Share

GTM 5

Author: RIANNA ZELINE
last update publish date: 2026-02-13 22:43:11

Lastri berusaha tetap tenang meski kini ia menyadari ada sedikit ketegangan di antara dirinya dan Tuan Ardan. Tapi ia meyakinkan diri bahwa ia tidak membuat kesalahan fatal. Bahkan saat ia menghubungi putranya, Tuan Ardan sama sekali tidak marah atau melarang. Yang penting ia bertanggug jawab penuh pada pekerjaan. Namun, entah apa yang membuat Tuan Ardan tampak lebih dingin dari sebelumnya. Mungkin saja memang ada masalah, entah pekerjaan atau urusan pribadi lainnya. Begitu pikir Lastri.

"Saya hanya ingin memberi tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir Mbok Jiah bekerja, Tuan."

Ardan menoleh dengan dahi mengernyit. "Hari ini? Bukannya masih tiga hari lagi?"

"Seharusnya begitu, Tuan. Tapi untuk alasan detailnya saya juga kurang tahu. Katanya Mbok Jiah sendiri yang akan menjelaskannya pada Tuan," terang Lastri hati-hati.

Wajah Tuan Ardan kembali datar. Kemudian berpaling hendak menuruni tangga.

"Katakan agar menunggu saya pulang kerja," kata Tuan Ardan tanpa menatap Lastri sedikit pun. Lalu menuruni tangga dengan langkah cepat, seolah sudah sangat terlambat.

Lastri hanya bisa menghembus napas lelah, tapi ia tidak ingin memikirkan sikap majikan laki-lakinya itu. Ia kembali fokus dengan tugas yang harus ia kerjakan saat ini, yaitu menyuapi Nyonya Ratih.

"Selamat pagi, Nyonya," sapa Lastri dengan senyum ceria, berharap semangatnya ikut menular pada nyonya majikannya.

Ia mendekat dan meletakkan nampan di atas meja. Kemudian mengambil duduk nyaman di tepi ranjang. Saat ingin menyuapkan makanan, ia menangkap gurat kesedihan di wajah Nyonya Ratih meski, disamarkan oleh senyuman tipis.

"Hari ini Anda tampak kurang baik, Nyonya. Apa ada sesuatu yang dirasa kurang nyaman?" tanya Lastri penuh perhatian. "Atau ada bagian yang sakit? Tolong bilang, ya?"

Ratih menatap wajah Lastri lama, lalu menggeleng pelan. Bukan karena tak ada yang ingin ia katakan, tapi sulit baginya untuk bisa berbicara banyak pada kondisinya sekarang.

Lastri tersenyum hangat, tidak memaksa. Ia hanya menyuapi Nyonya Ratih dengan penuh kesabaran dan ketelatenan.

"Terima kasih," ucap Nyonya Ratih tiba-tiba. Suaranya lirih, sedikit pelo, tapi masih bisa dimengerti.

"Sama-sama, Nyonya. Saya senang bisa merawat Anda. Ini juga mengingatkan saya pada suami saya yang saat ini juga sedang sakit," jawab Lastri. Suaranya berubah rendah.

"Sakit?" ulang Nyonya Ratih.

"Iya, Nyonya. Suami saya lumpuh pasca mengalami kecelakaan. Setiap hari dia menjalani harinya di atas kursi roda. Karena itulah saya harus menggantikannya mencari nafkah," jelas Lastri dengan nada sedikit bergetar.

"A...anak?"

"Anak saya baru satu, namanya Yudha. Sekarang usianya sudah enam tahun. Kebetulan saya memang tinggal dengan mertua. Jadi suami dan anak saya dirawat oleh mereka."

Ratih mendengarkan cerita Lastri dengan begitu serius. Ada rasa iba dan juga haru melihat Lastri semangat berjuang demi keluarganya. Tangannya sebelah kiri yang masih bisa digerakkan sedikit, bergerak perlahan menyentuh punggung tangan Lastri. Seolah itulah bentuk dukungan yang bisa ia berikan pada pembantu barunya itu.

Lastri meletakkan mangkuk di atas nampan, lalu tangannya balas menggenggam tangan Nyonya Ratih. Ia tersenyum hangat, penuh dukungan dan juga terima kasih.

"Sepertinya ujian keluarga kita sama, Nyonya. Saya harap kita bisa saling mendukung demi kesembuhan bersama. Saya merawat Nyonya, dan gaji saya untuk pengobatan suami saya."

Bagai api unggun di antara dinginnya angin malam, kata-kata Lastri membuat hati Ratih terasa menghangat. Ia sadar bahwa bukan hanya dirinya yang sedang diuji melalui suatu penyakit, tapi ada banyak orang di luaran sana. Namun, mendengar kejujuran Lastri tentang kondisi keluarganya, tentang tekadnya menyembuhkan suaminya walau harus berpisah untuk mencari nafkah.

Di depan kamar—di antara pintu yang terbuka sebagian—Ardan berdiri diam sambil mendengarkan percakapan mereka. Hatinya ikut menghangat melihat Lastri begitu peduli pada istrinya. Dan untuk pertama kalinya sejak istrinya sakit, ia melihat ada kobaran api semangat di mata Ratih—api semangat yang hampir padam saat harapan sembuh semakin menipis.

Ardan berdehem pelan, melangkah masuk dan tersenyum pada istrinya. Sementara Lastri buru-buru menunduk sopan.

"Ada berkas yang masih tertinggal," katanya sambil berjalan menuju meja, mengambil map coklat di dalam lacinya.

Setelah berkasnya sudah diambil, Ardan kembali menatap istrinya dan tersenyum sebagai isyarat pamit. Ia melangkah keluar kamar, membiarkan pintunya tetap terbuka seperti sebelumnya.

Lastri sempat menangkap interaksi kedua majikannya, entah itu tatapan, cara bicara, atau cara mereka bersikap. Hal itu membuatnya ikut tersenyum hangat.

"Tuan Ardan itu... di luar kelihatan dingin, ya?" kata Lastri tiba-tiba, "tapi saat saya lihat caranya menatap, saya tahu dia sangat mencintai Anda, Nyonya."

Lagi-lagi Ratih dibuat tersenyum oleh ucapan Lastri, sebuah pembenaran bahwa ia memang merasa demikian. Itulah salah satu alasan yang membuatnya sanggup bertahan sampai sekarang.

~~~

Sore itu Mbok Jiah menemui Tuan Ardan dengan tas besar yang sudah ia jinjing sejak dari dapur. Langkahnya pelan, wajahnya sedikit cemas, tapi tak menyurutkan niatnya menemui Tuan Ardan. Sementara Lastri berada satu langkah di belakang.

Di ruang tengah, Tuan Ardan duduk sambil mengamati tabletnya. Wajahnya tampak serius, tapi auranya begitu tenang.

"Tuan...," panggil Mbok Jiah pelan, kepalanya menunduk sopan.

Mendengar dirinya dipanggil, Ardan segera mengangkat kepala. Tanpa menjawab, tatapannya sudah berbicara.

"Saya mau pamit, Tuan," ucap Mbok Jiah lirih. "Saya tahu harusnya masih tiga hari lagi saya bekerja di sini. Tapi saat ini cucu saya sedang sakit. Dia dirawat di rumah sakit dan harus ada yang gantian menjaganya."

Ardan menatap perempuan tua itu sejenak.

"Saya tidak tahu harus berkata apa. Yang pasti saya sangat berterima kasih karena Mbok sudah bekerja dengan baik selama ini. Juga sudah sabar merawat istri saya yang sedang sakit," katanya tulus.

Mbok Jiah mengangguk, dengan kepala yang masih menunduk.

Ardan masih menatap. Tapi kali ini langsung mengangguk, tidak ada lagi pertanyaan berlebih. Lalu menyerahkan sebuah amplop coklat yang sudah ia siapkan sejak siang.

"Ini hak Mbok. Saya tidak memotongnya sepeser pun walaupun Mbok resign tiga hari leih cepat dari yang seharusnya. Kalau ada lebih, itu semua sudah rezeki Mbok. Semoga cucunya lekas sembuh."

Mata Mbok Jiah berkaca-kaca. Berkali-kali ia mengucap terima kasih, membungkuk dengan hormat sebelum melangkah pergi.

"Lastri," panggil Tuan Ardan datar.

Lasri mendongak. Tatapan dingin Tuan Ardan sempat membuatnya menelan ludah.

"Setelah mengantar Mbok Jiah sampai depan, temui saya di ruang kerja."

"Baik, Tuan," jawab Lastri sambil mengangguk sopan.

Lastri membantu Mbok Jiah membawakan tas. Namun, ucapan Tuan Ardan membuat jantungnya berdebar-debar, sedikit takut sekaligus penasaran. Tapi ia buru-buru mengambil napas panjang dan meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja. 

Begitu tiba di depan, di luar teras sudah ada tukang ojek online yang sebelumnya sudah dipesan Lastri atas permintaan Mbok Jiah.

"Kamu baik-baik di rumah ini, ya, Nduk. Nggak usah takut sama Tuan. Kalau ada yang nggak ngerti kamu tanya sama beliau, pasti dijawab atau diajarin kalau perlu," pesan Mbok Jiah sebelum berpamitan. "Mbok yakin kamu pasti betah di sini."

Lastri mengangguk, tersenyum haru. "Iya, Mbok. Terima kasih sudah banyak mengajari Lastri beberapa hari ini. Mbok jaga kesehatan dan baik-baik di rumah. Semoga cucunya juga lekas sembuh."

Mbok Jiah akhirnya berpamitan. Ia berjalan menuju motor tukang ojek bersama Lastri yang masih membawakan tasnya. Setelah ojek yang membonceng Mbok Jiah sudah keluar melewati pagar, Lastri berbalik dan langsung masuk ke dalam rumah.

~~~

Lastri berdiri di depan pintu ruang kerja dengan ragu. Setelah menarik napas singkat, ia mengetuk pelan.

"Masuk."

Suara Tuan Ardan terdengar datar.

Lastri melangkah masuk dan menutup pintu kembali. Ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia berjalan mendekat. Tuan Ardan duduk di balik meja kerjanya, jas sudah dilepas, dan lengan panjang kemejanya tergulung rapi. Tatapannya terangkat perlahan, meneliti Lastri tanpa ekspresi yang mudah ditebak.

"Duduk," katanya singkat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 31 : Pelepasan

    Masih dengan posisi Ardan menggendong tubuh Lastri sambil berpagutan, udara kamar tamu yang semula terasa pengap, kini berubah hangat. Ardan membawa tubuh Lastri ke ranjang. Dengan perlahan dan hati-hati, ia membaringkan Lastri tanpa melepas ciuman. Kemudian menindihnya lembut, seolah tanpa tekanan.Ciuman itu terus berlanjut—lembut, tapi jelas menuntut. Turun perlahan ke rahang Lastri... leher... lalu kembali mengusai dadanya.Lastri menggelinjang. Tubuhnya menggeliat gelisah. Tangannya meremas rambut Tuan Ardan—bukan lagi penolakan, tapi sebuah pegangan untuk bertahan. Kadang ia menekan, seolah tak ingin Tuan Ardan menghentikan hisapan atau jilatan yang memabukkan.Beberapa saat ciuman itu menjadi semakin tak terkendali. Tak hanya bagian dada, Ardan menggeser bibirnya memberi kecupan-kecupan mesra di permukaan kulit perut Lastri. Setiap kecupan itu bagai sengatan-sengatan llistrik kecil—mengejutkan, tapi juga membuatnya terus menginginkan.Saat ciuman itu akhirnya tiba di bawah pusa

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 30 : Menghancurkan Batas

    Ciuman Ardan berlanjut, tidak lembut, tapi juga tidak menuntut. Itu adalah desakan dari seseorang yang menahan semuanya terlalu lama. Tak ada bayangan Ratih dalam benaknya, apalagi rasa bersalah. Yang ada hanya Lastri dan perasaan yang ia benarkan dalam hati.Sementara bayangan Arman masih hadir dalam benak Lastri. Tapi bayangan itu tak lagi jelas, tersamarkan oleh rasa nyaman akan kehangatan Tuan Ardan.Jemari tangan Lastri yang menarik kuat ujung gaun, perlahan melemah, berpindah pada dada bidang dan pundak Tuan Ardan—bukan lagi untuk mendorong, tapi bertahan dari gelombang gairah yang mulai pasang.Ketika ciuman itu perlahan terlepas, Ardan tidak langsung menjauh.Tatapannya jatuh pada wajah Lastri yang memerah-napasnya masih belum teratur, bibirnya sedikit terbuka, matanya setengah terpejam seolah masih tertinggal di dalam ciuman tadi.Ada campuran rasa malu… dan sesuatu yang lebih dalam dari itu.Ardan mengangkat tangannya, menyentuh pipi Lastri dengan punggung jari. Lembut. Hamp

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 29 : Batas yang Semakin Tipis

    Malam berikutnya hadir lebih cepat dari yang Lastri harapkan. Kata-kata Tuan Ardan semalam—sebelum mereka berpisah setelah adegan pelepasan Lastri—terus menghantuinya bagai bayangan. Dan ia berharap kata-kata itu tak perlu diwujudkan, entah malam ini atau malam-malam yang akan datang.Setelah sebagian lampu telah diredupkan, menyisakan cahaya hangat di ruang keluarga yang terasa tenang. Lastri bergerak cepat menyelesaikan pekerjaan, harapannya bisa menghindari Tuan Ardan. Tapi rasanya tetap saja terlambat. Tuan Ardan bahkan sudah tahu jika ia baru saja selesai membereskan dapur, bagai mata-mata yang sudah mengintai mangsanya sejak lama.“Lastri, kemari sebentar.”Suara Tuan Ardan memanggilnya dari ruang tengah.Lastri ragu sejenak sebelum melangkah mendekat. Ia berhenti di ambang ruang keluarga, melihat Tuan Ardan duduk santai di sofa dengan televisi yang sudah menyala.“Tuan memanggil saya?” tanyanya hati-hati.Ardan menoleh dan tersenyum tipis. Di tangannya ada sebuah kotak persegi

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 28 :

    Lastri merasa mulai kewalahan menerima ciuman itu. Tapi setiap kali tangannya berusaha lepas, cengkeraman tangan ARdan bertambah kuat. Saat tubuhnya berusaha memberontak, tubuh Ardan semakin mendekat, lalu ciumannya pun semakin panas. Tak jarang ia memberikan gigitan yang membuat bibir Lastri terasa kebas.Napas Lastri terengah, tapi Ardan seolah tak meberikan waktu untuknya mengambil oksigen. Setiap perlawanan kecil yang dilakukan Lastri, maka semakin kasar gerakan Ardan di tubuhnya.Lastri merasakan tubuhnya mulai lemas, seolah tenaganya baru saja dikuras Ardan habis-habisan. Ia akhirnya mendesah lelah, pasrah pada pria yang kini menguasi tubuhnya.Ia memejamkan mata, berusaha merasakan setiap sentuhan di tubuhnya. Merasakan hasrat yang membakar dalam dirinya, dan perlahan... ia menikmatinya."Eemmhh...."Lastri tak lagi melawan. Ia mulai membalas ciuman Ardan dengan gerakan lembut tapi panas. Saat cengkeraman di tangannya dilepas karena tangan Ardan berpindah ke tengkuknya, Lastri

  • Godaan Tuan Majikan   GTM : 27 Awal Malam Panas

    Beberapa menit berlalu dan hujan mulai reda, menyisakan gerimis kecil yang masih terdengar riuh di atap rumah.Lastri mulai menegakkan tubuhnya, mencoba melepaskan diri dari dekapan Tuan Ardan. Dan ia cukup lega karena kali ini Tuan Ardan tidak menahannya."Saya... mau kembali ke kamar. Terima kasih sudah menemani saya, Tuan," ucap Lastri pelan sambil menunduk, tak berani menatap mata Tuan Ardan.Ardan menatap Lastri beberapa detik sebelum akhinya bertanya, "Apa kamu sudah mengantuk? Kalau belum, tolong buatkan kopi."Lastri mengangkat wajahnya, mencoba mencari makna tersembunyi dari kata-kata itu, tapi ia tak bisa menemukan apa-apa. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya buatkan sekarang."Listrik belum menyala, Lastri melangkah hati-hati menuju dapur berbekal senter ponselnya. Dalam gelap itu, ia merasakan sesuatu yang mencekam, yaitu tatapan Tuan Ardan yang ia yakin masih mengamatinya dari belakang.Ardan menatap Lastri yang perlahan menjauh. Dalam kegelapan itu

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 26

    Lastri berdiri beberapa detik di depan pintu kamar Nyonya Ratih sebelum akhirnya mengetuk pelan.Ia sudah mengganti pakaiannya dengan cepat, merapikan rambutnya, bahkan sempat mencuci wajah berkali-kali di wastafel dapur. Namun tetap saja, jantungnya masih berdetak tidak wajar. Seolah tubuhnya belum benar-benar kembali dari kejadian beberapa menit lalu.“Masuk,” terdengar suara Nyonya Ratih dari dalam.Lastri membuka pintu dengan hati-hati sambil membawa nampan sarapan yang sudah ia susun rapi.Ratih setengah duduk di tempat tidur, bersandar pada bantal. Wajahnya masih terlihat pucat seperti beberapa hari terakhir, tetapi matanya tampak lebih segar pagi itu.“Pagi, Nyonya,” ucap Lastri lembut.Ia berjalan mendekat dan meletakkan nampan di meja kecil di samping tempat tidur.Ratih memperhatikan Lastri sebentar. Ada sesuatu yang berbeda.Biasanya Lastri bergerak tenang dan teratur. Pagi ini tangannya terlihat sedikit tergesa saat menata piring, bahkan sendok kecil di tangannya sempat be

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 22 : Menepati Janji

    Pagi datang dengan cahaya yang lebih ramah.Lastri terbangun lebih dulu. Refleks, tangannya langsung menyentuh kening Yudha. Tidak sepanas semalam. Tidak lagi membakar.Ia menghela napas panjang. “Alhamdulillah...” bisiknya lirih.Yudha menggeliat pelan, matanya membuka setengah. Wajahnya masih puc

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 16 : Jatuh Sakit

    Lastri menahan napasnya di dada, seolah dengan cara itu bisa menahan jarak yang semakin tipis di antara mereka. Kata-kata Tuan Ardan, semakin hari semakin berani menyentuh batas tabu. Semua itu membuat Lastri sadar, bahwa ucapan Tuan Ardan bukan sekadar candaan.Sebelum tubuhnya benar-benar ditahan

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 8

    Lastri tampak agak terkejut dengan ajakan itu. Tapi dengan cepat ia menggeleng sopan sambil tersenyum canggung."Terima kasih, Tuan. Tapi nanti saja saya makan sendiri di belakang.""Tidak usah tunggu nanti, kamu bisa pingsan kalau tidak segera sarapan. Duduklah." Tuan Ardan memaksa.

  • Godaan Tuan Majikan   GTM 24 : Percikan Api Gairah

    Ardan memperdalam ciuman itu, tangannya bergerak naik ke punggung Lastri, merasakan lekuk tubuh yang terbalut gaun hitam tipis itu. Ia tak lagi hanya memastikan perasaan mereka sama. Ia sedang menegaskan bahwa ini nyata.Napas Lastri semakin tak teratur. Tubuhnya terasa semakin panas, bukan hanya k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status