"Isyana, kamu sudah 26 tahun, jangan-jangan masih perawan?"
Di acara tahunan, candaan para sahabat perempuannya itu terus berulang-ulang terngiang di kepala Isyana.
Sejak lahir dia tidak pernah punya pasangan, jangankan hubungan pria dan perempuan, ciuman pertama saja masih belum pernah.
Karena tak berani berkata jujur, dia menghukum dirinya sendiri dengan menenggak beberapa gelas alkohol, lalu mencari alasan mabuk untuk lebih dulu kembali ke kamar dan beristirahat.
Sudah berkali-kali dia menempelkan kartu kamar, tetapi pintunya tetap belum terbuka.
Wajah Isyana yang sedikit mabuk terlihat makin kesal, sampai-sampai kepalanya menabrak pintu. Tak disangka, pintu itu malah terbuka.
Wajah Darian yang terpahat sempurna itu memancarkan aura berbahaya, menekan di hadapannya.
Eh! Pak Darian kenapa bisa ada di kamarnya?
Isyana yang masih pusing menatap pria tampan bak dewa di hadapannya.
Dia pasti sedang bermimpi.
"Enak dilihat?" Darian menyipitkan matanya yang gelap, menanyakan dengan suara berat kepada Isyana.
Dalam suaranya, karena menahan diri secara ekstrem, terdengar sedikit serak.
"Mm .…" Isyana berkedip sebentar, lalu langsung menjawab.
Suara itu terdengar manja, lembut, imut, dan sedikit menggoda.
Isyana menatap pria yang dulu tampak tak terjangkau itu sekarang berada di depan matanya, langsung teringat ucapan si gadis nakal Nana Santika di kantor saat melihat fotonya dan berkhayal.
Pria setinggi dan setampan Pak Darian, dari penampilannya saja terlihat sangat ahli di ranjang.
Isyana pun menjilat bibirnya, merasakan panas yang bergelora di dalam tubuhnya makin kuat.
Di kehidupan nyata dia tak bisa menggapai, tetapi masa di dalam mimpi pun tak boleh sesuka hati?
Dia ingin tahu, seberapa lihai sebenarnya pria seperti Darian saat di ranjang.
Isyana langsung menerobos masuk, dengan kaki panjangnya yang mengenakan sepatu hak tinggi menendang pintu tertutup.
"Pak Darian, aku dengar perempuan yang bisa tidur denganmu pasti beruntung banget. Aku ingin mencobanya."
Mereka saling menatap. Suhu udara seketika membara seperti api yang menyebar luas.
Darian hari ini sudah minum banyak alkohol. Nafsu liar di tubuhnya tak terkendali, sehingga saat perempuan itu mendekatinya dengan sensual dan menggoda, dia tak menolak.
"Mau? Hm?" Darian mendekatkan wajah tampannya, napas hangatnya menyentuh pipi Isyana, sepasang mata tajam menatapnya dari dekat.
"Hm." Isyana menjawab dengan manis dan patuh.
Matanya yang sedikit mabuk, berkabut seperti embun, cantik bak siluman, begitu saja menatap Darian.
Wajah ini terlihat lebih tampan daripada ketika dia kadang-kadang terlihat di kantor.
Isyana terkekeh pelan, matanya menelusuri dari alis dan mata tampan pria itu, turun ke hidungnya yang mancung, lalu berhenti di bibir tipisnya yang terengah ringan.
Secara naluriah, dia menjilat bibirnya. Pandangannya berubah dari menggoda menjadi polos dan tak bersalah, lalu kembali menatap mata Darian.
Dengan tatapan yang begitu terang-terangan itu, bagaimana mungkin Darian tidak mengerti?
Darian segera mengambil alih posisi, merangkul pinggang Isyana, menekannya ke dinding.
Tangan kecilnya digenggam dan ditempatkan di celana panjang Darian, suara serak yang dalam terdengar penuh tekanan. "Bantu aku melepasnya."
Isyana menatap pria yang begitu dekat di hadapannya. Dia belum sempat bicara, sudah dicium oleh si pria.
Isyana pertama kalinya berciuman, dan dengan mudah pria itu membuka bibirnya. Serangannya ganas tetapi lembut, menembus lebih dalam.
Jantung Isyana berdetak kencang, makin cepat.
Ciuman yang lembut tetapi dominan, rasanya seperti berciuman dengan orang sungguhan.
Seluruh saraf di tubuhnya terasa kesemutan seperti tersambar arus listrik. Tangan kecilnya pun menurut, membuka kancing baju pria itu, lalu mencubit risleting dan menariknya ke bawah.
