pun pernah membuat nadinya melenceng dari irama yang ia kenal. Tapi pagi ini—oleh seorang pembantu dengan tangan kasar dan suara rendah, oleh kesederhanaan yang bahkan tak berusaha menarik perhatian—tubuhnya justru mengkhianatinya."Ada apa denganku?" gumamnya gelisah.
Ardan menarik napas panjang, menata ulang dirinya. Ia melangkah pelan, lalu duduk di kursi kerja, membuka berkas untuk mengalihkan pikirannya, seolah tak ada yang terjadi. Namun jantungnya tak bisa berkompromi. Detaknya masih cepat, keras dan nyata. Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, ia sadar bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang belum benar-benar padam. ~~~ Malam itu Ardan masuk ke kamarnya lebih cepat dari malam-malam sebelumnya. Bukan karena pekerjaannya selesai. Bukan pula karena sudah lelah. Tapi ia ingin menepis gangguan di pikirannya yang terus mengusik sejak pagi buta. Sekaligus ia ingin memastikan bahwa sesuatu dalam tubuhnya hanya milik istrinya. Ia menutup pintu pelan lalu menatap ke ranjang. Ratih sudah tertidur, mungkin efek obat yang beberapa saat lalu diminum. Wajahnya tampak pucat, tubuhnya kian menyusut, seakan sakit itu perlahan menggerogoti sisa cahaya yang dulu ia miliki. Ratih yang dulu ceria, yang selalu menyambutnya dengan tawa kecil dan tingkah manja, kini hanya tinggal bayangan dalam ingatannya. Ardan melangkah mendekat, mengecup kening Ratih penuh rasa, lalu merebahkan diri di sebelahnya. Ada kebutuhan diam-diam untuk memastikan bahwa perasaannya tak berubah, bahwa cintanya masih utuh, bahwa miliknya masih bereaksi ketika ia menyentuh istrinya di bagian-bagian tertentu. Namun ternyata kali ini tidak terjadi apa-apa. Entah apa yang salah, mungkin dirinya hanya sedang lelah. Tak ingin memaksakan diri, Ardan memilih memejamkan mata. Namun bayangan pagi tadi justru menyusup tanpa izin—detik ketika tangannya refleks menahan tubuh Lastri agar tidak terjatuh, atau saat tatapan mereka bertemu pada jarak yang begitu dekat. Jantungnya berdegup tak wajar. Tubuhnya bereaksi, mengkhianati niat dan kesadarannya sendiri. "Bagaimana bisa?" gumamnya lirih. Ardan menegang, menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gejolak yang muncul tanpa ia kehendaki. Ia kembali menoleh, menatap Ratih yang masih terlelap, tak sedikit pun tahu akan kegelisahan hati yang ia rasakan. Dan rasa bersalah itu mulai merayap pelan, menekan dadanya. Ia memalingkan wajah, menatap langit-langit kamar, merasa asing pada dirinya sendiri—pada tubuh yang masih hidup, sementara hati dan pikirannya terkunci oleh kesetiaan yang tak ingin ia khianati. ~~~ Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya saat Ardan baru keluar dari kamar mandi. Cahaya hangat menerobos melalui celah-celah tirai jendela, menyorot tubuhnya yang masih basah, sementara handuk putih hanya melilit bagian bawah tubuhnya. Ia melangkah menuju lemari dan memilih pakaian untuk bekerja. Tangannya cukup cekatan, mulai dari memakai, mengancingkan sampai memasang sabuk celana dan jam tangan sebagai aksesoris pelengkapnya. Setelah semua hampir siap, ia menatap ke ranjang. Di sana, Ratih memperhatikannya dengan seulas senyum tipis yang penuh makna. Ardan tersenyum, mendekat dan duduk di tepi ranjang. "Aku harus ke kantor hari ini. Ada meeting penting dengan salah satu investor," katanya dengan nada lembut. Ratih mengedip pelan, lalu mengangguk sebagai jawaban. "Maaf...," ucap Ratih lirih, masih dengan suara pelo dan tatapan penuh arti. Ucapan itu bukan sekadar kata tanpa makna. Itu adalah ungkapan rasa bersalah karena Ratih tak bisa lagi melayani kebutuhan suaminya dengan sempurna. Ardan mengangguk. Ia sangat paham ucapan dan tatapan itu. Bukan sekali ini Ratih mengatakannya, tapi hampir setiap hari. Untuk itulah ia mencoba memahami perasaan Ratih tanpa ingin