Mag-log inBagi ayahnya, Jolina Roberson hanyalah koin taruhan untuk melunasi hutang judi. Namun bagi Felix Wesley, Jolina adalah mangsa yang sudah lama ia incar untuk sebuah balas dendam yang manis. Hanya dalam semalam, Jolina resmi menjadi milik sang penguasa bawah tanah yang paling kejam. Felix posesif, agresif, dan tidak mengenal kata "tidak". Di balik kemewahan mansion yang melindunginya, Jolina menyadari bahwa ia bukan sekadar istri, melainkan tawanan obsesi. Saat musuh mulai mengepung dan rahasia masa lalu terkuak, Jolina harus memilih. Lari dari neraka yang diciptakan Felix, atau tetap tinggal dalam dekapan maut sang Mafia yang perlahan mulai mencuri hatinya. "Kau adalah milikku, Jolina. Di ranjangku, atau di liang lahatku."
view moreMansion Wesley malam itu terasa seperti sebuah peti mati yang megah. Sunyi, namun mencekam. Felix duduk di ruang kerjanya yang gelap, hanya diterangi oleh pendar redup dari layar monitor yang menampilkan data transaksi keuangan yang diberikan oleh intel rahasianya. Jemarinya mengetuk meja kayu mahoni itu dengan irama yang konstan, mencerminkan otaknya yang sedang bekerja keras membedah setiap kemungkinan. Uang dari Benharg. Tiket satu arah. Dan sikap angkuh yang mulai muncul. Felix menarik napas dalam. Sebagai seorang Don, insting pertamanya adalah menyeret Vico ke gudang bawah tanah dan menyiksanya sampai mengaku. Namun, Felix yang sekarang bukan lagi Felix yang hanya mengandalkan otot. Ada Jolina di lantai atas. Ada nyawa bayi yang harus ia lindungi. Jika ia bertindak gegabah sekarang, dan ternyata Vico sudah memasang perangkap di seluruh mansion, ia bisa kehilangan segalanya dalam sekejap. Pintu ruang kerja diketuk dengan keras, bukan ketukan sopan seperti biasanya. Vico
Satu minggu telah berlalu sejak insiden di gala mewah itu, namun suasana di mansion Wesley tidak kunjung mencair. Bagi orang awam, mansion itu tampak seperti benteng yang tak tertembus dengan penjagaan yang sempurna. Namun bagi Felix, setiap sudut rumahnya kini terasa seperti sarang ular.Anehnya, Oliver Benharg seolah hilang ditelan bumi. Tidak ada serangan balasan, tidak ada teror pesan singkat, bahkan tidak ada pergerakan dari anak buah Oliver di perbatasan wilayah. Felix tahu betul karakter Oliver, pria itu bukan tipe orang yang akan menyerah setelah dipukul hingga berdarah. Oliver sedang menunggu. Ia sedang menyiapkan sesuatu yang besar, menunggu saat di mana Felix benar-benar merasa aman dan menurunkan pertahanannya.Dan yang paling membuat Felix tidak tenang adalah Vico. Selama satu minggu ini, tangan kanannya itu bekerja dengan sangat efisien, hampir terlalu sempurna. Vico tetap menunjukkan loyalitas tanpa cela, mengurus keamanan Jolina dengan ketat, dan bersikap seolah tida
Mansion Wesley berdiri angkuh di bawah siraman cahaya bulan, tampak tenang namun menyimpan ribuan rahasia di balik dinding marmernya. Suara deru mesin SUV Felix perlahan mati, digantikan oleh kesunyian malam yang mencekam. Felix segera turun, ia tidak membiarkan Jolina menyentuh aspal. Dengan gerakan protektif yang begitu lembut, ia menggendong istrinya masuk ke dalam rumah. Jolina tidak memprotes. Kelelahan fisik dan trauma dari insiden di gala tadi benar-benar menguras energinya. Ia hanya menyandarkan kepala di dada Felix, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi satu-satunya pelabuhannya. Langkah kaki Felix menggema di koridor yang sunyi. Namun, meski fokusnya tertuju pada Jolina, mata elangnya tidak pernah berhenti memindai sekeliling. Felix adalah pria yang tumbuh dalam dunia di mana dinding pun bisa memiliki telinga. Itulah sebabnya, ia memasang alat penyadap rahasia di titik-titik yang bahkan tidak diketahui oleh tim keamanannya sendiri. Saat melewati pilar besar deka
Koridor itu dipenuhi aroma kematian yang tertunda. Felix berdiri tegak, moncong pistolnya sudah menempel di dahi Oliver yang masih tersungkur. Matanya tidak berkedip, jarinya sudah menegang di atas pelatuk, siap untuk membuat dinding koridor itu berwarna merah dengan isi kepala pria yang paling ia benci. "Katakan selamat tinggal pada dunia kotor ini, Oliver," desis Felix dingin. "Felix, berhenti!" sebuah suara berat menggema di koridor. William Benharg muncul dengan napas tersengal. Pria itu, kepala keluarga Benharg, segera berdiri di antara pistol Felix dan kepala anak bungsunga. Wajahnya pucat pasi, namun ia mencoba mempertahankan martabatnya. "Felix, aku mohon padamu. Jangan lakukan ini di sini. Jangan di gala ini," William memohon dengan tangan terbuka."Aku tahu adikmu adalah sampah, aku tahu dia melakukan kesalahan fatal. Tapi tolong, ampuni dia malam ini demi hubungan kekeluargaan kita. Aku akan menghukumnya sendiri."
Mansion Wesley terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang sunyi. Felix, sang sutradara, kini mengamati setiap detail dengan ketelitian yang hampir gila. Matanya tak pernah lepas dari layar CCTV di ruang kerjanya, terutama saat siluet Vico muncul. Pagi itu, di beranda belakang, Felix memanggil V
Pagi itu, kedamaian yang baru saja dirasakan Jolina di pelukan Felix seolah menguap begitu saja saat ponselnya bergetar di atas nakas. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal, nomor yang seharusnya sudah ia blokir dari hidupnya selamanya. “Jolina, putriku yang cantik. Aku tahu kau sekar
Kesunyian di dalam ruang rahasia itu terasa begitu menyesakkan. Felix duduk di lantai yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding besi, sementara Jolina duduk di hadapannya dengan tatapan penuh tanya. Cahaya lampu darurat yang remang-remang memperlihatkan wajah Felix yang t
Langit di atas ibu kota Dunceon pagi itu tampak berwarna kelabu mutiara, membiarkan cahaya matahari yang pucat masuk menembus celah gorden kamar utama mansion Wesley. Di dalam sana, waktu seolah berhenti berputar. Bau parfum maskulin Felix bercampur dengan aroma lembut vanilla dari kuli
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu