Isyana menghapus air matanya, tersenyum manis. "Sangat suka, ini benar-benar kamar impianku, terima kasih Pak Darian."Pak Darian menahan napas sejenak, menundukkan mata hitamnya, menatap wajah Isyana yang bersemangat dan cerah, lalu berkata dengan suara dalam, "Aku meminta William untuk memanggil desainer agar menatanya. Memang agak terburu-buru, tapi yang penting kamu suka.""Suka sekali.""Istirahat yang cukup.""Mm-hmm."Nada percakapan di antara keduanya terasa kaku dan serius, seperti atasan menasihati bawahan.Hari ini terjadi konflik seperti itu, Darian tidak meminta Isyana menemaninya, melainkan memberinya kebebasan.Setelah mengucapkan selamat malam kepada Darian, Isyana menutup pintu dan memulai kesenangannya sendiri, mandi dan membersihkan diri.Setelah mandi, Isyana mengenakan piyama baru, lalu duduk di tepi tempat tidur sekitar sepuluh menit.Seperti sebuah patung, dia menatap lemari yang penuh dengan pakaian sambil tersenyum, sambil menangis, seakan ingin mengalirkan sem
Read more