menuntut lebih. "Sudah kubilang tidak apa-apa," jawab Ardan sambil mengusap lembut pipi Ratih menggunakan ibu jarinya. "Jangan terlalu memikirkannya. Kamu harus fokus dengan kesehatanmu saja," tambahnya. Ratih hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Tatapannya mengisyaratkan banyak hal yang ingin diungkapkan pada suaminya, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk berbicara. Setelah dirasa cukup, Ardan menunduk dan mengecup kening Ratih sebagai tanda pamit. Lalu ia berdiri mengambil tas kerjanya di atas meja. Dan sebelum keluar, tak lupa ia berpesan agar Ratih menghabiskan makanannya serta teratur meminum obat. Ardan berjalan ke pintu. Begitu handle-nya dipegang, ia mengambil napas dalam-dalam. Baginya ini bukan sekadar soal pekerjaan, tapi ini adalah bagian dari caranya mengalihkan hal-hal yang mengganggu pikiran. Pintu terbuka, Ardan sedikit terkesiap mendapati Lastri sudah berdiri di depan kamarnya sambil membawa nampan. "Sarapannya, Tuan," kata Lastri pelan, tanpa berani menatap wajah Tuan Ardan. Tuan Ardan menatap beberapa piring di atas nampan—telur ceplok setengah matang dan menu sehat untuk istrinya sudah disiapkan. Tapi ia tak ingin sarapan, hanya ingin menghindar. "Saya sarapan di kantor. Pastikan kamu merawat istri saya dengan baik saat saya tidak ada," kata Tuan Ardan, nadanya tegas dan cenderung dingin. Lalu tanpa menunggu jawaban Lastri, ia melangkah pergi. "Tuan...," panggil Lastri sambil menoleh menatap punggung Tuan Ardan. Ardan yang sudah ingin menghindar, terpaksa menghentikan langkah. Ia tidak berbalik, hanya berdiri diam menunggu Lastri bicara.Malam berikutnya hadir lebih cepat dari yang Lastri harapkan. Kata-kata Tuan Ardan semalam—sebelum mereka berpisah setelah adegan pelepasan Lastri—terus menghantuinya bagai bayangan. Dan ia berharap kata-kata itu tak perlu diwujudkan, entah malam ini atau malam-malam yang akan datang.Setelah sebagian lampu telah diredupkan, menyisakan cahaya hangat di ruang keluarga yang terasa tenang. Lastri bergerak cepat menyelesaikan pekerjaan, harapannya bisa menghindari Tuan Ardan. Tapi rasanya tetap saja terlambat. Tuan Ardan bahkan sudah tahu jika ia baru saja selesai membereskan dapur, bagai mata-mata yang sudah mengintai mangsanya sejak lama.“Lastri, kemari sebentar.”Suara Tuan Ardan memanggilnya dari ruang tengah.Lastri ragu sejenak sebelum melangkah mendekat. Ia berhenti di ambang ruang keluarga, melihat Tuan Ardan duduk santai di sofa dengan televisi yang sudah menyala.“Tuan memanggil saya?” tanyanya hati-hati.Ardan menoleh dan tersenyum tipis. Di tangannya ada sebuah kotak persegi
Lastri merasa mulai kewalahan menerima ciuman itu. Tapi setiap kali tangannya berusaha lepas, cengkeraman tangan ARdan bertambah kuat. Saat tubuhnya berusaha memberontak, tubuh Ardan semakin mendekat, lalu ciumannya pun semakin panas. Tak jarang ia memberikan gigitan yang membuat bibir Lastri terasa kebas.Napas Lastri terengah, tapi Ardan seolah tak meberikan waktu untuknya mengambil oksigen. Setiap perlawanan kecil yang dilakukan Lastri, maka semakin kasar gerakan Ardan di tubuhnya.Lastri merasakan tubuhnya mulai lemas, seolah tenaganya baru saja dikuras Ardan habis-habisan. Ia akhirnya mendesah lelah, pasrah pada pria yang kini menguasi tubuhnya.Ia memejamkan mata, berusaha merasakan setiap sentuhan di tubuhnya. Merasakan hasrat yang membakar dalam dirinya, dan perlahan... ia menikmatinya."Eemmhh...."Lastri tak lagi melawan. Ia mulai membalas ciuman Ardan dengan gerakan lembut tapi panas. Saat cengkeraman di tangannya dilepas karena tangan Ardan berpindah ke tengkuknya, Lastri
