"Isyana, jaga bicaramu. Ayahmu juga melakukan itu supaya nanti kamu punya suami yang baik, semua itu demi kebaikanmu." Suara Tarina lembut, tetapi kata-katanya sedikit menyalahkan Isyana.Isyana menatap ibunya yang matanya merah dan bengkak karena menangis, sepertinya sudah lama menangis.Meskipun keadaannya seperti ini, ibunya masih bersikap sebagai penengah, membuat Isyana sangat lelah hati.Dia pun menutup mata, menarik napas panjang dengan sekuat tenaga. "Mahar 600 juta, kenapa tidak suruh putrimu sendiri yang menikah?""Ayah, aku tidak mau menikah dengan orang bodoh itu. Kakak, selagi masih muda, ambil saja mahar lebih banyak lalu setujui. Kalau tunggu sampai umurmu tiga puluh, nanti tidak ada yang mau."Nayara duduk di sofa menonton semua ini, membakar-bakar, dengan senyum penuh kepuasan yang membuat Isyana makin marah.Saat itu, hati Isyana makin dingin. Dia menatap ibunya. "Bu, Ibu juga berpikir begitu, ya?"Melihat ibunya menghindari pandangannya, baru dia menyadari bahwa diri
Read more