Mungkin karena ini terjadi dalam mimpi, Isyana merasa tidak sakit, malah terasa nyaman.
Bahkan di bawah bujuk rayu Darian, dia sampai belajar untuk secara aktif menyenangkan pria itu.
Tidak disangka, Darian yang biasanya dingin dan serius, ternyata di ranjang sangat sopan dan seperti pria sejati. Hanya saja karena terlalu lama, akhirnya agak tidak tertahan di bagian akhirnya.
...
Keesokan harinya.
Isyana yang masih setengah sadar, belum sepenuhnya bangun.
Terdengar seseorang mengetuk pintu dan masuk.
Isyana pun mengerutkan alisnya. Apakah efek mimpi basahnya sekuat ini?
Kenapa sepertinya dia juga mendengar suara Darian?
Isyana merasa ada yang tidak beres, membuka matanya yang masih mengantuk dan duduk.
Sekilas, matanya tertuju pada Darian yang berjalan mendekat sambil mengenakan handuk.
Bahunya lebar, pinggangnya ramping, terlihat perutnya yang membuat orang ingin menyentuh, dan garis otot perut yang tersembunyi di bawah handuk.
Isyana terkejut.
Memori yang tidak pantas untuk anak-anak menyeruak ke dalam kepalanya seperti ombak, setiap adegannya adalah hal-hal bertingkat dewasa yang membuat darahnya berdesir. Wajah kecil Isyana berubah-ubah, kadang memerah, kadang memucat.
"Pak Darian, kenapa Anda di sini?! Tadi malam, kita ... kita ...."
Isyana mengucapkan dua kali kita, tetapi kata-kata berikutnya tersangkut di tenggorokan. Entah bagaimana pun tidak bisa keluar lanjutannya.
Darian sedikit menundukkan mata hitamnya, menatap wajah Isyana yang memerah karena panik. "Mau tanya apa?"
"Maksudku … kita tadi malam … kita .…" Dia gugup sampai lidahnya terasa kaku, bicara terbata-bata.
"Tidur bersama."
Dua kata sederhana itu meledak di kepala Isyana seperti petir yang mengguncang.
Isyana masih menggenggam sedikit harapan, bertanya lagi, "Kalau begitu … apakah sudah .…"
"Sudah lakukan."
Isyana seketika menarik napas dingin, menatap dengan mata terbelalak tak percaya.
Darian menatap wajahnya yang terkejut sekaligus kesal. "Menyesal?"
Itu agak sulit untuk dikatakan .…
Pengalaman pertama dengan seorang pria tampan, tinggi, dan berbadan sempurna, memang rasanya luar biasa.
Akan tetapi, menghadapi atasan langsung sendiri, ini benar-benar memalukan.
"Pak Darian, kemarin aku minum terlalu banyak, jadi hampir tidak ingat apa-apa. Lagi pula, kita sudah dewasa. Lupakan saja hal ini dan kita tetap seperti biasa."
Darian menatapnya, dengan santai menekuk sudut bibirnya. "Kamu masih di tempat tidurku, tapi sudah ingin melupakan semuanya begitu saja?"
Isyana tanpa sengaja melihat bekas ciuman di tulang selangka bosnya, memeluk selimutnya lebih erat dan berkata, "Kalau begitu, kamu palingkan wajah. Aku mau pakai baju."
Darian tidak menghindar, malah naik ke tempat tidur.
Isyana terkejut sejenak, dan dalam sekejap, sebuah wajah yang sangat tampan berada sangat dekat di depannya.
Isyana memeluk selimut ingin menyingkir, tetapi tangannya tiba-tiba digenggam, diangkat, dan ditekan di atas kepalanya.
Di tengah-tengah mereka yang saling terjerat, selimut di tubuh Isyana tergelincir hingga hanya menutupi pinggangnya.
Kulit mereka bersentuhan, dan Isyana merasakan sensasi geli yang perlahan menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya gemetar.
"Pak Darian, kamu …!"
Jantung Isyana berdetak kencang. Makin cepat, membuat pipinya terasa panas seperti memancarkan uap.
Dia begitu berat.
Selain itu, posisi ini sangat memalukan. Darian sedang menahan diri. Otot-ototnya tegang, terlihat seksi tetapi juga penuh pengendalian diri di mata Isyana.
"Bukankah kamu tidak ingat apa-apa? Biar kubantu mengingatkan, ya?" Darian menatap tajam ke Isyana yang berada di bawahnya.