Beberapa menit berlalu dan hujan mulai reda, menyisakan gerimis kecil yang masih terdengar riuh di atap rumah.Lastri mulai menegakkan tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan Tuan Ardan. Dan ia cukup lega karena kali ini Tuan Ardan tidak menahannya."Saya... mau kembali ke kamar. Terima kasih sudah menemani saya, Tuan," ucap Lastri pelan sambil menunduk, tak berani menatap mata Tuan Ardan.Ardan menatap Lastri beberapa detik sebelum akhinya bertanya, "Apa kamu sudah mengantuk? Kalau belum, tolong buatkan kopi."Lastri mengangkat wajahnya, mencoba mencari makna tersembunyi dari kata-kata itu, tapi ia tak bisa menemukan apa-apa. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya buatkan sekarang."Listrik belum menyala, Lastri melangkah hati-hati menuju dapur berbekal senter ponselnya. Dalam gelap itu, ia merasakan sesuatu yang mencekam, yaitu tatapan Tuan Ardan yang ia yakin masih mengamatinya dari belakang.Ardan menatap Lastri yang perlahan menjauh. Dalam kegelapan itu
Lastri berdiri beberapa detik di depan pintu kamar Nyonya Ratih sebelum akhirnya mengetuk pelan.Ia sudah mengganti pakaiannya dengan cepat, merapikan rambutnya, bahkan sempat mencuci wajah berkali-kali di wastafel dapur. Namun tetap saja, jantungnya masih berdetak tidak wajar. Seolah tubuhnya belum benar-benar kembali dari kejadian beberapa menit lalu.“Masuk,” terdengar suara Nyonya Ratih dari dalam.Lastri membuka pintu dengan hati-hati sambil membawa nampan sarapan yang sudah ia susun rapi.Ratih setengah duduk di tempat tidur, bersandar pada bantal. Wajahnya masih terlihat pucat seperti beberapa hari terakhir, tetapi matanya tampak lebih segar pagi itu.“Pagi, Nyonya,” ucap Lastri lembut.Ia berjalan mendekat dan meletakkan nampan di meja kecil di samping tempat tidur.Ratih memperhatikan Lastri sebentar. Ada sesuatu yang berbeda.Biasanya Lastri bergerak tenang dan teratur. Pagi ini tangannya terlihat sedikit tergesa saat menata piring, bahkan sendok kecil di tangannya sempat be
Sinar mentari menyusup di antara lubang ventilasi kamar Lastri. Ia mengerjap pelan, lalu membuka matanya lebar. Tangannya meraih ponsel di atas meja dengan jantung berdebar kencang.Pukul 06.00 pagi."Astaga! Aku kesiangan," serunya panik.Dengan cepat ia bangkit dan keluar kamar tanpa merapikan tempat tidur. Ia melangkah tergesa-gesa menuju dapur sambil menguncir rambutnya asal. Kemudian mengambil bahan-bahan di lemari pendingin dan memotongnya secepat yang ia bisa.Waktu sarapan Nyonya Ratih yang tinggal satu jam lagi, membuatnya harus bekerja ekstra cepat. Tak ada waktu untuk bersantai. Semua harus tepat waktu atau ia bisa saja dipecat karena dianggap teledor.Dari lorong arah kamar tamu, Ardan berjalan pelan sambil mengamati Lastri dari kejauhan. Bibirnya tak henti menyunging senyum mengingat aksi panasnya bersama Lastri semalam.Ditambah lagi ia melihat bahwa saat ini Lastri mengenakan gaun rumahan yang ia belikan. Gaun itu begitu pas di tubuhnya. Panjang gaun yang hanya sebatas
Ardan memperdalam ciuman itu, tangannya bergerak naik ke punggung Lastri, merasakan lekuk tubuh yang terbalut gaun hitam tipis itu. Ia tak lagi hanya memastikan perasaan mereka sama. Ia sedang menegaskan bahwa ini nyata.Napas Lastri semakin tak teratur. Tubuhnya terasa semakin panas, bukan hanya karena anggur. Jarak yang dulu selalu ia jaga kini hilang sepenuhnya.Ciuman itu berubah menjadi lebih mendesak. Lebih haus."Emmhhh... "Lenguhan samar itu terdengar. Namun di tengah pusaran panas itu, Lastri tiba-tiba menarik napas tajam dan memalingkan wajahnya.“Kita… tidak boleh…” suaranya gemetar, napasnya masih terputus-putus.Ardan berhenti, meski dahinya masih menempel pada kening Lastri. Napasnya berat. Matanya lebih gelap dari sebelumnya.“Aku tahu,” jawabnya serak.Mereka sama-sama tahu.Ini kesalahan.Ini pengkhianatan.Ini sesuatu yang akan melukai lebih dari satu hati.Namun anehnya, kesadaran itu tidak serta-merta memadamkan api yang sudah terlanjur menyala.Ardan mengusap pip







