LOGINBagi ayahnya, Jolina Roberson hanyalah koin taruhan untuk melunasi hutang judi. Namun bagi Felix Wesley, Jolina adalah mangsa yang sudah lama ia incar untuk sebuah balas dendam yang manis. Hanya dalam semalam, Jolina resmi menjadi milik sang penguasa bawah tanah yang paling kejam. Felix posesif, agresif, dan tidak mengenal kata "tidak". Di balik kemewahan mansion yang melindunginya, Jolina menyadari bahwa ia bukan sekadar istri, melainkan tawanan obsesi. Saat musuh mulai mengepung dan rahasia masa lalu terkuak, Jolina harus memilih. Lari dari neraka yang diciptakan Felix, atau tetap tinggal dalam dekapan maut sang Mafia yang perlahan mulai mencuri hatinya. "Kau adalah milikku, Jolina. Di ranjangku, atau di liang lahatku."
View MoreLantai marmer dingin itu terasa seperti es yang menusuk kulit Jolina saat tubuhnya menghantam permukaan keras tersebut. Rasa sakit menjalar dari lutut hingga ke pinggangnya, namun rasa nyeri itu tak sebanding dengan penghinaan yang baru saja ia terima. Di belakangnya, deru napas berat dan bau alkohol yang menyengat menandakan kehadiran pria yang seharusnya ia panggil ‘Ayah’.
"Lepaskan! Kumohon, Ayah... jangan lakukan ini!" jerit Jolina, suaranya parau karena isak tangis yang tertahan sejak mereka meninggalkan rumah. Cengkeraman tangan kasar ayahnya di lengan Jolina tidak mengendur sedikit pun. Malah, pria itu menyeretnya lebih dalam ke tengah ruangan luas yang didominasi oleh perabotan kayu gelap dan aroma cerutu mahal. Jolina meronta, kakinya menendang udara, mencoba mencari pegangan pada apa pun, namun ia hanyalah seekor anak domba yang diseret ke kandang serigala. "Diam kau, anak tidak berguna!" bentak ayahnya, suaranya menggema di ruangan sunyi itu. "Setidaknya sekali dalam hidupmu, kau bisa berguna untuk membayar kesalahan-kesalahanku!" Dengan satu sentakan kuat, ayahnya melemparkan Jolina ke depan. Tubuh mungil itu tersungkur, jatuh tepat di depan sepasang sepatu pantofel hitam yang mengkilap hingga Jolina bisa melihat pantulan wajahnya yang berantakan di sana. "Ini dia, Tuan Felix," suara ayah Jolina tiba-tiba berubah, penuh nada memelas sekaligus menjilat. "Seperti janji saya. Dia masih murni, cantik, dan belum tersentuh. Dia pelunas hutang saya. Anggap saja bunga dan pokok hutang saya lunas hari ini." Jolina gemetar hebat. Ia tidak berani mendongak. Di depannya, berdiri sosok yang selama ini hanya ia dengar dalam bisikan ketakutan di sudut-sudut kota. Felix, Sang Don yang tidak mengenal kata ampun. Keheningan yang mencekik menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Kemudian, terdengar suara gesekan kain dan gerakan halus. Felix berjongkok di hadapannya. Jolina masih menunduk, air matanya menetes membasahi lantai marmer. Namun, sebuah tangan yang besar dan kuat tiba-tiba mencengkeram dagunya dengan tegas—tidak kasar, tapi penuh otoritas yang tak terbantahkan. Felix memaksa kepala Jolina terdongak ke atas, memaksanya menatap langsung ke dalam sepasang mata gelap yang sedingin liang lahat. Mata itu tidak menunjukkan empati. Hanya ada penilaian dingin, seolah ia sedang memeriksa kualitas sebuah barang dagangan. "Lihat aku, Jolina!" suara Felix rendah, berat, dan mengirimkan getaran aneh yang mengerikan ke sepanjang tulang belakang Jolina. Felix memiringkan wajah Jolina ke kiri dan ke kanan, mengamati setiap inci fitur wajahnya yang sempurna meski sedang sembab. Ibu jarinya mengusap bibir bawah Jolina yang gemetar. "Barang yang bagus," bisik Felix pendek, senyum tipis yang mematikan tersungkur di sudut bibirnya. "Bahkan lebih bagus dari yang digambarkan di atas kertas." Felix berdiri, lalu melirik sekilas ke arah ayah Jolina yang masih berdiri dengan wajah penuh harap di ambang pintu. "Hutangmu dianggap lunas. Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan memutuskan bahwa nyawamu lebih berharga sebagai tambahan bunga." Tanpa menoleh lagi pada putrinya yang menangis tersedu-sedu, pria itu berbalik dan lari secepat mungkin, meninggalkan Jolina sendirian di dalam sarang monster. "Tidak... Ayah! Jangan tinggalkan aku!" Jolina mencoba bangkit, namun sebelum ia sempat berlari, Felix sudah melingkarkan lengannya di pinggang Jolina. Dengan satu gerakan lancar yang menunjukkan kekuatan fisik yang luar biasa, Felix mengangkat Jolina, memangkunya sejenak sebelum mendudukkannya dengan paksa di atas meja kerja kayu mahogani yang besar. Jolina terperangkap di antara kedua lengan kokoh Felix yang kini bertumpu di sisi kanan dan kiri tubuhnya. "Tolong... lepaskan aku, Tuan," bisik Jolina di sela isaknya. "Aku tidak tahu apa-apa tentang hutang itu. Itu bukan urusanku. Aku punya kehidupan, aku punya impian... Tolong, biarkan aku pergi." Felix memajukan wajahnya, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Aroma parfum sandalwood dan maskulin yang kuat mengepung indra penciuman Jolina. "Dunia tidak bekerja seperti itu, Sayang," Felix berbisik tepat di depan bibirnya. "Ayahmu sudah menandatangani kontraknya. Namamu tertulis di sana sebagai jaminan. Dan dalam duniaku, kontrak yang sudah ditandatangani dengan darah tidak bisa dibatalkan hanya dengan air mata." Tangan Felix mulai bergerak. Jemarinya yang panjang merayap dari bahu Jolina, turun ke leher, dan mulai menelusuri garis kerah pakaiannya. Jolina memejamkan mata erat-erat, tubuhnya kaku seperti batu. Ia bisa merasakan panas dari tubuh Felix yang menekannya, membuatnya merasa sesak sekaligus terancam. "Kau milikku sekarang," gumam Felix, suaranya kini terdengar lebih serak. "Seluruhnya. Mulai dari napasmu hingga..." Tangan Felix baru saja hendak masuk ke balik tengkuk Jolina untuk menariknya lebih dekat, saat sebuah suara melengking memecah ketegangan yang hampir meledak itu. Drrrtt... Drrrtt... Drrrtt... Ponsel Felix yang tergeletak di atas meja, tepat di samping paha Jolina, bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nama yang membuat otot-otot di lengan Felix yang tadinya rileks menjadi tegang seketika. Felix terdiam. Matanya beralih dari bibir Jolina ke layar ponsel tersebut. Ekspresinya yang tadinya penuh gairah predator berubah menjadi dingin dan waspada dalam sekejap mata. Ia tidak langsung mengangkatnya. Ia menatap Jolina sekali lagi, sebuah tatapan yang sulit diartikan—antara rasa haus yang belum tuntas dan kemarahan yang tertahan. Felix menjauhkan tubuhnya, memberi ruang bagi Jolina untuk bernapas, meski ia masih tetap berada dalam jangkauan Sang Don. Felix menyambar ponselnya, menggeser layar dengan kasar, dan menempelkannya ke telinga. "Bicara," perintahnya singkat. Jolina memperhatikan rahang Felix yang mengeras saat mendengarkan suara di seberang sana. Mata pria itu berkilat tajam, dan tiba-tiba, Felix menoleh ke arah jendela besar di belakang mejanya, lalu kembali menatap Jolina dengan intensitas yang membuat jantung Jolina hampir copot. "Apa?" Felix menggeram. "Kapan? Pastikan tidak ada yang keluar hidup-hidup." Felix mematikan panggilan itu tanpa salam. Ia terdiam sejenak, menyimpan ponselnya kembali ke saku jasnya. Ruangan itu kembali hening, namun suasananya kini berbeda. Ada bahaya lain yang sedang mengintai, sesuatu yang lebih besar dari sekadar transaksi manusia di antara mereka. Felix melangkah mendekat lagi, namun kali ini ia tidak menyentuh Jolina dengan lembut. Ia mencengkeram bahu Jolina dan menariknya turun dari meja dengan sentakan cepat. "Sepertinya rencana malam madu kita harus tertunda, Jolina," ucap Felix dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri. "Tapi jangan senang dulu. Karena apa yang akan terjadi selanjutnya... mungkin akan membuatmu berharap kau tetap berada di atas meja ini bersamaku." Felix menarik tangan Jolina, menyeretnya menuju pintu rahasia di balik rak buku. "Ada yang datang untuk menjemputmu," Felix berbisik di telinganya saat mereka memasuki lorong gelap. "Dan mereka bukan datang untuk menyelamatkanmu."Satu minggu telah berlalu sejak insiden di gala mewah itu, namun suasana di mansion Wesley tidak kunjung mencair. Bagi orang awam, mansion itu tampak seperti benteng yang tak tertembus dengan penjagaan yang sempurna. Namun bagi Felix, setiap sudut rumahnya kini terasa seperti sarang ular.Anehnya, Oliver Benharg seolah hilang ditelan bumi. Tidak ada serangan balasan, tidak ada teror pesan singkat, bahkan tidak ada pergerakan dari anak buah Oliver di perbatasan wilayah. Felix tahu betul karakter Oliver, pria itu bukan tipe orang yang akan menyerah setelah dipukul hingga berdarah. Oliver sedang menunggu. Ia sedang menyiapkan sesuatu yang besar, menunggu saat di mana Felix benar-benar merasa aman dan menurunkan pertahanannya.Dan yang paling membuat Felix tidak tenang adalah Vico. Selama satu minggu ini, tangan kanannya itu bekerja dengan sangat efisien, hampir terlalu sempurna. Vico tetap menunjukkan loyalitas tanpa cela, mengurus keamanan Jolina dengan ketat, dan bersikap seolah tida
