ANMELDENLastri berusaha tetap tenang meski kini ia menyadari ada sedikit ketegangan di antara dirinya dan Tuan Ardan. Tapi ia meyakinkan diri bahwa ia tidak membuat kesalahan fatal. Bahkan saat ia menghubungi putranya, Tuan Ardan sama sekali tidak marah atau melarang. Yang penting ia bertanggug jawab penuh pada pekerjaan. Namun, entah apa yang membuat Tuan Ardan tampak lebih dingin dari sebelumnya. Mungkin saja memang ada masalah, entah pekerjaan atau urusan pribadi lainnya. Begitu pikir Lastri.
"Saya hanya ingin memberi tahu bahwa hari ini adalah hari terakhir Mbok Jiah bekerja, Tuan." Ardan menoleh dengan dahi mengernyit. "Hari ini? Bukannya masih tiga hari lagi?" "Seharusnya begitu, Tuan. Tapi untuk alasan detailnya saya juga kurang tahu. Katanya Mbok Jiah sendiri yang akan menjelaskannya pada Tuan," terang Lastri hati-hati. Wajah Tuan Ardan kembali datar. Kemudian berpaling hendak menuruni tangga. "Katakan agar menunggu saya pulang kerja," kata Tuan Ardan tanpa menatap Lastri sedikit pun. Lalu menuruni tangga dengan langkah cepat, seolah sudah sangat terlambat. Lastri hanya bisa menghembus napas lelah, tapi ia tidak ingin memikirkan sikap majikan laki-lakinya itu. Ia kembali fokus dengan tugas yang harus ia kerjakan saat ini, yaitu menyuapi Nyonya Ratih. "Selamat pagi, Nyonya," sapa Lastri dengan senyum ceria, berharap semangatnya ikut menular pada nyonya majikannya. Ia mendekat dan meletakkan nampan di atas meja. Kemudian mengambil duduk nyaman di tepi ranjang. Saat ingin menyuapkan makanan, ia menangkap gurat kesedihan di wajah Nyonya Ratih meski, disamarkan oleh senyuman tipis. "Hari ini Anda tampak kurang baik, Nyonya. Apa ada sesuatu yang dirasa kurang nyaman?" tanya Lastri penuh perhatian. "Atau ada bagian yang sakit? Tolong bilang, ya?" Ratih menatap wajah Lastri lama, lalu menggeleng pelan. Bukan karena tak ada yang ingin ia katakan, tapi sulit baginya untuk bisa berbicara banyak pada kondisinya sekarang. Lastri tersenyum hangat, tidak memaksa. Ia hanya menyuapi Nyonya Ratih dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. "Terima kasih," ucap Nyonya Ratih tiba-tiba. Suaranya lirih, sedikit pelo, tapi masih bisa dimengerti. "Sama-sama, Nyonya. Saya senang bisa merawat Anda. Ini juga mengingatkan saya pada suami saya yang saat ini juga sedang sakit," jawab Lastri. Suaranya berubah rendah. "Sakit?" ulang Nyonya Ratih. "Iya, Nyonya. Suami saya lumpuh pasca mengalami kecelakaan. Setiap hari dia menjalani harinya di atas kursi roda. Karena itulah saya harus menggantikannya mencari nafkah," jelas Lastri dengan nada sedikit bergetar. "A...anak?" "Anak saya baru satu, namanya Yudha. Sekarang usianya sudah enam tahun. Kebetulan saya memang tinggal dengan mertua. Jadi suami dan anak saya dirawat oleh mereka." Ratih mendengarkan cerita Lastri dengan begitu serius. Ada rasa iba dan juga haru melihat Lastri semangat berjuang demi keluarganya. Tangannya sebelah kiri yang masih bisa digerakkan sedikit, bergerak perlahan menyentuh punggung tangan Lastri. Seolah itulah bentuk dukungan yang bisa ia berikan pada pembantu barunya itu. Lastri meletakkan mangkuk di atas nampan, lalu tangannya balas menggenggam tangan Nyonya Ratih. Ia tersenyum hangat, penuh dukungan dan juga terima kasih. "Sepertinya ujian keluarga kita sama, Nyonya. Saya harap kita bisa saling mendukung demi kesembuhan bersama. Saya merawat Nyonya, dan gaji saya untuk pengobatan suami saya." Bagai api unggun di antara dinginnya angin malam, kata-kata Lastri membuat hati Ratih terasa menghangat. Ia sadar bahwa bukan hanya dirinya yang sedang diuji melalui suatu penyakit, tapi ada banyak orang di luaran sana. Namun, mendengar kejujuran Lastri tentang kondisi keluarganya, tentang tekadnya menyembuhkan suaminya walau harus berpisah untuk mencari nafkah. Di depan kamar—di antara pintu yang terbuka sebagian—Ardan berdiri diam sambil mendengarkan percakapan mereka. Hatinya ikut menghangat melihat Lastri begitu peduli pada istrinya. Dan untuk pertama kalinya sejak istrinya sakit, ia melihat ada kobaran api semangat di mata Ratih—api semangat yang hampir padam saat harapan sembuh semakin menipis. Ardan berdehem pelan, melangkah masuk dan tersenyum pada istrinya. Sementara Lastri buru-buru menunduk sopan. "Ada berkas yang masih tertinggal," katanya sambil berjalan menuju meja, mengambil map coklat di dalam lacinya. Setelah berkasnya sudah diambil, Ardan kembali menatap istrinya dan tersenyum sebagai isyarat pamit. Ia melangkah keluar kamar, membiarkan pintunya tetap terbuka seperti sebelumnya. Lastri sempat menangkap interaksi kedua majikannya, entah itu tatapan, cara bicara, atau cara mereka bersikap. Hal itu membuatnya ikut tersenyum hangat. "Tuan Ardan itu... di luar kelihatan dingin, ya?" kata Lastri tiba-tiba, "tapi saat saya lihat caranya menatap, saya tahu dia sangat mencintai Anda, Nyonya." Lagi-lagi Ratih dibuat tersenyum oleh ucapan Lastri, sebuah pembenaran bahwa ia memang merasa demikian. Itulah salah satu alasan yang membuatnya sanggup bertahan sampai sekarang. ~~~ Sore itu Mbok Jiah menemui Tuan Ardan dengan tas besar yang sudah ia jinjing sejak dari dapur. Langkahnya pelan, wajahnya sedikit cemas, tapi tak menyurutkan niatnya menemui Tuan Ardan. Sementara Lastri berada satu langkah di belakang. Di ruang tengah, Tuan Ardan duduk sambil mengamati tabletnya. Wajahnya tampak serius, tapi auranya begitu tenang. "Tuan...," panggil Mbok Jiah pelan, kepalanya menunduk sopan. Mendengar dirinya dipanggil, Ardan segera mengangkat kepala. Tanpa menjawab, tatapannya sudah berbicara. "Saya mau pamit, Tuan," ucap Mbok Jiah lirih. "Saya tahu harusnya masih tiga hari lagi saya bekerja di sini. Tapi saat ini cucu saya sedang sakit. Dia dirawat di rumah sakit dan harus ada yang gantian menjaganya." Ardan menatap perempuan tua itu sejenak. "Saya tidak tahu harus berkata apa. Yang pasti saya sangat berterima kasih karena Mbok sudah bekerja dengan baik selama ini. Juga sudah sabar merawat istri saya yang sedang sakit," katanya tulus. Mbok Jiah mengangguk, dengan kepala yang masih menunduk. Ardan masih menatap. Tapi kali ini langsung mengangguk, tidak ada lagi pertanyaan berlebih. Lalu menyerahkan sebuah amplop coklat yang sudah ia siapkan sejak siang. "Ini hak Mbok. Saya tidak memotongnya sepeser pun walaupun Mbok resign tiga hari leih cepat dari yang seharusnya. Kalau ada lebih, itu semua sudah rezeki Mbok. Semoga cucunya lekas sembuh." Mata Mbok Jiah berkaca-kaca. Berkali-kali ia mengucap terima kasih, membungkuk dengan hormat sebelum melangkah pergi. "Lastri," panggil Tuan Ardan datar. Lasri mendongak. Tatapan dingin Tuan Ardan sempat membuatnya menelan ludah. "Setelah mengantar Mbok Jiah sampai depan, temui saya di ruang kerja." "Baik, Tuan," jawab Lastri sambil mengangguk sopan. Lastri membantu Mbok Jiah membawakan tas. Namun, ucapan Tuan Ardan membuat jantungnya berdebar-debar, sedikit takut sekaligus penasaran. Tapi ia buru-buru mengambil napas panjang dan meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja. Begitu tiba di depan, di luar teras sudah ada tukang ojek online yang sebelumnya sudah dipesan Lastri atas permintaan Mbok Jiah. "Kamu baik-baik di rumah ini, ya, Nduk. Nggak usah takut sama Tuan. Kalau ada yang nggak ngerti kamu tanya sama beliau, pasti dijawab atau diajarin kalau perlu," pesan Mbok Jiah sebelum berpamitan. "Mbok yakin kamu pasti betah di sini." Lastri mengangguk, tersenyum haru. "Iya, Mbok. Terima kasih sudah banyak mengajari Lastri beberapa hari ini. Mbok jaga kesehatan dan baik-baik di rumah. Semoga cucunya juga lekas sembuh." Mbok Jiah akhirnya berpamitan. Ia berjalan menuju motor tukang ojek bersama Lastri yang masih membawakan tasnya. Setelah ojek yang membonceng Mbok Jiah sudah keluar melewati pagar, Lastri berbalik dan langsung masuk ke dalam rumah. ~~~ Lastri berdiri di depan pintu ruang kerja dengan ragu. Setelah menarik napas singkat, ia mengetuk pelan. "Masuk." Suara Tuan Ardan terdengar datar. Lastri melangkah masuk dan menutup pintu kembali. Ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Ia berjalan mendekat. Tuan Ardan duduk di balik meja kerjanya, jas sudah dilepas, dan lengan panjang kemejanya tergulung rapi. Tatapannya terangkat perlahan, meneliti Lastri tanpa ekspresi yang mudah ditebak. "Duduk," katanya singkat.Jantung Lastri berdegup lebih cepat. Ia sama sekali tidak menyangka Tuan Ardan benar-benar akan masuk ke ruang rawat.Sementara Arman memandang pria itu dengan bingung. Ia belum pernah melihatnya sebelumnya.Ardan melangkah masuk dengan senyum ramah yang langsung membuat kesan pertamanya terlihat baik."Permisi."Arman sedikit menegakkan tubuhnya. "Maaf...?"Lastri buru-buru berdiri."Oh, Mas..." Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ini Tuan Ardan."Arman masih menatap bingung."Majikan tempat Lastri bekerja.""Oh..." Arman langsung mengangguk paham. "Salam, Pak Ardan." Ardan mengangguk hormat membalas sapaan suami Lastri.Lastri buru-buru melanjutkan penjelasannya. "Kebetulan Tuan Ardan ada proyek dan urusan kerja di sekitar sini. Jadi tadi Lastri diberi tumpangan ke rumah sakit."Ardan tersenyum tipis."Betul." Nada suaranya tenang dan meyakinkan. "Kebetulan sekali arah kami sejalan."Lastri diam-diam mengembuskan napas lega. Syukurlah Tuan Ardan langsung memahami maksudnya.P
"Apa, Bu? Mas Arman masuk rumah sakit?"Lastri sangat terkejut mendengar kabar itu. Bahkan tanpa sadar ia langsung menutup bajunya asal dan langsung turun dari atas meja dapur. Membuat Ardan yang sedang menikmati buah melon manis dan segar itu ikut terdorong ke belakang.Ardan menatap Lastri serius. Namun wanita itu masih begitu fokus dengan panggilan telepon. Sementara satu tangannya masih memegang baju bagian atasnya agar tidak terlalu terbuka."Sebenarnya apa yang terjadi, Bu? Kenapa Mas Arman bisa masuk rumah sakit?""Maaf kalau Ibu baru mengabarimu sekarang, Nduk." Nada bicara Bu Ningsih menyiratkan rasa bersalah. Lalu ia menjelaskan, "Sebenarnya sudah beberapa hari ini Arman sering tidak mau makan. Tadi malam badannya demam, dan panasnya cukup tinggi.""Ya ampun Mas Arman...." Lastri menutup mulutnya dengan perasaan sedih. "Lalu keadaan Mas Arman sekarang gimana, Bu?""Ibu langsung membawanya ke rumah sakit malam itu juga. Setelah diperiksa, dokter bilang kalau Arman terkena typ
Ardan meraih tengkuk leher Lastri tanpa terduga. Menariknya pelan tapi cukup untuk membuat Lastri tak sempat melawan. Dalam waktu singkat, bibir Ardan sudah mendarat lembut di permukaan bibir Lastri.Dalam keterkejutannya, Lastri tidak melawan. Ia hanya mendorong bahu Ardan untuk sesaat sebelum akhirnya memilih memejamkan mata.Tak butuh waktu lama, napas mereka mulai terasa berat. Baik Ardan maupun Lastri sudah terhanyut pada gairah yang kini tak perlu lagi mereka sembunyikan. Seolah sudah sama-sama tahu apa yang mereka butuhkan.Dapur itu kini tak lagi hening. Suara decapan-decapan halus mengisi udara di sekitar mereka. Bak simphoni mengalun merdu. Menghanyutkan jiwa mereka ke dalam gelombang gairah yang semakin menggelora.Lastri tak hanya diam. Insting tubuh bekerja lebih profesional daripada yang otak katakan. Jemari lentik miliknya bertumpu di kedua bahu Ardan. Kepalanya dimiringkan. Menjaga posisi tetap aman saat tenggelam dalam kenikmatan.Satu tangan Ardan masih menahan tengk
Matahari sudah merangkak turun saat Ardan baru saja memarkir mobilnya di garasi rumah. Ia membuka pintu mobil dan turun dengan wajah yang tampak sumringah. Seolah tak merasakan lelah setelah seharian bekerja.Dengan langkah yang sangat ringan, ia berjalan masuk ke dalam rumah. Ia melepas jas, lalu menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Tak lupa juga melonggarkan dasinya.Sejak dari ruang tamu hingga ke ruang keluarga, sorot matanya mencari keberadaan seseorang yang beberapa hari ini terus ia rindukan. Lastri. Namun tak ada tanda-tanda keberadaannya sama sekali. Bahkan saat sorot matanya menyusup ke dapur, ia juga tak melihat batang hidung Lastri di sana."Ke mana dia?" gumamnya bertanya-tanya.Ardan berhenti sejenak, meletakkan tas kerja dan jas di sofa ruang keluarga. Ia melihat jam di pergelangan tangannya sebelum akhirnya menebak keberadaan Lastri di halaman belakang.Tanpa membuang waktu lebih lama, Ardan berjalan ke sana. Dan benar saja, sore hari memang jadwalnya Lastr
Reihan refleks ikut menoleh. Wajahnya datar, tanpa ada ekspresi terkejut sama sekali."Oh, sudah pulang."Ardan hanya mengangguk tipis. Tatapannya sempat singgah pada wajah Lastri yang masih menyisakan senyum."Kalian tertawa. Apa yang lucu?"Lastri dan Reihan saling berpandangan sesaat."Lastri salah paham soal istilah kantor," jawab Reihan santai."Itu bukan salah paham, Mas," protes Lastri."Jelas salah paham.""Mas yang jelasinnya muter-muter."Reihan tertawa lagi. Merasa lucu dengan sikap Lastri.Dan Lastri juga ikut tersenyum. Pipinya sedikit memerah karena sadar bahwa obrolannya dengan Reihan membuat hubungan mereka lebih baik dari sebelumnya.Sementara Ardan berdiri diam memperhatikan keduanya. Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman."Kalian sudah terlihat lebih akrab sekarang.Lastri segera menunduk. Jemarinya saling bertaut di depan tubuh. Sementara Reihan justru tersenyum lebar."Tentu saja," jawab Reihan santai. "Papa dan Mama suka sama dia. Jadi aku pikir tidak buruk ju
Ardan menuruni anak tangga dengan langkah pelan sambil merapikan kerah kaos polo yang dikenakan. Wajahnya tampak sudah segar setelah mandi. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan. Bukan karena kepulangan Reihan, melainkan karena hubungannya dengan Lastri berjalan sesuai harapan. Namun kali ini, kehadiran Reihan di rumah harus membuatnya menahan diri untuk leluasa berduaan dengan Lastri.Begitu tiba di lantai bawah, aroma masakan langsung menyambut begitu ia mendekati ruang makan. Namun meja makan masih belum sepenuhnya terisi. Baru ada nasi hangat, semangkuk sayur, dan beberapa piring kosong yang tersusun rapi. Sementara dari arah dapur terdengar suara minyak mendesis pelan.Ardan melirik sekilas ke arah tangga dan lantai atas. Sepi.“Reihan belum turun?” tanyanya sambil berjalan mendekati dapur.Lastri yang sedang membalik lauk di atas penggorengan spontan menoleh. Ia memakai celemek sederhana dengan beberapa helai rambut yang terlepas di dekat pipi karena kesibukan memasak.“Belum, T
Lastri hampir menabrak tubuh Tuan Ardan jika kakinya tidak melangkah mundur dengan cepat. Namun, posisinya yang berada di tepi teras membuatnya hilang keseimbangan dan hampir jatuh ke belakang jika tidak ada tangan kekar yang menopang tubuhnya.Tuan Ardan dengan gerakan gesit menarik tubuh Lastri m
Jam delapan lebih lima menit, Lastri kembali sibuk di dapur. Dengan arahan Mbok Jiah, ia membuat air lemon hangat seperti yang biasa diminum Tuan Ardan. Dan sebelum meletakkan di atas nampan, ia memastikan sekali lagi kekentalannya pas, tidak kurang atau kelebihan.Lastri menarik napas panjang saat
Lastri mengangguk, lalu berjalan di belakang Mbok Jiah menaiki tangga. Langkah mereka melambat saat tiba di depan pintu kamar paling ujung. Mbok Jiah mengetuk pelan sebelum masuk.“Nyonya… ini sarapannya Mbok bawa,” ucapnya sambil membuka pintu.Di dalam kamar, Nyonya Ratih terbaring di ranjang bes
"Ya Allah, gede banget rumahnya...," gumam Lastri pelan, menatap kagum sekaligus gugup pada rumah mewah yang akan menjadi tempatnya bekerja. Gerbang terbuka otomatis setelah satpam memberi izin. Tak lupa Lastri mengucapkan terima kasih setelah satpam itu mengantarnya sampai depan pintu utama. Dari







