Dadanya terasa sesak, sementara penyesalan menusuk tajam seperti duri. Jika waktu bisa diputar kembali, dia tidak akan pernah melepaskannya. Dia tidak akan pernah menyingkirkan Anisa begitu saja, tidak akan membiarkannya hancur di bawah bayang-bayang obsesinya terhadap wanita lain.Namun, waktu tidak bisa kembali. Yang tersisa sekarang hanyalah kenyataan pahit. Dialah yang menggali jurang ini sendiri.Dimas menarik napas panjang, lalu memejamkan mata sejenak. Dia akhirnya menyadari, mungkin memang beginilah takdirnya. Mungkin dia harus menerima bahwa Anisa bukan miliknya lagi.Anehnya, di balik rasa sakit itu, ada secercah kelegaan. Karena dia tahu sekarang Anisa memiliki seseorang yang melihat betapa berharganya dirinya, seseorang yang baik seperti Kelvin.Seorang pria yang mampu melindunginya, menyayanginya sepenuh hati, tanpa pernah membandingkan atau meremehkannya. Itu jauh lebih baik. Jauh lebih baik daripada apa yang pernah dia alami bersamanya, dengan pria yang selama ini hanya
Mehr lesen