Mansion Wesley berdiri angkuh di bawah siraman cahaya bulan, tampak tenang namun menyimpan ribuan rahasia di balik dinding marmernya. Suara deru mesin SUV Felix perlahan mati, digantikan oleh kesunyian malam yang mencekam. Felix segera turun, ia tidak membiarkan Jolina menyentuh aspal. Dengan gerakan protektif yang begitu lembut, ia menggendong istrinya masuk ke dalam rumah. Jolina tidak memprotes. Kelelahan fisik dan trauma dari insiden di gala tadi benar-benar menguras energinya. Ia hanya menyandarkan kepala di dada Felix, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi satu-satunya pelabuhannya. Langkah kaki Felix menggema di koridor yang sunyi. Namun, meski fokusnya tertuju pada Jolina, mata elangnya tidak pernah berhenti memindai sekeliling. Felix adalah pria yang tumbuh dalam dunia di mana dinding pun bisa memiliki telinga. Itulah sebabnya, ia memasang alat penyadap rahasia di titik-titik yang bahkan tidak diketahui oleh tim keamanannya sendiri. Saat melewati pilar besar deka
Koridor itu dipenuhi aroma kematian yang tertunda. Felix berdiri tegak, moncong pistolnya sudah menempel di dahi Oliver yang masih tersungkur. Matanya tidak berkedip, jarinya sudah menegang di atas pelatuk, siap untuk membuat dinding koridor itu berwarna merah dengan isi kepala pria yang paling ia benci. "Katakan selamat tinggal pada dunia kotor ini, Oliver," desis Felix dingin. "Felix, berhenti!" sebuah suara berat menggema di koridor. William Benharg muncul dengan napas tersengal. Pria itu, kepala keluarga Benharg, segera berdiri di antara pistol Felix dan kepala anak bungsunga. Wajahnya pucat pasi, namun ia mencoba mempertahankan martabatnya. "Felix, aku mohon padamu. Jangan lakukan ini di sini. Jangan di gala ini," William memohon dengan tangan terbuka."Aku tahu adikmu adalah sampah, aku tahu dia melakukan kesalahan fatal. Tapi tolong, ampuni dia malam ini demi hubungan kekeluargaan kita. Aku akan menghukumnya sendiri."
Kesunyian di dalam ruang rahasia itu terasa begitu menyesakkan. Felix duduk di lantai yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding besi, sementara Jolina duduk di hadapannya dengan tatapan penuh tanya. Cahaya lampu darurat yang remang-remang memperlihatkan wajah Felix yang tampak sangat kalut. Berkali-kali pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, membuang napas berat seolah-olah paru-parunya kekurangan oksigen. Kejadian "kue ulang tahun" tadi benar-benar menghancurkan harga diri Felix sebagai seorang Don. "Felix? Apa yang sebenarnya terjadi di luar?" tanya Jolina lembut, mendekat ke arah suaminya. Tanpa sepatah kata pun, Felix menarik Jolina ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya begitu erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jolina. Bahunya sedikit bergetar. "Maafkan aku... aku hampir saja membuat kita semua dalam bahaya karena kebodohanku," bisik Felix parau. "Ada apa?"
Udara di dalam mansion Wesley terasa lebih berat daripada biasanya saat Jolina melangkah masuk melalui pintu utama. Ada kesunyian yang mencekam, seolah-olah dinding-dinding besar itu sedang menahan napas, menunggu sebuah ledakan yang tak terelakkan. Jolina mencoba mengatur napasnya yang tidak ber
Pagi itu, kedamaian yang baru saja dirasakan Jolina di pelukan Felix seolah menguap begitu saja saat ponselnya bergetar di atas nakas. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat ia kenal, nomor yang seharusnya sudah ia blokir dari hidupnya selamanya. “Jolina, putriku yang cantik. Aku tahu kau sekar
Langit di atas ibu kota Dunceon pagi itu tampak berwarna kelabu mutiara, membiarkan cahaya matahari yang pucat masuk menembus celah gorden kamar utama mansion Wesley. Di dalam sana, waktu seolah berhenti berputar. Bau parfum maskulin Felix bercampur dengan aroma lembut vanilla dari kuli
Mansion Wesley terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang sunyi. Felix, sang sutradara, kini mengamati setiap detail dengan ketelitian yang hampir gila. Matanya tak pernah lepas dari layar CCTV di ruang kerjanya, terutama saat siluet Vico muncul. Pagi itu, di beranda belakang, Felix memanggil V
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews