Home / Mafia / Dekapan Tuan Mafia / 16. Sebuah Umpan

Share

16. Sebuah Umpan

Author: Marfia Aphro
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-11 19:00:00

Di dalam kabin mobil yang kedap suara, ketegangan terasa begitu padat hingga seolah bisa diiris dengan pisau. Jolina meremas jemarinya yang dingin, matanya tak lepas dari layar ponsel yang masih menampilkan video ibunya yang terikat dengan bom waktu.

Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu tahun. Napasnya pendek-pendek, dan rasa mual yang sempat hilang kini kembali menyerang, diperparah oleh kecemasan yang luar biasa.

"Felix, kita tidak punya banyak waktu," bis
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dekapan Tuan Mafia   31. Bayang-bayang di Balik Loyalitas

    Satu minggu telah berlalu sejak insiden di gala mewah itu, namun suasana di mansion Wesley tidak kunjung mencair. Bagi orang awam, mansion itu tampak seperti benteng yang tak tertembus dengan penjagaan yang sempurna. Namun bagi Felix, setiap sudut rumahnya kini terasa seperti sarang ular.Anehnya, Oliver Benharg seolah hilang ditelan bumi. Tidak ada serangan balasan, tidak ada teror pesan singkat, bahkan tidak ada pergerakan dari anak buah Oliver di perbatasan wilayah. Felix tahu betul karakter Oliver, pria itu bukan tipe orang yang akan menyerah setelah dipukul hingga berdarah. Oliver sedang menunggu. Ia sedang menyiapkan sesuatu yang besar, menunggu saat di mana Felix benar-benar merasa aman dan menurunkan pertahanannya.Dan yang paling membuat Felix tidak tenang adalah Vico. Selama satu minggu ini, tangan kanannya itu bekerja dengan sangat efisien, hampir terlalu sempurna. Vico tetap menunjukkan loyalitas tanpa cela, mengurus keamanan Jolina dengan ketat, dan bersikap seolah tida

  • Dekapan Tuan Mafia   30. Jejak yang Tertinggal

    Mansion Wesley berdiri angkuh di bawah siraman cahaya bulan, tampak tenang namun menyimpan ribuan rahasia di balik dinding marmernya. Suara deru mesin SUV Felix perlahan mati, digantikan oleh kesunyian malam yang mencekam. Felix segera turun, ia tidak membiarkan Jolina menyentuh aspal. Dengan gerakan protektif yang begitu lembut, ia menggendong istrinya masuk ke dalam rumah. Jolina tidak memprotes. Kelelahan fisik dan trauma dari insiden di gala tadi benar-benar menguras energinya. Ia hanya menyandarkan kepala di dada Felix, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi satu-satunya pelabuhannya. Langkah kaki Felix menggema di koridor yang sunyi. Namun, meski fokusnya tertuju pada Jolina, mata elangnya tidak pernah berhenti memindai sekeliling. Felix adalah pria yang tumbuh dalam dunia di mana dinding pun bisa memiliki telinga. Itulah sebabnya, ia memasang alat penyadap rahasia di titik-titik yang bahkan tidak diketahui oleh tim keamanannya sendiri. Saat melewati pilar besar deka

  • Dekapan Tuan Mafia   29. Bisikan Sang Pengkhianat

    Koridor itu dipenuhi aroma kematian yang tertunda. Felix berdiri tegak, moncong pistolnya sudah menempel di dahi Oliver yang masih tersungkur. Matanya tidak berkedip, jarinya sudah menegang di atas pelatuk, siap untuk membuat dinding koridor itu berwarna merah dengan isi kepala pria yang paling ia benci. "Katakan selamat tinggal pada dunia kotor ini, Oliver," desis Felix dingin. "Felix, berhenti!" sebuah suara berat menggema di koridor. William Benharg muncul dengan napas tersengal. Pria itu, kepala keluarga Benharg, segera berdiri di antara pistol Felix dan kepala anak bungsunga. Wajahnya pucat pasi, namun ia mencoba mempertahankan martabatnya. "Felix, aku mohon padamu. Jangan lakukan ini di sini. Jangan di gala ini," William memohon dengan tangan terbuka."Aku tahu adikmu adalah sampah, aku tahu dia melakukan kesalahan fatal. Tapi tolong, ampuni dia malam ini demi hubungan kekeluargaan kita. Aku akan menghukumnya sendiri."

  • Dekapan Tuan Mafia   28. Malam di Bawah Cahaya Crystal

    Kesunyian di dalam ruang rahasia itu terasa begitu menyesakkan. Felix duduk di lantai yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding besi, sementara Jolina duduk di hadapannya dengan tatapan penuh tanya. Cahaya lampu darurat yang remang-remang memperlihatkan wajah Felix yang tampak sangat kalut. Berkali-kali pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, membuang napas berat seolah-olah paru-parunya kekurangan oksigen. Kejadian "kue ulang tahun" tadi benar-benar menghancurkan harga diri Felix sebagai seorang Don. "Felix? Apa yang sebenarnya terjadi di luar?" tanya Jolina lembut, mendekat ke arah suaminya. Tanpa sepatah kata pun, Felix menarik Jolina ke dalam pelukannya. Ia memeluk istrinya begitu erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Jolina. Bahunya sedikit bergetar. "Maafkan aku... aku hampir saja membuat kita semua dalam bahaya karena kebodohanku," bisik Felix parau. "Ada apa?"

  • Dekapan Tuan Mafia   27. Kabut Paranoia

    Langit di atas ibu kota Dunceon pagi itu tampak berwarna kelabu mutiara, membiarkan cahaya matahari yang pucat masuk menembus celah gorden kamar utama mansion Wesley. Di dalam sana, waktu seolah berhenti berputar. Bau parfum maskulin Felix bercampur dengan aroma lembut vanilla dari kulit Jolina, menciptakan gelembung kedamaian yang sangat rapuh.Felix masih bergumul mesra di balik selimut sutra, mendekap Jolina seolah wanita itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya di dunia yang fana ini. Tangannya yang besar dan kasar merayap masuk ke balik piyama Jolina, mengelus perut rata istrinya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah kulit itu terbuat dari porselen yang bisa retak kapan saja."Aku masih tidak percaya," bisik Felix, suaranya serak khas orang bangun tidur. "Ada kehidupan di sini. Anakku."Jolina tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada bidang Felix, mendengarkan detak jantung suaminya yang berpacu. "Aku juga, Felix. Tap

  • Dekapan Tuan Mafia   26. Rahasia Dibalik Janji

    Mansion Wesley terasa seperti sebuah panggung sandiwara yang sunyi. Felix, sang sutradara, kini mengamati setiap detail dengan ketelitian yang hampir gila. Matanya tak pernah lepas dari layar CCTV di ruang kerjanya, terutama saat siluet Vico muncul. Pagi itu, di beranda belakang, Felix memanggil Vico. Ia duduk santai sambil menyesap kopi hitamnya, namun matanya setajam belati. "Vico," panggil Felix tanpa menoleh. Vico mendekat, berdiri tegak dengan tangan di belakang punggung. "Iya, Tuan." "Dua hari ini kau tampak sibuk. Apa ada masalah dengan pengiriman di pelabuhan?" Felix bertanya dengan nada yang terdengar seperti obrolan ringan, namun ia memperhatikan pergerakan tangan Vico. "Semua terkendali, Tuan. Hanya beberapa kendala birokrasi kecil," jawab Vico tenang. "Begitukah?" Felix menoleh, menatap mata tangan kanannya itu. "Lalu kenapa ponselmu terus berdering bahkan di jam-jam saat kau seharusnya beristirahat? Siapa yang begitu gigih menghubungimu?" Vico terdiam sesaat. Ekspr

  • Dekapan Tuan Mafia   17. Puing-puing Kepercayaan

    Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu setelah Roberson melontarkan tuduhannya. Jolina berdiri mematung, otaknya berputar cepat mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan ayahnya. Bertemu siapa? Malam itu? Ia tidak merasa bertemu dengan siapapun. Pikirannya berlarian

  • Dekapan Tuan Mafia   14. Sisa Badai Semalam

    Sinar matahari pagi yang pucat menyelinap masuk melalui celah-celah gorden sutra di kamar utama mansion Wesley. Cahaya itu jatuh di atas wajah Jolina, membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak. Untuk sesaat, ia merasa disorientasi. Ingatan tentang bentakan Felix, rasa mual di kamar

  • Dekapan Tuan Mafia   13. Janji Yang Rapuh

    Suasana di restoran mewah yang tadinya romantis seketika berubah menjadi medan perang yang sunyi namun mematikan. Genggaman tangan Felix pada pergelangan tangan Jolina tidak lagi hangat, itu adalah cengkeraman baja yang menuntut kejujuran. Sebelum Jolina sempat menyembunyikan

  • Dekapan Tuan Mafia   12. Di ambang Keraguan

    Kegelapan malam di dalam kamar itu mendadak terasa menyesakkan bagi Jolina. Setelah membaca pesan misterius yang diselipkan di bawah pintu balkon, jantungnya berpacu seirama dengan detak jarum jam di dinding. Kata-kata itu—Proyek Mawar Hitam—terasa seperti belati dingin yang menus

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status