Isyana tersenyum pelan.Bekerja dua tahun, selain untuk melunasi pinjaman pendidikan, juga untuk menambah uang rumah tangga, berharap ibunya bisa hidup sedikit lebih nyaman.Siapa sangka, yang dia rawat ternyata sekeluarga tak tahu berterima kasih.Kak Diana berdiri untuk menuang air, melihat Isyana datang, lalu menggoda, "Isyana, sudah merasa lebih baik? Aku kira kamu ambil cuti hari ini karena asyik berduaan dengan calon pasanganmu.""Kak Diana, Isyana yang begitu pendiam, patuh, dan pekerja keras, mana mungkin ambil cuti demi seorang pria hingga kehilangan bonus kehadiran penuh?" Temannya ini seenaknya saja menghinanya!"Benar juga." Kak Diana mengangguk.Nana selesai bicara, lalu mengubah arah pembicaraan. "Jadi, bagaimana perkembanganmu sama pria kencan butamu itu?""Pria itu anak mami. Sebelum nikah minta beli rumah, renovasi dan bayar cicilan harus dibagi dua. Paling enak memang kalau punya anak laki-laki." Isyana berkata sambil tersenyum tipis."Mimpi! Kelihatan sopan begitu,
Read more