ログイン
"Ya Allah, gede banget rumahnya...," gumam Lastri pelan, menatap kagum sekaligus gugup pada rumah mewah yang akan menjadi tempatnya bekerja.
Gerbang terbuka otomatis setelah satpam memberi izin. Tak lupa Lastri mengucapkan terima kasih setelah satpam itu mengantarnya sampai depan pintu utama. Dari dalam, seorang wanita paruh baya berjalan cepat menyambutnya. Wajahnya ramah, keriput halus di sekitar matanya memberi kesan keibuan. "Nduk Lastri," sapanya hangat. "Lama ya tidak bertemu. Ayo masuk, Nduk. Dari tadi saya sudah nunggu." Lastri cepat mengangguk sopan. "Iya, Mbok Jiah. Mbok apa kabar?" "Alhamdulillah, beginilah keadaan Mbok, sehat-sehat," jawabnya sambil membimbing Lastri mengikutinya ke dalam. Langkah Lastri mulai melambat begitu memasuki ruang tengah. Di sana—di sofa empuk dan mewah— duduk seorang pria yang sedang membaca koran dengan penuh wibawa. Lastri menebak bahwa itu adalah calon majikannya. Begitu Mbok Jiah berhenti, ia pun ikut berhenti di belakangnya. "Permisi, Tuan Ardan. Saya membawa seseorang yang akan menggantikan saya bekerja di sini, namanya Lastri," ujar Mbok Jiah sambil menunduk sopan. Pria yang dipanggil Tuan Ardan itu seketika menurunkan korannya dan melipatnya di atas pangkuan. Tak ada kata, hanya tatapan tajam, dingin, dan penuh penilaian yang menelusuri tubuh Lastri dari ujung kaki hingga kepala. Lastri sempat bersitatap dengan mata tajam Tuan Ardan sebelum menundukkan pandangan, jantungnya berdebar kencang, tubuhnya menegang. Ia ingin mengenalkan diri, tapi lidahnya kelu, mulutnya seolah terkunci. Ditambah tatapan Tuan Ardan seolah menilai pantas tidaknya ia bekerja di rumah ini. "Tunjukkan kamarnya dan jelaskan apa saja yang harus dia kerjaan di rumah ini. Mulai besok dia bisa langsung bekerja," kata Tuan Ardan dengan nada datar, setelahnya langsung membuka lagi koran dan melanjutkan membaca. Lastri sontak mendongak, menatap dengan rasa tak percaya bahwa ia akan diterima tanpa sedikit pun wawancara. Ia ingin memastikan sekali lagi, tapi wajah Tuan Ardan sudah tertutup oleh halaman koran yang lebar. "Te—terima kasih, Tuan." Hanya itu yang bisa Lastri ucapkan sambil menunduk sopan, lalu mengikuti Mbok Jiah sambil mengamati setiap bagian rumah yang dilewatinya. Meninggalkan ruang tengah, Lastri berjalan masuk menuju arah dapur. Setiap langkahnya menimbulkan gema halus di lantai marmer, membuatnya makin sadar bahwa rumah ini jauh dari dunia yang biasa ia tinggali. Begitu melewati lengkungan pintu dapur, matanya langsung disambut pemandangan yang membuatnya terpana. Dapur itu begitu besar dan rapi. Meja marmer putih terbentang di tengah ruangan, di atasnya berjajar rapi peralatan masak yang mengilap. Bau lembut rempah dan sabun cuci piring bercampur, menandakan tempat itu baru saja dibersihkan setelah digunakan. Di sisi kanan, kompor besar berjejer dengan oven modern. Sedangkan di sisi kiri, ada lemari pendingin yang hampir sebesar lemari pakaian di rumahnya. "Lewat sini, Nduk." Suara Mbok Jiah memecah keterpakuannya. Lastri buru-buru menyusul, menapaki lorong sempit di belakang dapur. Lorong itu agak redup, hanya diterangi cahaya lampu kecil di langit-langit. Tak lama kemudian, langkahnya berhenti di ujung lorong tepat di samping Mbok Jiah. Dan di hadapannya, dua pintu kayu berdiri berdampingan. "Yang kiri ini kamarmu," kata Mbok Jiah sambil menunjuk salah satunya. "Dekat tempat mencuci baju dan halaman belakang." Lastri menoleh ke arah yang dimaksud. Di luar jendela kecil tampak area mencuci dengan mesin cuci, ember dan juga jemuran. Tak jauh dari sana ada pintu yang mengarah ke halaman belakang—sedikit terbuka, menampakkan cahaya sore yang lembut dan suara burung dari kejauhan. ~~~ Lastri melangkah pelan masuk ke dalam kamar. Ukurannya tidak besar, tapi cukup nyaman. Sebuah ranjang kayu dengan sprei bersih menempel di dinding, di sebelahnya ada lemari kecil dari rotan dan meja sederhana dengan cermin oval di atasnya. Udara kamar terasa lembab, tapi segar--aroma sabun dan kapur barus masih tercium samar. "Bajumu langsung ditata ke dalam lemari saja, Nduk, biar Mbok bantu." Lastri mengangguk cepat dan menuruti arahan. Ia meletakkan tas lusuhnya di atas ranjang kemudian membukanya, mengeluarkan lipatan pakaian satu per satu. Bajunya tak banyak, hanya beberapa daster, pakaian ganti dan juga dalaman. Sementara Mbok Jiah memasukkannya ke dalam lemari dengan susunan yang sangat rapi. "Setelah selesai, kamu istirahat dulu saja. Nanti Mbok akan tunjukkan tugas-tugasmu, supaya besok kamu tidak bingung harus memulai dari mana," ujar Mbok Jiah dengan nada lembut. Lastri hanya mengangguk, meski pikirannya masih melayang pada pertemuan singkatnya tadi di ruang tengah. Bayangan Tuan Ardan dengan tatapan tajam dan ekspresi datarnya muncul kembali, membuat jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas. "Mbok," panggilnya pelan, ragu-ragu. "Tuan Ardan itu... orangnya memang selalu begitu, ya?" Mbok Jiah berhenti sejenak, lalu menoleh dengan dahi berkerut. "Begitu itu gimana, Nduk?" "Dingin," jawab Lastri hati-hati. "Tadi waktu saya menunduk memberi salam, rasanya seperti... beliau tidak suka kalau saya ada di sana." Mbok Jiah terkekeh kecil, suaranya serak tapi hangat. "Halah, itu cuma perasaanmu saja, Nduk. Tuan memang orangnya jarang senyum, tapi bukan berarti galak. Beliau cuma... banyak pikiran." "Banyak pikiran?" Lastri mengulang, sedikit penasaran. "Ya," jawab Mbok Jiah sambil kembali melipat pakaian. "Sejak istrinya sakit, beliau jarang bicara sama siapa-siapa. Rumah in pun jadi sepi. Kalau beliau lewat, semua orang memilih diam. Tapi bukan karena takut, cuma... menghormati." Lastri menunduk, mencerna kata-kata itu. Tapi rasa dingin yang ia rasakan di ruang tengah tadi masih membekas. Tatapan mata Tuan Ardan yang tajam dan dalam itu seolah menembus dirinya, membuatnya ingin bersembunyi. "Mungkin nanti kamu juga akan terbiasa," lanjut Mbok Jiah, suaranya menenangkan. "Asal kerja dengan benar, beliau tak akan marah. Lagi pula, kalau sudah lama di sini, kamu bakal tahu... Tuan Ardan itu sebenarnya orang yang perhatian, cuma caranya beda." Lastri tersenyum tipis, berusaha percaya. "Mudah-mudahan begitu, Mbok." Mbok Jiah menatapnya dengan pandangan penuh arti. "Percayalah, Nduk. Kadang orang yang terlihat dingin itu justru punya hati yang paling hangat, cuma disembunyikan rapat-rapat." Lastri terdiam. Entah kenapa, kalimat itu menempel di kepalanya, seolah menyiratkan sesuatu yang lebih dari nasihat biasa. ~~~ Pagi akhirnya tiba. Namun, matahari masih bersembunyi, dan gelap masih menyelimuti. Meski begitu, Lastri sudah bangun sejak jam setengah empat pagi—persis seperti kebiasannya saat di rumah. Merapikan bantal dan melipat selimut tanpa menunda. Setelahnya ia mengikat rambut dan mengambil handuk. Langsung mandi di kamar mandi yang tak jauh dari kamarnya. Beberapa menit kemudian, Lastri sudah terlihat segar. Rambutnya yang panjang dikuncir kuda. Pakaiannya daster longgar yang cukup sopan. Wajahnya polos tanpa make up, namun tetap memancarkan aura kecantikan. "Bismillah, hari pertama kerja, semoga semuanya berjalan lancar," doa