Di dalam kabin mobil yang kedap suara, ketegangan terasa begitu padat hingga seolah bisa diiris dengan pisau. Jolina meremas jemarinya yang dingin, matanya tak lepas dari layar ponsel yang masih menampilkan video ibunya yang terikat dengan bom waktu. Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu tahun. Napasnya pendek-pendek, dan rasa mual yang sempat hilang kini kembali menyerang, diperparah oleh kecemasan yang luar biasa. "Felix, kita tidak punya banyak waktu," bisik Jolina parau. "Bagaimana jika dia benar-benar menekan tombol itu? Bagaimana jika—" "Diam sejenak, Jolina. Aku sedang berpikir," potong Felix tanpa menoleh. Matanya menatap lurus ke depan, namun otaknya bekerja dengan kecepatan luar biasa, menimbang setiap risiko, menghitung setiap sudut buta, dan memetakan denah rumah Roberson Guilt yang sudah ia hafal di luar kepala. Setelah beberapa menit yang menyiksa, Felix akhirnya memutar kemudi dengan tenang. Ia menepika
Last Updated : 2026-01-11 Read more