LOGINBagi ayahnya, Jolina Roberson hanyalah koin taruhan untuk melunasi hutang judi. Namun bagi Felix Wesley, Jolina adalah mangsa yang sudah lama ia incar untuk sebuah balas dendam yang manis. Hanya dalam semalam, Jolina resmi menjadi milik sang penguasa bawah tanah yang paling kejam. Felix posesif, agresif, dan tidak mengenal kata "tidak". Di balik kemewahan mansion yang melindunginya, Jolina menyadari bahwa ia bukan sekadar istri, melainkan tawanan obsesi. Saat musuh mulai mengepung dan rahasia masa lalu terkuak, Jolina harus memilih. Lari dari neraka yang diciptakan Felix, atau tetap tinggal dalam dekapan maut sang Mafia yang perlahan mulai mencuri hatinya. "Kau adalah milikku, Jolina. Di ranjangku, atau di liang lahatku."
View MoreKoridor itu dipenuhi aroma kematian yang tertunda. Felix berdiri tegak, moncong pistolnya sudah menempel di dahi Oliver yang masih tersungkur. Matanya tidak berkedip, jarinya sudah menegang di atas pelatuk, siap untuk membuat dinding koridor itu berwarna merah dengan isi kepala pria yang paling ia benci. "Katakan selamat tinggal pada dunia kotor ini, Oliver," desis Felix dingin. "Felix, berhenti!" sebuah suara berat menggema di koridor. William Benharg muncul dengan napas tersengal. Pria itu, kepala keluarga Benharg, segera berdiri di antara pistol Felix dan kepala anak bungsunga. Wajahnya pucat pasi, namun ia mencoba mempertahankan martabatnya. "Felix, aku mohon padamu. Jangan lakukan ini di sini. Jangan di gala ini," William memohon dengan tangan terbuka."Aku tahu adikmu adalah sampah, aku tahu dia melakukan kesalahan fatal. Tapi tolong, ampuni dia malam ini demi hubungan kekeluargaan kita. Aku akan menghukumnya sendiri."
Kesunyian di dalam ruang rahasia itu terasa begitu menyesakkan. Felix duduk di lantai yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding besi, sementara Jolina duduk di hadapannya dengan tatapan penuh tanya. Cahaya lampu darurat yang remang-remang memperlihatkan wajah Felix yang tampak sangat kalut. Berkali-kali pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, membuang napas berat seolah-olah paru-parunya kekurangan oksigen. Kejadian "kue ulang tahun" tadi benar-benar menghancurkan harga diri Felix sebagai seorang Don. "Felix? Apa yang sebenarnya terjadi di luar?" tanya Jolina lembut, mendekat ke arah suaminya. Tanpa sepatah kata pun, Felix menarik Jolina ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya begitu erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jolina. Bahunya sedikit bergetar. "Maafkan aku... aku hampir saja membuat kita semua dalam bahaya karena kebodohanku," bisik Felix parau. "Ada apa?"
Langit di atas ibu kota Dunceon pagi itu tampak berwarna kelabu mutiara, membiarkan cahaya matahari yang pucat masuk menembus celah gorden kamar utama mansion Wesley. Di dalam sana, waktu seolah berhenti berputar. Bau parfum maskulin Felix bercampur dengan aroma lembut vanilla dari kulit Jolina, menciptakan gelembung kedamaian yang sangat rapuh.Felix masih bergumul mesra di balik selimut sutra, mendekap Jolina seolah wanita itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya di dunia yang fana ini. Tangannya yang besar dan kasar merayap masuk ke balik piyama Jolina, mengelus perut rata istrinya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah kulit itu terbuat dari porselen yang bisa retak kapan saja."Aku masih tidak percaya," bisik Felix, suaranya serak khas orang bangun tidur. "Ada kehidupan di sini. Anakku."Jolina tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada bidang Felix, mendengarkan detak jantung suaminya yang berpacu. "Aku juga, Felix. Tap
Mansion Wesley terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang sunyi. Felix, sang sutradara, kini mengamati setiap detail dengan ketelitian yang hampir gila. Matanya tak pernah lepas dari layar CCTV di ruang kerjanya, terutama saat siluet Vico muncul. Pagi itu, di beranda belakang, Felix memanggil Vico. Ia duduk santai sambil menyesap kopi hitamnya, namun matanya setajam belati. "Vico," panggil Felix tanpa menoleh. Vico mendekat, berdiri tegak dengan tangan di belakang punggung. "Iya, Tuan." "Dua hari ini kau tampak sibuk. Apa ada masalah dengan pengiriman di pelabuhan?" Felix bertanya dengan nada yang terdengar seperti obrolan ringan, namun ia memperhatikan pergerakan tangan Vico. "Semua terkendali, Tuan. Hanya beberapa kendala birokrasi kecil," jawab Vico tenang. "Begitukah?" Felix menoleh, menatap mata tangan kanannya itu. "Lalu kenapa ponselmu terus berdering bahkan di jam-jam saat kau seharusnya beristirahat? Siapa yang begitu gigih menghubungimu?" Vico terdiam sesaat. Ekspr
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews