登入Acha baru tersadar saat kursi di depannya kembali ditarik.
“Maaf ya, Nak,” ujar Bu Wiwi santai. Raut wajahnya kembali melembut, seolah tak sempat bersitegang dengan di telepon tadi. “Tadi itu putra Ibu yang nelepon. Sibuk kerja terus dia. Ibunya ulang tahun bisa-bisanya izin nggak mau datang.”Acha mengangguk kecil. “Oh .…”Nada suaranya cukup stabil, tetapi isi kepalanya justru sibuk bertanya-tanya. Sesibuk apa putra Bu Wiwi, bahkan di acara penting seperti itu beAcha sedikit terkejut mendengar pertanyaan ayahnya itu. Ia refleks menggigit bibir bawahnya, sementara jemarinya saling meremas di depan tubuh.Matanya sempat melirik Elvano yang masih berdiri di samping ibunya, sekadar memastikan ekspresi pria itu. Namun, Elvano tampak tenang, seolah tidak terganggu oleh ucapan Yudi.“Mas Elvano juga mau jenguk Ayah,” komentar Acha berusaha tenang. “Makanya, dia ikut, sekalian mengantarku ke sini.”“Siapa yang minta dijenguk?” sahut Yudi ketus. “Ayah nggak butuh dijenguk sama dia.”Acha terdiam, seolah langsung kehilangan kata-kata.“Kamu ini tebal muka sekali, Acha!” cecar Yudi.Acha lagi-lagi dibuat terkejut oleh ucapan ayahnya itu. “Ayah!” tegur Sukartini tegas, sontak menatap lurus kepada suaminya. “Jangan bicara begitu sama Acha. Dia datang jauh-jauh sampai ninggalin kerjaannya karena khawatir sama keadaan Ayah.”Yudi mendengus sinis. “Ibu selalu saja membelanya. Seharusnya mereka nggak usah datang sekalian!”Dada Acha terasa sesak menghimpit,
Acha menghentikan langkahnya tepat di depan ruang rawat ayahnya.Sejak tiba di rumah sakit bersama Elvano beberapa menit lalu, ia sudah berusaha meyakinkan diri untuk masuk. Namun, kini jemarinya justru mencengkeram tali tas dengan gelisah, sementara tatapannya terpaku pada pintu di hadapannya.Ia hanya perlu membukanya, tetapi entah mengapa, kakinya terasa begitu berat untuk melangkah.Bayangan kejadian beberapa waktu lalu kembali melintas di benaknya. Tamparan ayahnya seolah masih membekas di pipinya, begitu pula perkataan-perkataan menyakitkan yang hingga kini sulit ia lupakan.Acha menelan ludah.Bagaimana kalau ayahnya kembali marah? Bagaimana kalau kedatangannya justru membuat suasana semakin buruk?“Kenapa, Sayang?”Suara Elvano di sampingnya membuat Acha sedikit tersentak. Ia menoleh dan mendapati pria itu sedang memperhatikannya.Acha menggeleng kecil. “Nggak apa-apa.”Elvano melirik pintu di hadapan mereka, lalu kembali menatapnya. Seolah memahami apa yang sedang berkecamuk
Acha masih terdiam dengan ponsel menempel di telinga. Pikirannya seolah berhenti bekerja setelah mendengar kabar dari ibunya, hingga sebuah tangan tiba-tiba menyentuh bahunya.“Sayang, ada apa, hm?”Acha sedikit terkejut. Ia segera menoleh dan mendapati Elvano sudah berdiri di sampingnya entah sejak kepan, menatapnya dengan kening berkerut seolah ingin memastikan sesuatu.Acha perlahan menurunkan ponselnya, lalu menatap Elvano dengan wajah sendu.“Ayah keserempet motor, Mas,” ucapnya lirih. “Sekarang lagi di rumah sakit.”Elvano diam sejenak. Raut wajahnya berubah serius sebelum ia bertanya, “Kamu mau pulang?”Acha tak menjawab.Pandangannya justru jatuh pada ponsel di tangannya, sementara pikirannya tiba-tiba kembali pada kejadian beberapa waktu lalu. Saat ayahnya begitu marah hingga tega menamparnya setelah mengetahui kedekatannya dengan Elvano.Hubungannya dengan sang ayah memang belum membaik sejak kejadian itu. Apalagi, perkataan-perkataan menyakitkan yang dilontarkan ayahnya kal
Sambil menghela napas berat, Acha bangkit dari kursinya dan berjalan menuju ruang kerja Elvano. Hanya saja, tak tahu kenapa, begitu tiba di depan pintu, perasaannya mendadak tidak enak.Ia mendadak curiga kalau-kalau panggilan Elvano kali ini hanya akal-akalan pria itu. Namun, Acha tak ingin buru-buru menyimpulkan. Bagaimana kalau ternyata memang ada urusan penting?Acha mengetuk pintu dua kali.“Masuk.”Ia membuka pintu dan mendapati Elvano duduk di balik meja kerjanya. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung hingga siku. Jasnya tersampir di sandaran kursi, sementara beberapa dokumen terbuka di hadapannya.Acha melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya.“Katanya memanggil saya?”Elvano mengangkat wajah. Tatapannya langsung tertuju pada wanita yang baru saja masuk.“Kenapa jauh sekali?”Acha mengerjap, tak mengerti arah pembicaraan itu. “Apanya yang jauh?”“Mejamu.” Elvano mengangguk ke arah pintu. “Dari sini.”Acha menatapnya tak percaya. “Mas El, saya baru s
Setelah sarapan, Acha dan Elvano langsung berangkat ke kantor. Meski hubungan mereka sudah membaik, bukan berarti keduanya bisa bersikap sesuka hati di tempat kerja. Batas profesional tetap harus dijaga, apalagi mereka belum ingin hubungan pribadi itu menjadi bahan pembicaraan karyawan lain.Pagi itu, Acha sudah duduk di mejanya ketika Esther menggeser kursi mendekat, lalu menyodorkan lembar penilaian akhir magang yang harus diisi sebelum masa magangnya berakhir.Sejujurnya, Acha merasa waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru kemarin ia sengaja mengerjai Esther untuk memberinya sedikit pelajaran karena gadis itu terlalu sombong. Bahkan, saat itu Acha sempat enggan mendampinginya. Namun, karena Elvano yang menyuruhnya, ia mau tidak mau harus menjalankan tugas tersebut.Sekarang, Esther sudah hampir menyelesaikan masa magangnya di Alvarion Group.Acha sedang membalik dan membaca halaman terakhir ketika Esther tiba-tiba berkomentar, “Cincin Kakak bagus.”Kening Acha berkerut tipis. Ia m
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, jatuh tepat ke wajah Acha dan perlahan mengusik tidurnya.Masih setengah sadar, tangannya bergerak meraba sisi ranjang, tetapi kosong.Acha menggerakkan tangan sekali lagi, seolah berharap menemukan seseorang di sana. Namun, yang disentuhnya hanya seprai yang sudah tak lagi hangat.Keningnya berkerut tipis.“Mas El ke mana?” gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.Ia mengangkat tubuh perlahan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Tak ada tanda-tanda keberadaan Elvano.Setelah menghela napas kecil, Acha turun dari ranjang. Ia merapikan piyama putihnya yang sedikit berantakan, kemudian melangkah keluar kamar.Begitu pintu terbuka, aroma masakan langsung menyambutnya. Dari arah dapur, terdengar pula bunyi peralatan masak yang sesekali beradu.Acha mengernyit penasaran, lalu mengikuti suara itu. Tak butuh waktu lama sampai ia menemukan Elvano berdiri di depan kompor.Pria itu mengenakan kaus putih yang membalut tubuh k
Acha dan Elvano sama-sama tersentak saat suara Raka memecah ketegangan di antara mereka. Elvano melangkah mundur dengan perlahan. Wajahnya datar dan tenang, seakan kejadian tadi tidak berarti apa-apa untuknya. Sangat berkebalikan dengan Acha yang jantungnya berdegup kencang dan wajahnya yang tiba-
Hari itu, untungnya berakhir tanpa banyak drama. Namun, rasa lelah tetap mengendap di dada Acha, seperti beban yang tiada habisnya. Sejak tiba di kantor pukul 07.30 pagi hingga pulang menjelang 17.30, ia nyaris tak benar-benar berhenti bergerak. Selain jeda makan siang yang singkat, waktunya habi
Melihat Elvano akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja, Acha menarik napas kecil sebelum mengetuk pintu. “Masuk.”Suara Elvano terdengar datar seperti biasa.Acha melangkah masuk dan menghampiri meja kerja pria itu. Berkas yang sedari tadi ia pegang segera diletakkan di hadapan Elvano. “Pak, i
Cukup lama Acha menatap layar ponselnya setelah membaca email itu. Kalimat yang tertulis di sana terasa tak masuk di akalnya.Ia menjatuhkan tubuh ke sofa, bersandar lemas. Alih-alih bahagia, yang muncul pertama kali justru perasaan aneh. Harga dirinya seperti diinjak-injak saat interview tadi. Nam