Isyana menatap dengan wajah memerah, tidak tahu harus melihat ke mana. Tanpa sengaja matanya tertuju pada otot-otot yang tegang itu, dan seketika terbayang di kepalanya betapa memenuhi syaratnya kondisi di bawah sana.
Hasrat itu seperti pintu bendungan. Begitu bocor, tak terhindarkan untuk kehilangan kendali, bahkan Isyana yang baru pertama kali merasakan hal ini pun tidak terkecuali.
Setelah berkata demikian, tubuh yang penuh hormon itu kembali menekan Isyana.
Darian menunduk dan menggigit tulang selangka Isyana yang putih.
Isyana mengerang pelan.
"Pak Darian!" Isyana awalnya ingin menghentikannya.
Sebelum kata-kata itu keluar, sepasang mata yang basah itu tiba-tiba membesar, dan suara yang tersisa berubah menjadi erangan teredam.
Entah karena sudah sadar atau tidak, Isyana merasa pria ini agak menakutkan, dan tak lama kemudian dia pun tidak sanggup menahan diri.
Hari ini adalah hari terakhir acara tahunan. Setelah makan siang, mereka akan segera berangkat kembali ke kantor. Isyana takut kalau ditunda akan ketahuan oleh rekan kerja, sehingga dia merasa agak cemas.
Sayangnya, Darian terus menjeratnya dan tidak mau melepaskan.
"Kamu cepatlah .…" Isyana mendesaknya.
"Baik." Darian makin cepat dan intens, membuat Isyana merasa seolah seluruh tubuhnya akan runtuh.
"Bukan secepat ini!"
Isyana hampir gila.
Namun segera, dia mengatupkan giginya, melarang dirinya mengeluarkan suara memalukan yang sulit dikendalikan.
Saat mereka berdua sedang tarik-ulur penuh kehangatan di atas tempat tidur, pintu diketuk. Dari luar terdengar tawa sekelompok eksekutif dan dewan direksi.
"Pak Darian, jamuan makan siang sudah disiapkan. Setelah selesai makan kita langsung berangkat kembali ke kantor."
Isyana tampak seperti menemukan seutas tali penolong untuk melarikan diri. "Pak Darian, cepat bangun. Jangan sampai terlambat. Tidak baik kalau sampai ketahuan orang lain."
Isyana agak panik. Dia sama sekali tidak seperti semalam saat mabuk yang masih bisa bersikap santai.
Darian yang diganggu, wajahnya terlihat agak tidak senang.
Dia pun berbalik dari tempat tidur, meraih telepon di meja samping, dan menelepon.
Di luar pintu juga terdengar suara deringan telepon.
Isyana memanfaatkan kesempatan itu dengan memeluk selimut, sambil menatap pakaiannya yang robek. Dia melihat tas kertas putih berisi pakaian perempuan di tepi tempat tidur, lalu mengangkat tas itu dan berjalan pelan-pelan menuju kamar mandi.
"Kalian turun dulu, aku akan menyusul." Darian menutup telepon, dan suara di luar pun berkurang banyak.
Isyana segera mengenakan pakaiannya secepat mungkin.
Begitu dia keluar, bunyi telepon di kamar kembali terdengar.
Darian sedang memasang ikat pinggangnya. Mendengar telepon berdering, dia maju dan langsung mengambil ponsel untuk menjawab.
"Ada apa lagi?"
Isyana berdiri di depan pintu kamar mandi, melihat ponsel yang dipegang Darian.
Itu miliknya!
Isyana panik dan melangkah cepat ke depan, tetapi karena langkahnya terlalu besar ditambah rasa tidak nyaman di antara kedua kakinya, kakinya langsung lemas dan dia jatuh tersungkur.
Darian menatap sosok yang tersungkur ke arahnya. Sambil menjawab telepon, tangan lainnya segera meraih untuk menahan tubuh Isyana yang jatuh ke pelukannya.
"Halo?"
Isyana tidak sempat memikirkan yang lain. Dia langsung mengambil ponsel dan menutup telepon.
Saat melihat di daftar kontak ada nama Nana si perempuan nakal, nama itu membuat kepala Isyana berdesir.
Di bawah, di depan pintu kamar Isyana, Nana saling bertatapan dengan rekan-rekan satu timnya.
"Eh, kenapa telepon Isyana yang mengangkat laki-laki?! Suaranya juga aneh, agak serak dan dalam, mirip Pak Darian."