Lastri sebelum melangkah keluar kamar. Setibanya di dapur, Lastri melihat Mbok Jiah mulai mengeluarkan bahan-bahan masakan dari lemari es. Ia mendekat, langsung membantu tanpa disuruh. "Masak apa hari ini, Mbok?" tanyanya lembut, membuka satu per satu bahan yang sudah dikeluarkan oleh Mbok Jiah. Mbok Jiah menoleh dengan senyum ramah, tangannya lincah membagi bahan-bahan yang ada. “Ini Mbok mau masak sop bening ayam kampung sama tahu kukus, Nduk. Buat Nyonya Ratih,” jawabnya pelan, seolah takut suaranya terdengar sampai kamar atas. "Kamu tolong potong-potong sayurnya, ya," tambahnya. Lastri mengangguk paham. Mengambil sayuran yang dimaksud dan langsung memotongnya kecil-kecil. “Nyonya Ratih masih belum boleh makanan berat, ya?” “Iya,” jawab Mbok Jiah lirih, lalu menghela napas singkat. “Sejak beliau kena stroke ringan enam bulan lalu, separuh badannya belum bisa digerakkan. Dokter bilang makanannya harus lembut, rendah garam, nggak boleh santan, nggak boleh gorengan, apalagi daging berlemak.” Ia menunjuk panci kecil di atas kompor. “Paling aman sop, bubur, ikan kukus, atau sayur rebus. Sambal? Pantang.” Lalu Mbok Jiah tertawa kecil, nada suaranya berubah lebih ringan. “Kalau buat Tuan Ardan beda lagi. Beliau kesukaannya rendang, semur daging, sama ikan goreng kremes. Pagi-pagi biasanya minta telur setengah matang sama kopi pahit.” Ia menggeleng, setengah mengeluh, setengah sayang. “Tapi Mbok tetap kurangin lemaknya, biar beliau juga nggak kebanyakan kolesterol.” Lastri terdiam sejenak, pandangannya mengarah ke tangga yang menuju kamar Nyonya Ratih. Rasa penasaran mulai mendesak Lastri untuk segera bertemu langsung dengan seseorang yang akan ia rawat setiap hari. “Semoga Bu Ratih cepat membaik, Mbok,” ucap Lastri lirih. “Aamiin, Nduk,” jawab Mbok Jiah pelan, sambil kembali menutup panci, seolah menutup doa di dalamnya. Suasana memasak pagi itu terasa hangat. Lastri banyak mengajukan pertanyaan terkait kedua majikannya, serta kegiatan-kegiatan rutin yang harus ia kerjakan nantinya saat Mbok Jiah tidak lagi bekerja di sana. Termasuk juga bagaimana Mbok Jiah menyelesaikan pekerjaan di rumah sebesar itu tanpa ada ART lain di sana. "Walaupun rumah ini besar, tapi isinya hanya dua orang saja, Nduk. Ditambah Mbok jadi tiga. Tuan Ardan kadang menghabiskan waktu bekerja di kamar dengan istrinya, atau juga di ruangan kerjanya. Beliau sudah jarang ke kantor semenjak istrinya sakit," terang Mbok Jiah. Lastri menyimak dengan serius setiap penjelasan dari Mbok Jiah. Selain untuk menambah pengetahuan tentang majikan dan tempatnya bekerja, ia berharap dengan informasi itu bisa membuatnya meminimalisir kesalahan nantinya. "Pakaian-pakaian kotor tidak terlalu banyak, jadi mencuci pun tidak terlalu berat," terang Mbok Jiah lagi. "Tuan Ardan juga tidak melarang istirahat asalkan semua pekerjaan sudah dikerjakan dengan benar." "Bagaimana dengan taman-taman di luar rumah, Mbok?" "Ya tetap Mbok yang mengerjakan, tapi cukup disapu saja. Biasanya setiap dua kali seminggu ada Mang Jojo yang bertugas membenahi taman. Kamu cukup sediakan makan, camilan dan minum saja. Urusan upah sudah diatur sendiri sama Tuan." Lastri mengangguk-angguk, memahami dan mengingat semua hal yang ia dapat hari ini. Sampai tak terasa masakan mereka sudah matang. Mbok Jiah mulai mengambil mangkok, gelas dan nampan. Ia menyiapkan sarapan untuk dibawa ke kamar sang majikan. "Ya sudah, Nduk. Ayo ikut Mbok ke kamar Nyonya Ratih. Sekalian Mbok perkenalkan kamu pada beliau," ajak Mbok Jiah.Jantung Lastri berdegup lebih cepat. Ia sama sekali tidak menyangka Tuan Ardan benar-benar akan masuk ke ruang rawat.Sementara Arman memandang pria itu dengan bingung. Ia belum pernah melihatnya sebelumnya.Ardan melangkah masuk dengan senyum ramah yang langsung membuat kesan pertamanya terlihat baik."Permisi."Arman sedikit menegakkan tubuhnya. "Maaf...?"Lastri buru-buru berdiri."Oh, Mas..." Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ini Tuan Ardan."Arman masih menatap bingung."Majikan tempat Lastri bekerja.""Oh..." Arman langsung mengangguk paham. "Salam, Pak Ardan." Ardan mengangguk hormat membalas sapaan suami Lastri.Lastri buru-buru melanjutkan penjelasannya. "Kebetulan Tuan Ardan ada proyek dan urusan kerja di sekitar sini. Jadi tadi Lastri diberi tumpangan ke rumah sakit."Ardan tersenyum tipis."Betul." Nada suaranya tenang dan meyakinkan. "Kebetulan sekali arah kami sejalan."Lastri diam-diam mengembuskan napas lega. Syukurlah Tuan Ardan langsung memahami maksudnya.P
"Apa, Bu? Mas Arman masuk rumah sakit?"Lastri sangat terkejut mendengar kabar itu. Bahkan tanpa sadar ia langsung menutup bajunya asal dan langsung turun dari atas meja dapur. Membuat Ardan yang sedang menikmati buah melon manis dan segar itu ikut terdorong ke belakang.Ardan menatap Lastri serius. Namun wanita itu masih begitu fokus dengan panggilan telepon. Sementara satu tangannya masih memegang baju bagian atasnya agar tidak terlalu terbuka."Sebenarnya apa yang terjadi, Bu? Kenapa Mas Arman bisa masuk rumah sakit?""Maaf kalau Ibu baru mengabarimu sekarang, Nduk." Nada bicara Bu Ningsih menyiratkan rasa bersalah. Lalu ia menjelaskan, "Sebenarnya sudah beberapa hari ini Arman sering tidak mau makan. Tadi malam badannya demam, dan panasnya cukup tinggi.""Ya ampun Mas Arman...." Lastri menutup mulutnya dengan perasaan sedih. "Lalu keadaan Mas Arman sekarang gimana, Bu?""Ibu langsung membawanya ke rumah sakit malam itu juga. Setelah diperiksa, dokter bilang kalau Arman terkena typ
Ardan meraih tengkuk leher Lastri tanpa terduga. Menariknya pelan tapi cukup untuk membuat Lastri tak sempat melawan. Dalam waktu singkat, bibir Ardan sudah mendarat lembut di permukaan bibir Lastri.Dalam keterkejutannya, Lastri tidak melawan. Ia hanya mendorong bahu Ardan untuk sesaat sebelum akhirnya memilih memejamkan mata.Tak butuh waktu lama, napas mereka mulai terasa berat. Baik Ardan maupun Lastri sudah terhanyut pada gairah yang kini tak perlu lagi mereka sembunyikan. Seolah sudah sama-sama tahu apa yang mereka butuhkan.Dapur itu kini tak lagi hening. Suara decapan-decapan halus mengisi udara di sekitar mereka. Bak simphoni mengalun merdu. Menghanyutkan jiwa mereka ke dalam gelombang gairah yang semakin menggelora.Lastri tak hanya diam. Insting tubuh bekerja lebih profesional daripada yang otak katakan. Jemari lentik miliknya bertumpu di kedua bahu Ardan. Kepalanya dimiringkan. Menjaga posisi tetap aman saat tenggelam dalam kenikmatan.Satu tangan Ardan masih menahan tengk
Matahari sudah merangkak turun saat Ardan baru saja memarkir mobilnya di garasi rumah. Ia membuka pintu mobil dan turun dengan wajah yang tampak sumringah. Seolah tak merasakan lelah setelah seharian bekerja.Dengan langkah yang sangat ringan, ia berjalan masuk ke dalam rumah. Ia melepas jas, lalu menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku. Tak lupa juga melonggarkan dasinya.Sejak dari ruang tamu hingga ke ruang keluarga, sorot matanya mencari keberadaan seseorang yang beberapa hari ini terus ia rindukan. Lastri. Namun tak ada tanda-tanda keberadaannya sama sekali. Bahkan saat sorot matanya menyusup ke dapur, ia juga tak melihat batang hidung Lastri di sana."Ke mana dia?" gumamnya bertanya-tanya.Ardan berhenti sejenak, meletakkan tas kerja dan jas di sofa ruang keluarga. Ia melihat jam di pergelangan tangannya sebelum akhirnya menebak keberadaan Lastri di halaman belakang.Tanpa membuang waktu lebih lama, Ardan berjalan ke sana. Dan benar saja, sore hari memang jadwalnya Lastr
Reihan refleks ikut menoleh. Wajahnya datar, tanpa ada ekspresi terkejut sama sekali."Oh, sudah pulang."Ardan hanya mengangguk tipis. Tatapannya sempat singgah pada wajah Lastri yang masih menyisakan senyum."Kalian tertawa. Apa yang lucu?"Lastri dan Reihan saling berpandangan sesaat."Lastri salah paham soal istilah kantor," jawab Reihan santai."Itu bukan salah paham, Mas," protes Lastri."Jelas salah paham.""Mas yang jelasinnya muter-muter."Reihan tertawa lagi. Merasa lucu dengan sikap Lastri.Dan Lastri juga ikut tersenyum. Pipinya sedikit memerah karena sadar bahwa obrolannya dengan Reihan membuat hubungan mereka lebih baik dari sebelumnya.Sementara Ardan berdiri diam memperhatikan keduanya. Entah kenapa dadanya terasa tidak nyaman."Kalian sudah terlihat lebih akrab sekarang.Lastri segera menunduk. Jemarinya saling bertaut di depan tubuh. Sementara Reihan justru tersenyum lebar."Tentu saja," jawab Reihan santai. "Papa dan Mama suka sama dia. Jadi aku pikir tidak buruk ju
Ardan menuruni anak tangga dengan langkah pelan sambil merapikan kerah kaos polo yang dikenakan. Wajahnya tampak sudah segar setelah mandi. Sorot matanya memancarkan kebahagiaan. Bukan karena kepulangan Reihan, melainkan karena hubungannya dengan Lastri berjalan sesuai harapan. Namun kali ini, kehadiran Reihan di rumah harus membuatnya menahan diri untuk leluasa berduaan dengan Lastri.Begitu tiba di lantai bawah, aroma masakan langsung menyambut begitu ia mendekati ruang makan. Namun meja makan masih belum sepenuhnya terisi. Baru ada nasi hangat, semangkuk sayur, dan beberapa piring kosong yang tersusun rapi. Sementara dari arah dapur terdengar suara minyak mendesis pelan.Ardan melirik sekilas ke arah tangga dan lantai atas. Sepi.“Reihan belum turun?” tanyanya sambil berjalan mendekati dapur.Lastri yang sedang membalik lauk di atas penggorengan spontan menoleh. Ia memakai celemek sederhana dengan beberapa helai rambut yang terlepas di dekat pipi karena kesibukan memasak.“Belum, T
Lastri membuang napas pelan."Itu karena... saya menghormati Tuan Ardan," jawabnya, berusaha tenang dan meyakinkan.Reihan mengusap dagunya dengan tatapan sedikit menyelidik. "Emmm... menghormati, ya?"“Udah cukup, Reihan,” pungkas Ardan. Nada suaranya kali ini lebih berat.Ruangan langsung hening
Masih dengan posisi Ardan menggendong tubuh Lastri sambil berpagutan, udara kamar tamu yang semula terasa pengap, kini berubah hangat. Ardan membawa tubuh Lastri ke ranjang. Dengan perlahan dan hati-hati, ia membaringkan Lastri tanpa melepas ciuman. Kemudian menindihnya lembut, seolah tanpa tekanan
Pada jemari yang menggenggam erat hendle pintu, ada hati yang sedang berperang dengan logika. Tentang niatnya. Tentang tujuannya. Dan tentang apa yang sebenarnya dilakukannya.Saat pikirannya belum sepenuhnya mencerna, pintu itu terbuka tiba-tiba.Ardan tersentak. Tangannya refleks terl
Satu kata itu adalah perintah yang tidak bisa dibantah. Lastri menurut. Ia duduk di kursi seberang meja kerja Tuan Ardan. Punggungnya tegak, namun tangannya saling bertaut di atas pangkuan."Bisa perkenalkan data diri kamu?" tanya Tuan Ardan datar, tapi tatapannya menunjukkan suatu keseriusa







