"Sudah sampai, Pak," kata Andy sambil melirik ke arahnya melalui kaca spion.Mobil itu sudah cukup lama terparkir di depan sekolah Jevan, tempat tujuan mereka. Namun, Dimas belum juga bergerak dari tempat duduknya, hanya menatap gerbang sekolah yang masih tertutup rapat."Sepertinya Tuan Jevan belum pulang. Jadwal pulangnya sekitar 20 menit lagi," tambah Alvin, memecah keheningan yang menyelimuti sejak mereka tiba.Dimas tidak mengatakan sepatah kata pun. Sikapnya dipenuhi keraguan, sangat berbeda dari pria tenang yang meninggalkan apartemen tadi pagi."Aku tahu," jawab Dimas singkat. Suaranya rendah, nyaris terdengar bimbang. "Hanya saja ... tiba-tiba aku takut nggak bisa mengendalikan diriku sendiri."Alvin memahami ketakutan itu. Dia menenangkan, "Aku yakin akan ada saat yang tepat untuk memberi tahu Tuan Jevan tentang siapa Bapak sebenarnya. Ketika saat itu tiba, aku yakin dia akan mengerti kenapa Bapak nggak bisa mengatakannya sejak awal.""Semoga saja kamu benar," gumam Dimas sam
閱讀更多